alexametrics
31.2 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Kesadaran Warga Menolak Rokok Ilegal Cukup Tinggi

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Kesadaran masyarakat dan pedagang untuk menolak rokok tanpa cukai ternyata cukup tinggi. Pedagang mulai menolak adanya penawaran rokok ilegal. Hal itu terbukti dari hasil operasi pasar gabungan (opsargab) yang menyasar toko kelontong dan pasar di tiga kecamatan.
Opsargab ini melibatkan tiga instansi. Meliputi Bagian Perekonomian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean (TMP) C Bojonegoro, serta satpol PP.
Opsargab ini berlangsung di tiga kecamatan. Yakni di Kecamatan Trucuk, pada 15 November. Berlanjut pada 16 November, Opasargab berlangsung di Kecamatan Sumberrejo. Dan, pada 17 November, Opsargab ini menyasar toko kelontong dan pasar tradisional di Kecamatan Kanor.
Dari razia tiga hari itu, minim temuan adanya rokok ilegal. Bahkan, opsargab di Kecamatan Trucuk dan Sumberrejo, nihil temuan rokok ilegal. Sedangkan, opsargab di Kecamatan Kanor, tim gabungan hanya menemukan empat bungkus rokok tanpa cukai.
Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Pemkab Bojonegoro Budi Sukisna mengungkapkan, minimnya temuan rokok ilegal ini menandakan kesadaran pedagang cukup tinggi dalam menolak dan mencegah rokok ilegal atau tanpa cukai. ‘’Ternyata kesadaran masyarakat cukup tinggi,’’ jelasnya.
Budi mengatakan, pencegahan rokok ilegal ini tentu dilakukan secara kolaborasi. Bagian perekonomian mewakili Pemkab Bojonegoro, berkolaborasi dengan Bea Cukai, satpol PP, dan stakeholder untuk menggolarakan pencegahan rokok ilegal. Termasuk sosialisasi secara masif, tentu dengan penerapan protokol kesehatan (prokes).
‘’Sesuai tagline bersama, yakni Gempur Rokok Ilegal,’’ ungkap dia.
Adapun sanksi diberikan dari temuan tersebut, barang bukti disita langsung oleh petugas. Sementara pemilik toko diberikan pembinaan terkait larangan memasarkan rokok tanpa cukai.
Kepala Seksi (Kasi) Kepatuhan Internal dan Penyuluhan, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean (TMP) C Bojonegoro Romy Windu Sasongko mengatakan, operasi gabungan hanya menemukan empat bungkus rokok ilegal. Temuannya rokok tidak terdapat pita cukai.
Minimnya temuan, menurut Romy, mengindikasikan mulai tumbuh kesadaran masyarakat tentang dampak dari rokok ilegal. Sebab, rokok ilegal ini bisa berpengaruh pada pemasukan negara. ”Mematuhi ketentuan mengenai produksi dan konsumsi rokok ilegal,” jelasnya.
Romy mengatakan, hal ini tidak terlepas dari sinergitas Pemkab Bojonegoro bersama Bea Cukai dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Salah satunya melalui sosialisasi tiap kecamatan dan desa. Serta bekerja sama dengan berbagai media.
“Baik itu media radio tatap muka, online, penyebaran brosur media radio, sampi dengan media cetak,” tuturnya.
Opsargab ini dimulai sejak Oktober lalu. Menyasar produk barang berupa rokok tanpa pita dan cukai yang beredar di toko, kios, dan pasar tradisional di semua kecamatan wilayah Kabupaten Bojonegoro, kecuali Kecamatan Margomulyo.
Penindakan opsargab dilaksanakan dimulai Oktober lalu hingga 9 Desember nanti. Hingga kini, selain gerak cepat para petugas di lapangan juga dilaksanakan sosialisasi untuk masyarakat di semua kecamatan diikuti oleh para pedagang, perwakilan perusahaan, serta para pemilik toko atau kios.
Selama opsargab, tim gabungan juga memberikan sosialisasi dan memberitahukan kepada pedagang agar tidak menerima rokok tanpa cukai. Juga menyarankan kepada pedagang bisa mendeteksi cukai palsu rokok dengan memakai alat mengecek uang. Sinar pendeteksi uang palsu itu, bisa digunakan untuk cukai.
Selama opsargab, tim gabungan juga memasang striker stok rokok ilegal di toko dan pasar. Juga, dalam striker diberikan call center  bila pedagang menemukan ada pihak yang menawarkan rokok tanpa cukai. Sehingga, dibutuhkan kesadaran pedagang.

Baca Juga :  Guru Dilarang Merokok di Area Sekolah

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Kesadaran masyarakat dan pedagang untuk menolak rokok tanpa cukai ternyata cukup tinggi. Pedagang mulai menolak adanya penawaran rokok ilegal. Hal itu terbukti dari hasil operasi pasar gabungan (opsargab) yang menyasar toko kelontong dan pasar di tiga kecamatan.
Opsargab ini melibatkan tiga instansi. Meliputi Bagian Perekonomian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean (TMP) C Bojonegoro, serta satpol PP.
Opsargab ini berlangsung di tiga kecamatan. Yakni di Kecamatan Trucuk, pada 15 November. Berlanjut pada 16 November, Opasargab berlangsung di Kecamatan Sumberrejo. Dan, pada 17 November, Opsargab ini menyasar toko kelontong dan pasar tradisional di Kecamatan Kanor.
Dari razia tiga hari itu, minim temuan adanya rokok ilegal. Bahkan, opsargab di Kecamatan Trucuk dan Sumberrejo, nihil temuan rokok ilegal. Sedangkan, opsargab di Kecamatan Kanor, tim gabungan hanya menemukan empat bungkus rokok tanpa cukai.
Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Pemkab Bojonegoro Budi Sukisna mengungkapkan, minimnya temuan rokok ilegal ini menandakan kesadaran pedagang cukup tinggi dalam menolak dan mencegah rokok ilegal atau tanpa cukai. ‘’Ternyata kesadaran masyarakat cukup tinggi,’’ jelasnya.
Budi mengatakan, pencegahan rokok ilegal ini tentu dilakukan secara kolaborasi. Bagian perekonomian mewakili Pemkab Bojonegoro, berkolaborasi dengan Bea Cukai, satpol PP, dan stakeholder untuk menggolarakan pencegahan rokok ilegal. Termasuk sosialisasi secara masif, tentu dengan penerapan protokol kesehatan (prokes).
‘’Sesuai tagline bersama, yakni Gempur Rokok Ilegal,’’ ungkap dia.
Adapun sanksi diberikan dari temuan tersebut, barang bukti disita langsung oleh petugas. Sementara pemilik toko diberikan pembinaan terkait larangan memasarkan rokok tanpa cukai.
Kepala Seksi (Kasi) Kepatuhan Internal dan Penyuluhan, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean (TMP) C Bojonegoro Romy Windu Sasongko mengatakan, operasi gabungan hanya menemukan empat bungkus rokok ilegal. Temuannya rokok tidak terdapat pita cukai.
Minimnya temuan, menurut Romy, mengindikasikan mulai tumbuh kesadaran masyarakat tentang dampak dari rokok ilegal. Sebab, rokok ilegal ini bisa berpengaruh pada pemasukan negara. ”Mematuhi ketentuan mengenai produksi dan konsumsi rokok ilegal,” jelasnya.
Romy mengatakan, hal ini tidak terlepas dari sinergitas Pemkab Bojonegoro bersama Bea Cukai dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Salah satunya melalui sosialisasi tiap kecamatan dan desa. Serta bekerja sama dengan berbagai media.
“Baik itu media radio tatap muka, online, penyebaran brosur media radio, sampi dengan media cetak,” tuturnya.
Opsargab ini dimulai sejak Oktober lalu. Menyasar produk barang berupa rokok tanpa pita dan cukai yang beredar di toko, kios, dan pasar tradisional di semua kecamatan wilayah Kabupaten Bojonegoro, kecuali Kecamatan Margomulyo.
Penindakan opsargab dilaksanakan dimulai Oktober lalu hingga 9 Desember nanti. Hingga kini, selain gerak cepat para petugas di lapangan juga dilaksanakan sosialisasi untuk masyarakat di semua kecamatan diikuti oleh para pedagang, perwakilan perusahaan, serta para pemilik toko atau kios.
Selama opsargab, tim gabungan juga memberikan sosialisasi dan memberitahukan kepada pedagang agar tidak menerima rokok tanpa cukai. Juga menyarankan kepada pedagang bisa mendeteksi cukai palsu rokok dengan memakai alat mengecek uang. Sinar pendeteksi uang palsu itu, bisa digunakan untuk cukai.
Selama opsargab, tim gabungan juga memasang striker stok rokok ilegal di toko dan pasar. Juga, dalam striker diberikan call center  bila pedagang menemukan ada pihak yang menawarkan rokok tanpa cukai. Sehingga, dibutuhkan kesadaran pedagang.

Baca Juga :  Kasus Konsisten Menurun, Apakah Herd Immunity Mulai Terbentuk?

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/