alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Friday, August 12, 2022

Dulu Jual Tanah Buat Naik Haji

BERANGKAT haji di masa kolonialisme cukup sulit. Selain diawasi oleh pemerintah Hindia Belanda, juga butuh biaya besar. Harus menjual tanah. Butuh fisik prima karena di atas kapal laut perjalanan menuju Makkah, Arab Saudi, butuh waktu 2,5 bulan. Pulang juga 2,5 bulan lagi di laut.

 

Nono Warnono sastrawan sekaligus budayawan Bojonegoro mengatakan, bahwa banyak cerita haji di masa lampau itu memantapkan hati dengan menjual sebidang tanah sebagai modal berangkat haji. “Bahkan dulu ada sebutan Haji Wahyu, berangkat haji mergo sawahe payu (karena sawahnya laku),” ujarnya kemarin (2/6).

 

Jadi tradisi jual tanah buat modal ibadah haji memang sudah jamak terjadi di zaman lampau. Beda dengan sekarang ada sistem tabungan haji. Dulu juga perjalanannya hanya via kapal laut, butuh waktu sekitar setengah tahun. Kalau sekarang via pesawat terbang hanya butuh waktu maksimal satu setengah bulan.

Baca Juga :  Disterilkan, Lalin Lancar

 

Nono sapaannya mengatakan, bahwa memang antusias warga Bojonegoro cukup tinggi tiap tahunnya menunaikan ibadah haji. Namun, di masa kolonial tentunya hanya beberapa orang saja bisa ibadah haji. Karena butuh waktu berbulan-bulan perjalanan berangkat dan pulang.

 

“Biasanya para tuan tanah bisa berangkat haji saat masa kolonial. Kalau sekarang berbagai profesi dan kalangan bisa berangkat haji asal punya niat yang teguh,” jelasnya.

 

Ibadah haji menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Mengingat sepulang dari Tanah Suci akan menyandang gelar haji sebagai titel. Sehingga dari sisi status sosial ikut terangkat wibawanya. (bgs/rij)

BERANGKAT haji di masa kolonialisme cukup sulit. Selain diawasi oleh pemerintah Hindia Belanda, juga butuh biaya besar. Harus menjual tanah. Butuh fisik prima karena di atas kapal laut perjalanan menuju Makkah, Arab Saudi, butuh waktu 2,5 bulan. Pulang juga 2,5 bulan lagi di laut.

 

Nono Warnono sastrawan sekaligus budayawan Bojonegoro mengatakan, bahwa banyak cerita haji di masa lampau itu memantapkan hati dengan menjual sebidang tanah sebagai modal berangkat haji. “Bahkan dulu ada sebutan Haji Wahyu, berangkat haji mergo sawahe payu (karena sawahnya laku),” ujarnya kemarin (2/6).

 

Jadi tradisi jual tanah buat modal ibadah haji memang sudah jamak terjadi di zaman lampau. Beda dengan sekarang ada sistem tabungan haji. Dulu juga perjalanannya hanya via kapal laut, butuh waktu sekitar setengah tahun. Kalau sekarang via pesawat terbang hanya butuh waktu maksimal satu setengah bulan.

Baca Juga :  Dikritik, Bupati Lindra Dibela Netizen

 

Nono sapaannya mengatakan, bahwa memang antusias warga Bojonegoro cukup tinggi tiap tahunnya menunaikan ibadah haji. Namun, di masa kolonial tentunya hanya beberapa orang saja bisa ibadah haji. Karena butuh waktu berbulan-bulan perjalanan berangkat dan pulang.

 

“Biasanya para tuan tanah bisa berangkat haji saat masa kolonial. Kalau sekarang berbagai profesi dan kalangan bisa berangkat haji asal punya niat yang teguh,” jelasnya.

 

Ibadah haji menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Mengingat sepulang dari Tanah Suci akan menyandang gelar haji sebagai titel. Sehingga dari sisi status sosial ikut terangkat wibawanya. (bgs/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/