alexametrics
29.9 C
Bojonegoro
Tuesday, May 17, 2022

Dinilai Provokasi dan Menjatuhkan Nakes, 15 Akun Facebook Dilaporkan

Radar Tuban – Kematian Devid Erfiyanto, dokter RSUD dr R. Koesma Tuban yang didiagnosis Covid-19 mengundang komentar miring dari sejumlah warganet. Sebagian warganet mencaci unggahan kabar duka di media sosial (medsos) Facebook (FB) itu.

Mereka inilah yang kemarin (2/10) dilaporkan ke Satreskrim Polres Tuban oleh Persatuan Dokter Umum Indonesia (PDUI) dan Per satuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Tuban.

Komentar miring tersebut bermula dari unggahan Alfian Yuniarta, dokter IRD RSUD dr R. Koesma Tuban di grup FB yang mengingatkan pentingnya menjaga protokol kesehatan (prokes).

Unggahan tersebut disertai link berita online tentang kematian Devid Erfiyanto. Seperti diberitakan, Devid Erfiyanto ada lah salah satu dokter di IRD RSUD dr R. Koesma Tuban yang didiagnosa positif Covid-19 dan meninggal pada pada Kamis (1/10) lalu.

Tenaga kesehatan yang tinggal di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban itu tutup usia setelah mengalami sesak napas dan dirawat sejak Senin (28/9) di rumah sakit tempatnya bertugas.

Baca Juga :  Amanat Prabowo-Sandi untuk masyarakat Bumi Wali

Selain komentar belasungkawa, ada beberapa netizen yang mencibir. Bahkan, terang-terangan mengatakan kematian dokter karena covid tersebut hanya akal-akalan. Seperti komentar dari akun bernama Fatimah. Dia beberapa kali menulis komentar miring. Menurut Fatimah, kematian tenaga kesehatan itu karena kualat terhadap orang miskin.

Bahkan, dia juga menyumpahserapahi perawat yang akan menyusul dan bernasib sama dengan dokter yang meninggal. ‘’Tak lama lagi perawatnya menyusul. Allah maha tahu,’’ tulis Fatimah dalam bahasa Jawa. Alfian Yuniarta, pelapor kasus tersebut mengatakan, kasus kematian Devid seharusnya menjadi pelajaran untuk lebih taat protokol kesehatan. Bukan ajang provokasi dan fitnah.

Dia berharap, laporan kasus tersebut bisa menjadi pelajaran berharga untuk lebih menghargai upaya tenaga kesehatan dalam menangani pasien. ‘’Sekarang tidak saatnya lagi saling menjatuhkan,’’ tegas dia.

Dokter lulusan Fakultas Kedok teran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu lebih lanjut mengatakan, sekitar 15 akun yang dilaporkan karena melakukan provokasi, ujaran kebencian, fitnah, dan hinaan.

Baca Juga :  Seleksi PPPK Blora, Delapan Peserta Tak Hadir

Bahkan, sebagian lebih ekstrem dengan menuding covid hanya proyek akal-akalan tenaga kesehatan untuk mencari keuntungan. Menurut Alfian, sebagian yang dilaporkan itu akun riil. Selebihnya akun palsu.

‘’Kami berharap hal seperti ini tidak lagi terjadi,’’ ujar dia. Diungkapkan dokter yang juga kepala IGD RSUD dr R. Koesma Tuban itu, Devid adalah staf RSUD yang setiap hari bertugas melakukan visitasi pasien covid.

Seharusnya, dia mendapat apresiasi tertinggi atas jasanya yang ikut menangani pasien covid. Dikonfirmasi terkait laporan tersebut, Kapolres Tuban AKBP Ruruh Wicaksono mengatakan, laporan tersebut sudah diterima dan akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Jika bukti-bukti lengkap, kasus tersebut bisa masuk pelanggaran Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (UU ITE). ‘’Laporan tersebut nanti akan kami tindaklanjuti sesuai substansi yang dilaporkan,’’ kata dia melalui pesan WhatsApp.

Radar Tuban – Kematian Devid Erfiyanto, dokter RSUD dr R. Koesma Tuban yang didiagnosis Covid-19 mengundang komentar miring dari sejumlah warganet. Sebagian warganet mencaci unggahan kabar duka di media sosial (medsos) Facebook (FB) itu.

Mereka inilah yang kemarin (2/10) dilaporkan ke Satreskrim Polres Tuban oleh Persatuan Dokter Umum Indonesia (PDUI) dan Per satuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Tuban.

Komentar miring tersebut bermula dari unggahan Alfian Yuniarta, dokter IRD RSUD dr R. Koesma Tuban di grup FB yang mengingatkan pentingnya menjaga protokol kesehatan (prokes).

Unggahan tersebut disertai link berita online tentang kematian Devid Erfiyanto. Seperti diberitakan, Devid Erfiyanto ada lah salah satu dokter di IRD RSUD dr R. Koesma Tuban yang didiagnosa positif Covid-19 dan meninggal pada pada Kamis (1/10) lalu.

Tenaga kesehatan yang tinggal di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban itu tutup usia setelah mengalami sesak napas dan dirawat sejak Senin (28/9) di rumah sakit tempatnya bertugas.

Baca Juga :  Hati-Hati! Kaya Mendadak Bisa Bikin Frustasi

Selain komentar belasungkawa, ada beberapa netizen yang mencibir. Bahkan, terang-terangan mengatakan kematian dokter karena covid tersebut hanya akal-akalan. Seperti komentar dari akun bernama Fatimah. Dia beberapa kali menulis komentar miring. Menurut Fatimah, kematian tenaga kesehatan itu karena kualat terhadap orang miskin.

Bahkan, dia juga menyumpahserapahi perawat yang akan menyusul dan bernasib sama dengan dokter yang meninggal. ‘’Tak lama lagi perawatnya menyusul. Allah maha tahu,’’ tulis Fatimah dalam bahasa Jawa. Alfian Yuniarta, pelapor kasus tersebut mengatakan, kasus kematian Devid seharusnya menjadi pelajaran untuk lebih taat protokol kesehatan. Bukan ajang provokasi dan fitnah.

Dia berharap, laporan kasus tersebut bisa menjadi pelajaran berharga untuk lebih menghargai upaya tenaga kesehatan dalam menangani pasien. ‘’Sekarang tidak saatnya lagi saling menjatuhkan,’’ tegas dia.

Dokter lulusan Fakultas Kedok teran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu lebih lanjut mengatakan, sekitar 15 akun yang dilaporkan karena melakukan provokasi, ujaran kebencian, fitnah, dan hinaan.

Baca Juga :  Anggaran Proyek Tugu Jati Dipertanyakan

Bahkan, sebagian lebih ekstrem dengan menuding covid hanya proyek akal-akalan tenaga kesehatan untuk mencari keuntungan. Menurut Alfian, sebagian yang dilaporkan itu akun riil. Selebihnya akun palsu.

‘’Kami berharap hal seperti ini tidak lagi terjadi,’’ ujar dia. Diungkapkan dokter yang juga kepala IGD RSUD dr R. Koesma Tuban itu, Devid adalah staf RSUD yang setiap hari bertugas melakukan visitasi pasien covid.

Seharusnya, dia mendapat apresiasi tertinggi atas jasanya yang ikut menangani pasien covid. Dikonfirmasi terkait laporan tersebut, Kapolres Tuban AKBP Ruruh Wicaksono mengatakan, laporan tersebut sudah diterima dan akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Jika bukti-bukti lengkap, kasus tersebut bisa masuk pelanggaran Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (UU ITE). ‘’Laporan tersebut nanti akan kami tindaklanjuti sesuai substansi yang dilaporkan,’’ kata dia melalui pesan WhatsApp.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/