alexametrics
25.1 C
Bojonegoro
Thursday, May 26, 2022

Guru Menolak Vaksin, Pembelajaran Tatap Muka Terancam Dibubarkan

Radar Tuban – Pembelajaran tatap muka (PTM) di Tuban terancam tidak bisa digelar di sejumlah lembaga pendidikan pada 12 Juli mendatang. Sebab, banyak guru yang menolak vaksin.

Sesuai aturan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), syarat PTM pada tahun ajaran baru mendatang adalah semua pendidik harus sudah divaksin.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tuban Bambang Priyo Utomo menjelaskan masih banyak guru yang menolak divaksin. Guru yang menolak vaksin tersebut tersebar di semua jenjang. Dia menegaskan, PTM tidak akan digelar di sekolah yang masih ada guru yang menolak divaksin. ‘’Kalau ada sekolah tatap muka dan ketahuan gurunya masih belum vaksin, PTM akan dibubarkan. Ini demi keselamatan anak didik,” tegas Bambang ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban.

Artinya, jika ada satu guru saja yang belum divaksin, maka lembaga pendidikan tersebut tidak akan diberi izin PTM terbatas sejak awal. Bagi lembaga yang sudah telanjur PTM dan baru diketahui ada guru tak taat vaksin, maka bisa dihentikan saat itu juga.

Baca Juga :  Kurang Kreasi dari Pemain Muda, Persela Kalah Poin dengan Persita

Aturan tegas itu, menurut Bambang, menimbang masih banyak guru yang tak memenuhi undangan untuk vaksin. Padahal, waktu untuk vaksinasi guru tersisa 12 hari lagi. Dokter lulusan Universitas Brawijaya (UB) Malang ini mengatakan, vaksin guru dikebut karena untuk melindungi siswa dan pendidik lain. Meski pada akhirnya yang sudah divaksin tetap bisa tertular, setidaknya ada kekebalan kelompok untuk meminimalisir adanya klaster di sekolah.

‘’Jika yang sudah vaksin saja tetap bisa tertular, bagaimana yang tidak divaksin sama sekali? Vaksin untuk membentuk perlin dungan kelompok,” kata dia.

Mantan kepala Puskesmas Tam bakboyo ini menegaskan, tim satgas memiliki data siapa saja guru yang sudah divaksin dan belum. Sehingga, jika hingga 12 Juli masih ada guru yang belum divaksin, tim satgas tidak segan mendatangi lembaga pendidikan tersebut.

Baca Juga :  Usulan PPPK Disdik Bojonegoro Butuh Rp 135 Miliar

‘’Guru di TK, RA, MI, SD, MTs, SMP, MA, dan SMA masih banyak yang tidak memenuhi undangan vaksin di puskesmas,” tegas Bambang. Mayoritas guru yang menolak vaksin tersebut berada di sekolah pinggir kawasan kota.

Alasan mereka menolak beragam. Ada yang takut jarum, ada yang takut efek samping, dan ketakutan lainnya. Padahal, kata Bambang, negara sudah menjamin vaksin aman dan halal untuk siapa pun. ‘’Vaksin sudah menjadi program nasional yang wajib diikuti masyarakat usia 18 plus,’’ tuturnya.

Radar Tuban – Pembelajaran tatap muka (PTM) di Tuban terancam tidak bisa digelar di sejumlah lembaga pendidikan pada 12 Juli mendatang. Sebab, banyak guru yang menolak vaksin.

Sesuai aturan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), syarat PTM pada tahun ajaran baru mendatang adalah semua pendidik harus sudah divaksin.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tuban Bambang Priyo Utomo menjelaskan masih banyak guru yang menolak divaksin. Guru yang menolak vaksin tersebut tersebar di semua jenjang. Dia menegaskan, PTM tidak akan digelar di sekolah yang masih ada guru yang menolak divaksin. ‘’Kalau ada sekolah tatap muka dan ketahuan gurunya masih belum vaksin, PTM akan dibubarkan. Ini demi keselamatan anak didik,” tegas Bambang ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban.

Artinya, jika ada satu guru saja yang belum divaksin, maka lembaga pendidikan tersebut tidak akan diberi izin PTM terbatas sejak awal. Bagi lembaga yang sudah telanjur PTM dan baru diketahui ada guru tak taat vaksin, maka bisa dihentikan saat itu juga.

Baca Juga :  Sidak, Temukan Kosongnya Elpiji 3 Kg

Aturan tegas itu, menurut Bambang, menimbang masih banyak guru yang tak memenuhi undangan untuk vaksin. Padahal, waktu untuk vaksinasi guru tersisa 12 hari lagi. Dokter lulusan Universitas Brawijaya (UB) Malang ini mengatakan, vaksin guru dikebut karena untuk melindungi siswa dan pendidik lain. Meski pada akhirnya yang sudah divaksin tetap bisa tertular, setidaknya ada kekebalan kelompok untuk meminimalisir adanya klaster di sekolah.

‘’Jika yang sudah vaksin saja tetap bisa tertular, bagaimana yang tidak divaksin sama sekali? Vaksin untuk membentuk perlin dungan kelompok,” kata dia.

Mantan kepala Puskesmas Tam bakboyo ini menegaskan, tim satgas memiliki data siapa saja guru yang sudah divaksin dan belum. Sehingga, jika hingga 12 Juli masih ada guru yang belum divaksin, tim satgas tidak segan mendatangi lembaga pendidikan tersebut.

Baca Juga :  Pencari Ikan Diduga Tenggelam di Sungai Pacal

‘’Guru di TK, RA, MI, SD, MTs, SMP, MA, dan SMA masih banyak yang tidak memenuhi undangan vaksin di puskesmas,” tegas Bambang. Mayoritas guru yang menolak vaksin tersebut berada di sekolah pinggir kawasan kota.

Alasan mereka menolak beragam. Ada yang takut jarum, ada yang takut efek samping, dan ketakutan lainnya. Padahal, kata Bambang, negara sudah menjamin vaksin aman dan halal untuk siapa pun. ‘’Vaksin sudah menjadi program nasional yang wajib diikuti masyarakat usia 18 plus,’’ tuturnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/