alexametrics
26 C
Bojonegoro
Saturday, May 21, 2022

Rapid Test Positif Belum Tentu Covid-19

TUBAN, Radar Tuban – Pemahaman masyarakat soal rapid test Covid-19 atau tes dengan sampel darah untuk mengetahui virus dalam tubuh, tampaknya harus diluruskan. Sebab, masih banyak masyarakat yang telanjur memberikan stigma negatif terhadap hasil rapid test. Terlebih, bagi mereka yang hasil rapid test-nya positif. 

Gelombang penolakan dari warga untuk melakukan isolasi mandiri di rumah terus muncul. Padahal, mereka belum tentu reaktif atau positif Covid-19. Bisa jadi virus yang lain.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tuban Bambang Priyo Utomo kepada Jawa Pos Radar Tuban mengaku sangat prihatin dengan masih adanya masyarakat yang memberikan stigma negatif terhadap hasil rapid test. Seharusnya, kata dia, masyarakat memberikan dukungan semangat terhadap mereka yang hasil rapid test-nya positif untuk melakukan isolasi mandiri di rumah. Bukan malah sebaliknya, menolak.

‘’Ini (penolakan terhadap orang dengan hasil rapid test positif, Red) karena faktor ketakutan adalah pemahaman yang salah. Hasil rapid test positif belum tentu itu positif Covid-19. Makanya, kita sarankan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah. Bukan malah ditolak. Ini pemahaman salah,’’ keluh Bambang menanggapi laporan penolakan dari salah satu kepala desa di Kecamatan Palang terhadap pasien dengan hasil rapid test positif yang hendak pulang ke rumah.

Baca Juga :  120 Pekerja Migran Indonesia Pulang Kampung ke Tuban

Semestinya, lanjut dia, kepala desa dan masyarakat memberikan dukungan secara moril maupun materil terhadap mereka yang hendak melakukan isolasi mandiri. Dengan begitu, mereka memiliki semangat untuk melakukan isolasi secara mandiri. ‘’Bukan malah sebaliknya (ditolak, Red). Kalau sudah seperti ini semua elemen harus terlibat untuk memberikan pemahaman. Kami dari tenaga kesehatan saja tidak cukup. Tokoh agama, tokoh masyarakat harus terlibat,’’ tegas anggota Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Tuban itu. 

Disampaikan Bambang, kasus tersebut bermula dari salah seorang pasien yang baru saja melahirkan. Hasil rapid test-nya positif, tapi kondisinya sehat. Dia pun diperbolehkan pulang dan menjalani isolasi mandiri di rumah. 

Belum sempat pulang, dia sudah ditolak kepala desa dan warganya. Akhirnya, pasien tersebut terpaksa menjalani perawatan di rumah sakit.

Sebelumnya, tim gugus tugas juga menemui jalan buntu saat hendak merealisasikan rencana isolasi mandiri di rumah yang menjadi plan B terhadap pasien positif Covid-19 asal Kecamatan Tuban menyusul kondisinya yang sudah sehat, namun hasil tes swab-nya tak kunjung keluar. 

Baca Juga :  Meski Zona Merah, Tempat Wisata Tetap Boleh Beroperasi

Menurut mantan kepala Puskesmas Tambakboyo itu, penolakan terhadap pasien positif yang sudah sehat untuk melakukan isolasi mandiri tidak lebih karena ketakutan masyarakat. 

Faktor ketakutan tersebut, menurut dia, bisa disebabkan karena minimnya pemahaman masyarakat terhadap virus korona.

Selain masyarakat yang masih awam, pejabat di lingkup Pemkab Tuban juga belum semua satu frekuensi soal informasi perkembangan persebaran Covid-19. Bahkan, masih ada sebagian pejabat yang meminta agar informasi soal pasien Covid-19 tidak disampaikan ke publik.

Sebagaimana kasus enam santri Ponpes Al Falah, Temboro, Magetan asal Tuban yang dinyatakan positif Covid-19 berdasar hasil rapid test. Bukan malah memberikan pemahaman kepada masyarakat dan mendukung untuk melakukan isolasi mandiri di rumah, salah satu pejabat di tingkat kecamatan malah meminta agar informasi soal perkembangan Covid-19 tidak disampaikan ke publik. Alasannya menyulitkan tim kecamatan dan desa karena banyak diprotes masyarakat.

TUBAN, Radar Tuban – Pemahaman masyarakat soal rapid test Covid-19 atau tes dengan sampel darah untuk mengetahui virus dalam tubuh, tampaknya harus diluruskan. Sebab, masih banyak masyarakat yang telanjur memberikan stigma negatif terhadap hasil rapid test. Terlebih, bagi mereka yang hasil rapid test-nya positif. 

Gelombang penolakan dari warga untuk melakukan isolasi mandiri di rumah terus muncul. Padahal, mereka belum tentu reaktif atau positif Covid-19. Bisa jadi virus yang lain.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tuban Bambang Priyo Utomo kepada Jawa Pos Radar Tuban mengaku sangat prihatin dengan masih adanya masyarakat yang memberikan stigma negatif terhadap hasil rapid test. Seharusnya, kata dia, masyarakat memberikan dukungan semangat terhadap mereka yang hasil rapid test-nya positif untuk melakukan isolasi mandiri di rumah. Bukan malah sebaliknya, menolak.

‘’Ini (penolakan terhadap orang dengan hasil rapid test positif, Red) karena faktor ketakutan adalah pemahaman yang salah. Hasil rapid test positif belum tentu itu positif Covid-19. Makanya, kita sarankan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah. Bukan malah ditolak. Ini pemahaman salah,’’ keluh Bambang menanggapi laporan penolakan dari salah satu kepala desa di Kecamatan Palang terhadap pasien dengan hasil rapid test positif yang hendak pulang ke rumah.

Baca Juga :  Sanksi Prokes Mulai Sasar Pelaku Usaha

Semestinya, lanjut dia, kepala desa dan masyarakat memberikan dukungan secara moril maupun materil terhadap mereka yang hendak melakukan isolasi mandiri. Dengan begitu, mereka memiliki semangat untuk melakukan isolasi secara mandiri. ‘’Bukan malah sebaliknya (ditolak, Red). Kalau sudah seperti ini semua elemen harus terlibat untuk memberikan pemahaman. Kami dari tenaga kesehatan saja tidak cukup. Tokoh agama, tokoh masyarakat harus terlibat,’’ tegas anggota Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Tuban itu. 

Disampaikan Bambang, kasus tersebut bermula dari salah seorang pasien yang baru saja melahirkan. Hasil rapid test-nya positif, tapi kondisinya sehat. Dia pun diperbolehkan pulang dan menjalani isolasi mandiri di rumah. 

Belum sempat pulang, dia sudah ditolak kepala desa dan warganya. Akhirnya, pasien tersebut terpaksa menjalani perawatan di rumah sakit.

Sebelumnya, tim gugus tugas juga menemui jalan buntu saat hendak merealisasikan rencana isolasi mandiri di rumah yang menjadi plan B terhadap pasien positif Covid-19 asal Kecamatan Tuban menyusul kondisinya yang sudah sehat, namun hasil tes swab-nya tak kunjung keluar. 

Baca Juga :  Konsisten Sebagai Fungsi Kontrol

Menurut mantan kepala Puskesmas Tambakboyo itu, penolakan terhadap pasien positif yang sudah sehat untuk melakukan isolasi mandiri tidak lebih karena ketakutan masyarakat. 

Faktor ketakutan tersebut, menurut dia, bisa disebabkan karena minimnya pemahaman masyarakat terhadap virus korona.

Selain masyarakat yang masih awam, pejabat di lingkup Pemkab Tuban juga belum semua satu frekuensi soal informasi perkembangan persebaran Covid-19. Bahkan, masih ada sebagian pejabat yang meminta agar informasi soal pasien Covid-19 tidak disampaikan ke publik.

Sebagaimana kasus enam santri Ponpes Al Falah, Temboro, Magetan asal Tuban yang dinyatakan positif Covid-19 berdasar hasil rapid test. Bukan malah memberikan pemahaman kepada masyarakat dan mendukung untuk melakukan isolasi mandiri di rumah, salah satu pejabat di tingkat kecamatan malah meminta agar informasi soal perkembangan Covid-19 tidak disampaikan ke publik. Alasannya menyulitkan tim kecamatan dan desa karena banyak diprotes masyarakat.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/