alexametrics
26.8 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Selama Pembelajaran Jarak Jauh, 42 Siswa Pilih Menikah

Radar Bojonegoro – Dampak pembelajaran jarak jauh (PJJ) terlalu lama, peserta didik memilih putus sekolah. Dinas Pendidikan (Disdik) Blora mencatat ada 179 siswa putus sekolah selama PJJ 2021 dari jenjang SD, SMP hingga SMA.

Rinciannya, jenjang MI ada 2 sekolah dan 5 siswa putus sekolah, SMPN 28 sekolah dengan 71 siswa, MTs 16 sekolah dengan 30 siswa, SMA 2 sekolah dan 2 siswa, SMK 16 sekolah dengan 58 siswa, dan MA 7 sekolah dengan 13 siswa. Kepala Disdik Blora Hendi Purnomo mengatakan, dengan tingginya angka putus sekolah selama PJJ pihaknya merasa prihatin.

Karena mereka putus sekolah itu ada berbagai alasan. Seperti menikah ada 42 siswa, bekerja 85 siswa, jadi anak jalanan 15 siswa dan alasan lainnya seperti meninggal atau sakit mencapai 37 siswa. Dengan jumlah siswa putus sekolah yang begitu besar pihaknya meminta kepada kepala sekolah untuk mengajak kembali siswa-siswinya yang putus sekolah untuk sekolah kembali. ‘’Untuk yang sudah nikah kami tidak bisa apa-apa. Yang bekerja masih kami usahakan mau sekolah lagi,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Staf Khusus Bupati Blora Tak Bisa Dianggarkan di APBD

Menurut Hendi, pihaknya kemudian melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Ini dilakukan agar siswa yang putus sekolah bisa ditekan jangan sampai bertambah lagi. Sementara itu, Kasi Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Blora Slamet Dwi Cahyono menambahkan, dengan dilaksanakan PTM terbatas seratus persen di SD dan SMP diharapkan bisa mencegah adanya siswa kembali putus sekolah.

‘’Selain itu disdik juga melakukan koordinasi dengan lintas sektoral dengan OPD lain, seperti Bappeda , camat,’’ ujarnya.

Menurut dia, Bappeda akan memetakan permasalahan anak tidak sekolah. Kemudian nantinya akan ada program ayo kembali ke sekolah. Itu tujuannya mengurangi anak putus sekolah. ‘’Diharapkannya bisa kembali ke sekolah lagi, jadi semua unsur akan terlibat untuk mencari data anak yang putus sekolah,’’ imbuhnya.

Baca Juga :  Kades Blora Buka Pintu Darurat

Salah satunya untuk menggerakkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Jadi nanti bagi yang usianya sudah lebih tua padahal belum lulus SMP atau SMA bisa ikut di PKBM. Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Pemerintahan Dan Sosial Budaya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Blora Mahbub Djunaidi mengatakan, angka anak putus sekolah di Blora cukup tinggi.

‘’Untuk menanggulangi semakin tingginya anak putus sekolah di Blora sudah dibentuk tim penanggulangan anak putus sekolah,’’ ujarnya.

Adapun untuk jumlah anak putus sekolah. Dari data yang diterima oleh Bappeda pada 2019 lalu ada 779 siswa putus sekolah. Itu dari data dapodik 2019. Data ini secara menyeluruh dari usia 7 – 18 tahun. ‘’Untuk alasannya umum karena ekonomi, kemudian anak bermasalah dengan hukum dan malas belajar,’’ jelasnya.

Radar Bojonegoro – Dampak pembelajaran jarak jauh (PJJ) terlalu lama, peserta didik memilih putus sekolah. Dinas Pendidikan (Disdik) Blora mencatat ada 179 siswa putus sekolah selama PJJ 2021 dari jenjang SD, SMP hingga SMA.

Rinciannya, jenjang MI ada 2 sekolah dan 5 siswa putus sekolah, SMPN 28 sekolah dengan 71 siswa, MTs 16 sekolah dengan 30 siswa, SMA 2 sekolah dan 2 siswa, SMK 16 sekolah dengan 58 siswa, dan MA 7 sekolah dengan 13 siswa. Kepala Disdik Blora Hendi Purnomo mengatakan, dengan tingginya angka putus sekolah selama PJJ pihaknya merasa prihatin.

Karena mereka putus sekolah itu ada berbagai alasan. Seperti menikah ada 42 siswa, bekerja 85 siswa, jadi anak jalanan 15 siswa dan alasan lainnya seperti meninggal atau sakit mencapai 37 siswa. Dengan jumlah siswa putus sekolah yang begitu besar pihaknya meminta kepada kepala sekolah untuk mengajak kembali siswa-siswinya yang putus sekolah untuk sekolah kembali. ‘’Untuk yang sudah nikah kami tidak bisa apa-apa. Yang bekerja masih kami usahakan mau sekolah lagi,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Astaga, Jarum Tertinggal Usai Melahirkan

Menurut Hendi, pihaknya kemudian melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Ini dilakukan agar siswa yang putus sekolah bisa ditekan jangan sampai bertambah lagi. Sementara itu, Kasi Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Blora Slamet Dwi Cahyono menambahkan, dengan dilaksanakan PTM terbatas seratus persen di SD dan SMP diharapkan bisa mencegah adanya siswa kembali putus sekolah.

‘’Selain itu disdik juga melakukan koordinasi dengan lintas sektoral dengan OPD lain, seperti Bappeda , camat,’’ ujarnya.

Menurut dia, Bappeda akan memetakan permasalahan anak tidak sekolah. Kemudian nantinya akan ada program ayo kembali ke sekolah. Itu tujuannya mengurangi anak putus sekolah. ‘’Diharapkannya bisa kembali ke sekolah lagi, jadi semua unsur akan terlibat untuk mencari data anak yang putus sekolah,’’ imbuhnya.

Baca Juga :  Kecelakaan Truk Vs Truk, Diduga Sopir Mengantuk

Salah satunya untuk menggerakkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Jadi nanti bagi yang usianya sudah lebih tua padahal belum lulus SMP atau SMA bisa ikut di PKBM. Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Pemerintahan Dan Sosial Budaya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Blora Mahbub Djunaidi mengatakan, angka anak putus sekolah di Blora cukup tinggi.

‘’Untuk menanggulangi semakin tingginya anak putus sekolah di Blora sudah dibentuk tim penanggulangan anak putus sekolah,’’ ujarnya.

Adapun untuk jumlah anak putus sekolah. Dari data yang diterima oleh Bappeda pada 2019 lalu ada 779 siswa putus sekolah. Itu dari data dapodik 2019. Data ini secara menyeluruh dari usia 7 – 18 tahun. ‘’Untuk alasannya umum karena ekonomi, kemudian anak bermasalah dengan hukum dan malas belajar,’’ jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/