alexametrics
25.5 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Untuk Branding Daerah, Tuban Bergurulah ke Banyuwangi

Tuban dan Banyuwangi samasama dianugerahi potensi alam berupa laut. Untuk konsep pengembangan dan kemajuan pariwisatanya tidak perlu ditanya, Bumi Blambangan jauh meninggalkan Tuban. Jauhnya serasa jarak kedua kabupaten, sekitar 404 kilometer. Jawa Pos Radar Tuban yang selama dua hari (28・29 November) mengikuti workshop DPRD Tuban di Banyuwangi menurunkan gambaran potret kedua kabupaten dengan potensi kekayaan alam yang hampir sama tersebut. 

BEGITU masuk perbatasan Situbondo-Banyuwangi, sebuah landmark kabupaten langsung menyambut; sebuah patung penari gandrung yang berpose menyejajarkan kipas ter buka setinggi dada. Sedangkan tangan kirinya dilipat dengan jari-jemari menyentuh ping gang kiri. Pose tersebut tidak hanya bermakna menyapa kepada siapa pun yang datang ke Banyuwangi, namun juga memberi salam hormat. Patung monumental kesenian khas Banyuwangi tersebut ju ga banyak berdiri di tepi jalan, meski ukurannya lebih kecil. Patung penari gandrung termegah berada di kawasan wisata Watudodol, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro. Melansir berita Jawa Pos Radar Banyuwangi edisi 28 Februari 2021, landmark megah tersebut sengaja ditempatkan di situ. Surat kabar harian yang menjadi opini leader di kabupaten setempat tersebut ikut menginisiasi pembuatannya, bahkan menuliskan landmark tersebut sebagai Gerbang Kejut Masuk Banyuwangi. Patung penari gandrung setinggi 10 meter tersebut letaknya persis di tepi pantai. Jaraknya dari pusat Kota Banyuwangi sekitar 14 kilometer. Dari patung penanda tersebut terbersit sebuah pesan yang ingin disampaikan. Yakni, menyapa siapa pun yang meli hatnya. Dalam konteks pari wisata, sudah barang tentu yang disapa adalah wisatawan luar kota. Pemerintah Kabupaten Banyu wangi sengaja membuat landmark patung penari gandrung. Harapannya, bisa menjadi simbol keagungan kesenian dan kebudayaan kabupaten di ujung timur Pulau Jawa tersebut. Fahmi, salah satu warga Banyuwangi mengatakan, dirinya merasa bangga dengan monumen- monumen kesenian-kebudayaan di kotanya. Menu rut dia, itu dapat menjadi pe tunjuk masyarakat luar Ba nyuwangi dalam mengenali kabupaten berjuluk Sunrise of Java tersebut. Pria yang juga pengusaha travel ini mengemukakan, mo numen kesenian-kebudayaan tersebut membuat orang luar penasaran dan mencari tahu tentang Banyuwangi. Di Tuban, kuda dikenal sebagai landmark. Namun, tak banyak yang tahu kalau satwa tunggangan di zaman lampau tersebut menjadi pe nunjuk. Termasuk warga asli Tuban. Itu karena patung kuda dibangun berukuran mini di atas tugu perbatasan masuk kota dari timur di Desa Tunah, Kecamatan Semanding dan di barat Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu. Bahkan, alun-alun yang menjadi pusat kota pun hanya dibangun sebuah patung kuda yang tingginya tak lebih dari dua meter. Patung kuda berikutnya yang hendak dibangun berada di Taman Sleko. Itu pun baru wacana. ‘’Entah kuda, entah apa. Pokoknya ikon Tuban,’’ ujar Ke pala Bidang Kebersihan dan Pertamanan Dinas Peru mahan Rakyat Kawasan Per mukiman (DPRKP) Tuban Sumarno terkait pendirian patung ikon di area masuk ka wa san kota tersebut. Dikonfirmasi kembali terkait kepastian ikon yang akan dibangun, Sumarno menyam paikan hal tersebut masih di ra hasiakan. Menurutnya, in stansinya ingin memberi se bu ah kejutan untuk masyarakat Tuban. ‘’Kita tunggu bersama pada 27 Desember nanti,’’ ujarnya kemarin (28/11). Sumar no hanya membo corkan sekurang-kurangnya tinggi monumen yang baru tersebut lebih dari dua meter. Itu dimaksudkan agar monumen tersebut terlihat lebih gagah dan nampak dari kejauhan. Ter kait perbandingan tata seni perkotaan Tuban dan Banyu wangi, Sumarno mengatakan, Bumi Blambangan me mang bergerak lebih dulu. Selain itu, potensi kebudayaan dan pariwisata Banyuwangi sangat tertolong dengan letak geografisnya sebagai tempat penyeberangan ke Pulau Bali. Sumarno memerkirakan, jika kebudayaan dan pariwisata Tuban sama majunya dengan Banyuwangi, tak ayal monu men-monumen kebudayaan-kesenian akan banyak ter bangun di kabupaten di pesisir Laut Jawa itu. Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga (Dispar budpora) Tuban Suwanto mengatakan, Pemkab Banyuwangi butuh waktu bertahun-tahun untuk memasifkan branding pariwisata melalui berbagai organisasi perangkat daerah (OPD)-nya. ‘’Semua kepala OPD harus berpola pikir kepariwisataan. Tujuan utamanya menumbuhkan ekonomi,’’ ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Tuban di kediamannya kemarin (30/11). Pola pikir tersebut, terang Suwanto, untuk menyelaraskan dan memacu seluruh kepala OPD dalam mengakomodir kepariwisataan. Dinas pemuda dan olahraga (dispora), mi salnya, menyelenggarakan Tour de Banyuwangi Ijen skala internasional. Acara balap sepeda, kata dia, juga merupakan pernikahan yang sukses antara wisata dan olahraga. Melalui event tersebut, orang luar Banyuwangi mengenal wisata Gunung Ijen dan wisata-wisata lain. ‘’Event benar-benar menjadi media promosi pariwisata,’’ jelasnya. Di Tuban, Suwanto mengakui hal tersebut belum optimal. Begitu juga potensi wisatanya, Tuban tak kalah dengan Banyuwangi. Bumi Ronggolawe dikarunia potensi wisata yang leng kap; perbukitan dan pantai. Dari sisi kebudayaan, lanjut Suwanto, Tuban memiliki Islam, Majapahit, dan Mataraman. Namun, untuk branding diakuinya masih sangat lemah. Terobosan-terobosan yang dilakukan pun belum cukup untuk membuat pariwisata Tuban cemerlang. Suwanto berharap, ke depan seluruh stakeholder memajukan pariwisata di Tuban. Tak kalah pentingnya menginventarisasi kebudayaan-keseniaan dan potensi lain. Dengan demikian, bisa dicarikan jalan masuk ke ranah pariwisata. Misalnya mengemas event kompetisi, festival, atau parade. ‘’Untuk pengemasannya, semua OPD memungkinkan bertindak sebagai medianya,’’ terangnya. Alumnus Universitas Gadjah Mada Jogjakarta ini menandaskan, keberhasilan kepariwi sataan merupakan keberhasilan sinergi. Dan, sinergi ini tak hanya di tingkat birokrasi saja, tapi juga di lingkup masyarakat. Dari atas sampai bawah harus bekerja sama. Untuk mengembangkan sektor wisata, lanjut Suwanto, kehadiran seorang leader sa ngat diperlukan. Perannya s e bagai penunjuk jalan hingga merangkul semua pihak dalam memajukan pariwisata Tuban. 

Baca Juga :  Sita Ratusan Kartu Identitas Warga Bandel

Tuban dan Banyuwangi samasama dianugerahi potensi alam berupa laut. Untuk konsep pengembangan dan kemajuan pariwisatanya tidak perlu ditanya, Bumi Blambangan jauh meninggalkan Tuban. Jauhnya serasa jarak kedua kabupaten, sekitar 404 kilometer. Jawa Pos Radar Tuban yang selama dua hari (28・29 November) mengikuti workshop DPRD Tuban di Banyuwangi menurunkan gambaran potret kedua kabupaten dengan potensi kekayaan alam yang hampir sama tersebut. 

BEGITU masuk perbatasan Situbondo-Banyuwangi, sebuah landmark kabupaten langsung menyambut; sebuah patung penari gandrung yang berpose menyejajarkan kipas ter buka setinggi dada. Sedangkan tangan kirinya dilipat dengan jari-jemari menyentuh ping gang kiri. Pose tersebut tidak hanya bermakna menyapa kepada siapa pun yang datang ke Banyuwangi, namun juga memberi salam hormat. Patung monumental kesenian khas Banyuwangi tersebut ju ga banyak berdiri di tepi jalan, meski ukurannya lebih kecil. Patung penari gandrung termegah berada di kawasan wisata Watudodol, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro. Melansir berita Jawa Pos Radar Banyuwangi edisi 28 Februari 2021, landmark megah tersebut sengaja ditempatkan di situ. Surat kabar harian yang menjadi opini leader di kabupaten setempat tersebut ikut menginisiasi pembuatannya, bahkan menuliskan landmark tersebut sebagai Gerbang Kejut Masuk Banyuwangi. Patung penari gandrung setinggi 10 meter tersebut letaknya persis di tepi pantai. Jaraknya dari pusat Kota Banyuwangi sekitar 14 kilometer. Dari patung penanda tersebut terbersit sebuah pesan yang ingin disampaikan. Yakni, menyapa siapa pun yang meli hatnya. Dalam konteks pari wisata, sudah barang tentu yang disapa adalah wisatawan luar kota. Pemerintah Kabupaten Banyu wangi sengaja membuat landmark patung penari gandrung. Harapannya, bisa menjadi simbol keagungan kesenian dan kebudayaan kabupaten di ujung timur Pulau Jawa tersebut. Fahmi, salah satu warga Banyuwangi mengatakan, dirinya merasa bangga dengan monumen- monumen kesenian-kebudayaan di kotanya. Menu rut dia, itu dapat menjadi pe tunjuk masyarakat luar Ba nyuwangi dalam mengenali kabupaten berjuluk Sunrise of Java tersebut. Pria yang juga pengusaha travel ini mengemukakan, mo numen kesenian-kebudayaan tersebut membuat orang luar penasaran dan mencari tahu tentang Banyuwangi. Di Tuban, kuda dikenal sebagai landmark. Namun, tak banyak yang tahu kalau satwa tunggangan di zaman lampau tersebut menjadi pe nunjuk. Termasuk warga asli Tuban. Itu karena patung kuda dibangun berukuran mini di atas tugu perbatasan masuk kota dari timur di Desa Tunah, Kecamatan Semanding dan di barat Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu. Bahkan, alun-alun yang menjadi pusat kota pun hanya dibangun sebuah patung kuda yang tingginya tak lebih dari dua meter. Patung kuda berikutnya yang hendak dibangun berada di Taman Sleko. Itu pun baru wacana. ‘’Entah kuda, entah apa. Pokoknya ikon Tuban,’’ ujar Ke pala Bidang Kebersihan dan Pertamanan Dinas Peru mahan Rakyat Kawasan Per mukiman (DPRKP) Tuban Sumarno terkait pendirian patung ikon di area masuk ka wa san kota tersebut. Dikonfirmasi kembali terkait kepastian ikon yang akan dibangun, Sumarno menyam paikan hal tersebut masih di ra hasiakan. Menurutnya, in stansinya ingin memberi se bu ah kejutan untuk masyarakat Tuban. ‘’Kita tunggu bersama pada 27 Desember nanti,’’ ujarnya kemarin (28/11). Sumar no hanya membo corkan sekurang-kurangnya tinggi monumen yang baru tersebut lebih dari dua meter. Itu dimaksudkan agar monumen tersebut terlihat lebih gagah dan nampak dari kejauhan. Ter kait perbandingan tata seni perkotaan Tuban dan Banyu wangi, Sumarno mengatakan, Bumi Blambangan me mang bergerak lebih dulu. Selain itu, potensi kebudayaan dan pariwisata Banyuwangi sangat tertolong dengan letak geografisnya sebagai tempat penyeberangan ke Pulau Bali. Sumarno memerkirakan, jika kebudayaan dan pariwisata Tuban sama majunya dengan Banyuwangi, tak ayal monu men-monumen kebudayaan-kesenian akan banyak ter bangun di kabupaten di pesisir Laut Jawa itu. Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga (Dispar budpora) Tuban Suwanto mengatakan, Pemkab Banyuwangi butuh waktu bertahun-tahun untuk memasifkan branding pariwisata melalui berbagai organisasi perangkat daerah (OPD)-nya. ‘’Semua kepala OPD harus berpola pikir kepariwisataan. Tujuan utamanya menumbuhkan ekonomi,’’ ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Tuban di kediamannya kemarin (30/11). Pola pikir tersebut, terang Suwanto, untuk menyelaraskan dan memacu seluruh kepala OPD dalam mengakomodir kepariwisataan. Dinas pemuda dan olahraga (dispora), mi salnya, menyelenggarakan Tour de Banyuwangi Ijen skala internasional. Acara balap sepeda, kata dia, juga merupakan pernikahan yang sukses antara wisata dan olahraga. Melalui event tersebut, orang luar Banyuwangi mengenal wisata Gunung Ijen dan wisata-wisata lain. ‘’Event benar-benar menjadi media promosi pariwisata,’’ jelasnya. Di Tuban, Suwanto mengakui hal tersebut belum optimal. Begitu juga potensi wisatanya, Tuban tak kalah dengan Banyuwangi. Bumi Ronggolawe dikarunia potensi wisata yang leng kap; perbukitan dan pantai. Dari sisi kebudayaan, lanjut Suwanto, Tuban memiliki Islam, Majapahit, dan Mataraman. Namun, untuk branding diakuinya masih sangat lemah. Terobosan-terobosan yang dilakukan pun belum cukup untuk membuat pariwisata Tuban cemerlang. Suwanto berharap, ke depan seluruh stakeholder memajukan pariwisata di Tuban. Tak kalah pentingnya menginventarisasi kebudayaan-keseniaan dan potensi lain. Dengan demikian, bisa dicarikan jalan masuk ke ranah pariwisata. Misalnya mengemas event kompetisi, festival, atau parade. ‘’Untuk pengemasannya, semua OPD memungkinkan bertindak sebagai medianya,’’ terangnya. Alumnus Universitas Gadjah Mada Jogjakarta ini menandaskan, keberhasilan kepariwi sataan merupakan keberhasilan sinergi. Dan, sinergi ini tak hanya di tingkat birokrasi saja, tapi juga di lingkup masyarakat. Dari atas sampai bawah harus bekerja sama. Untuk mengembangkan sektor wisata, lanjut Suwanto, kehadiran seorang leader sa ngat diperlukan. Perannya s e bagai penunjuk jalan hingga merangkul semua pihak dalam memajukan pariwisata Tuban. 

Baca Juga :  Malam Tahun Baru Tanpa Perayaan

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/