alexametrics
30.6 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Target 20 Karya Kantongi HAKI

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Ragam karya lintas bidang yang bersifat memiliki nilai ekonomi kreatif (ekraf) didorong untuk peroleh hak atas kekayaan intelektual (HAKI). 

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro sejak Januari 2021 ada bidang baru yaitu ekraf. Sebanyak 10 karya telah mendapat HAKI tahun lalu. Sedangkan tahun ini target 20 karya dapat HAKI.

Menurut Kepala Bidang (Kabid) Ekraf Disbudpar Bojonegoro, Eko Subiyono, pertumbuhan ekraf di Bojonegoro mulai dilakukan pemetaan. Salah satunya mendorong para seniman atau perajin untuk mendaftarkan karya atau kerajinannya agar mendapat HAKI. “Tugas kami melayani konsultasi dan fasilitasi para seniman atau perajin untuk mendaftarkan karyanya mendapat HAKI,” tutur Eko.

Baca Juga :  Peternak Tersenyum Harga Telur Mulai Naik

Kuota tahun lalu sebanyak 10 karya sudah terisi. Di antaranya lagu, buku, kriya, naskah teater, dan sebagainya. Biaya pendaftaran HAKI tersebut dibiayai menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Bojonegoro. “Biaya pendaftaran HAKI sekitar Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu per karya,” bebernya.

Eko menambahkan, sekitar lima karya sudah masuk antrean daftar HAKI. Adapun target tahun ini kuota fasilitasi HAKI sebanyak 20 karya. Sehingga harapannya target itu bisa terealisasikan. “Karena itu harapannya para pelaku seni apabila punya karya ingin daftar HAKI bisa manfaatkan layanan konsultasi dan fasilitasi hak kekayaan intelektual (Lakon Si Haki) di kantor disbudpar,” jelasnya.

Sementara itu, mendorong ekraf di Bojonegoro juga bersinergi dengan berbagai pihak dan organisasi perangkat daerah (OPD). Seperti Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinperinaker) dan Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro Bojonegoro. 

Baca Juga :  Rumah Nenek di Desa Tulungagung, Malo, Ludes Terbakar

Pihaknya pun telah membuat modul untuk memetakan potensi-potensi lokal di Bojonegoro sisi timur, barat, tengah, dan selatan. Sehingga pengembangan ekrafnya bisa terarah. “Salah satunya kriya batik jonegaran, juga aneka kuliner Bojonegoro,” ucapnya. 

Perlu diketahui ada 17 subsektor ekraf. Di antaranya pengembang permainan, arsitektur, desain interior, musik, seni rupa, desain produk, fesyen, kuliner, film, animasi dan video, fotografi, desain komunikasi visual, televisi dan radio, kriya, periklanan, seni pertunjukan, penerbitan, dan aplikasi.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Ragam karya lintas bidang yang bersifat memiliki nilai ekonomi kreatif (ekraf) didorong untuk peroleh hak atas kekayaan intelektual (HAKI). 

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro sejak Januari 2021 ada bidang baru yaitu ekraf. Sebanyak 10 karya telah mendapat HAKI tahun lalu. Sedangkan tahun ini target 20 karya dapat HAKI.

Menurut Kepala Bidang (Kabid) Ekraf Disbudpar Bojonegoro, Eko Subiyono, pertumbuhan ekraf di Bojonegoro mulai dilakukan pemetaan. Salah satunya mendorong para seniman atau perajin untuk mendaftarkan karya atau kerajinannya agar mendapat HAKI. “Tugas kami melayani konsultasi dan fasilitasi para seniman atau perajin untuk mendaftarkan karyanya mendapat HAKI,” tutur Eko.

Baca Juga :  Peternak Tersenyum Harga Telur Mulai Naik

Kuota tahun lalu sebanyak 10 karya sudah terisi. Di antaranya lagu, buku, kriya, naskah teater, dan sebagainya. Biaya pendaftaran HAKI tersebut dibiayai menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Bojonegoro. “Biaya pendaftaran HAKI sekitar Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu per karya,” bebernya.

Eko menambahkan, sekitar lima karya sudah masuk antrean daftar HAKI. Adapun target tahun ini kuota fasilitasi HAKI sebanyak 20 karya. Sehingga harapannya target itu bisa terealisasikan. “Karena itu harapannya para pelaku seni apabila punya karya ingin daftar HAKI bisa manfaatkan layanan konsultasi dan fasilitasi hak kekayaan intelektual (Lakon Si Haki) di kantor disbudpar,” jelasnya.

Sementara itu, mendorong ekraf di Bojonegoro juga bersinergi dengan berbagai pihak dan organisasi perangkat daerah (OPD). Seperti Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinperinaker) dan Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro Bojonegoro. 

Baca Juga :  Belum Ada Titik Temu Mediasi Suporter Persibo dan Pemkab

Pihaknya pun telah membuat modul untuk memetakan potensi-potensi lokal di Bojonegoro sisi timur, barat, tengah, dan selatan. Sehingga pengembangan ekrafnya bisa terarah. “Salah satunya kriya batik jonegaran, juga aneka kuliner Bojonegoro,” ucapnya. 

Perlu diketahui ada 17 subsektor ekraf. Di antaranya pengembang permainan, arsitektur, desain interior, musik, seni rupa, desain produk, fesyen, kuliner, film, animasi dan video, fotografi, desain komunikasi visual, televisi dan radio, kriya, periklanan, seni pertunjukan, penerbitan, dan aplikasi.

Artikel Terkait

Most Read

Jati Roboh, Listrik PLN Padam

Tunda Penetapan Kepala Dinas

Tunjangan Perumahan DPRD Naik

Artikel Terbaru


/