alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Diet Plastik, Yuk Bungkus Daging Kurban Dengan Daun Atau Besek Bambu

Radar Bojonegoro – Penggunaan bungkus plastik ketika momen bagi-bagi daging kurban sebaiknya dikurangi. Itu mengingat masjid, musala, hingga surau perkampungan akan menyalurkan daging kurban. Namun, diprediksi masih banyak panitia yang membagikan daging memakai bungkus keresek atau plastik. Bahkan, sejumlah panitia kurban mulai menyablonkan plastik sebagai bungkus daging kurban.

‘’Iya orderan sablon bungkus plastik kurban mulai ramai,’’ kata salah satu penyedia sablon asal Kelurahan Ngrowo yang enggan disebutkan namanya kemarin. Sejumlah pemerhati lingkungan dan stakeholder menyarankan agar panitia pembagian kurban diet plastik.

Setidaknya ada beberapa opsi pengganti bungkus daging kurban lebih ramah lingkungan. Ranitya Nurlita salah satu aktivis lingkungan asal Bojonegoro mere komendasikan besek (anyaman) bambu sebagai bungkus daging kurban.

Opsi lainnya, yakni memakai daun jati, daun pisang, daun pepaya, atau tas kain. Menurut Lita, kesadaran masyarakat mengganti bungkus daging kurban tidak lagi tas keresek mulai tumbuh. Namun, ia akui belum bisa merata. Karena memang mengubah kebiasaan masyarakat butuh waktu.

Baca Juga :  Gus Arif Nakhodai Unugiri Baru

Lita mencontohkan, ada ide kampanye dengan mengajak orang sekitar patungan beli besek untuk membungkus daging kurban. “Ada komunitas Saya Pilih Bumi yang kampanye patungan beli besek melalui Kita Bisa. Kampanye itu bisa diimplemetasikan di Bojonegoro,” ujar aktivis kerap menghadiri acara lingkungan di kancar internasional itu.

Ia menegaskan, kampanye diet plastik harus ditularkan secara terus menerus agar semakin masif dampak positif bisa dirasakan. Karena upaya yang dilakukan saat ini akan jadi warisan bagi anak cucu kelak. Adapun ketika kelak diet plastik telah jadi budaya, masih belum usai.

Kompleksitas penanganan sampah ini tidak bisa dianggap sepele. Karena tak hanya kampanye diet plastik atau buang sampah pada tempat nya saja yang harus digalakkan. Tetapi, juga masyarakat harus memahami cara mengklasifikasikan jenis sampah.

Baca Juga :  Remaja 17 Tahun Tewas Tenggelam

Sehingga, idealnya tiap desa punya bank sampah. “Pengelolaan sampah yang baik tentu akan berdampak pada kondisi lingkungan yang lebih sehat,” jelasnya. Tahun lalu, sejumlah masjid mulai menghindari plastik atau keresek sebagai bungkus daging kurban.

Seperti masjid di Polres Bojonegoro membagikan daging kurban dengan membungkus daun jati. Terpisah, salah satu anggota komunitas Sedekah Jumat Berkah (Sejubah) Bojonegoro Achmad Agung Ferrianto mengungkapkan, bahwa komunitasnya saat berbagi daging kurban akan gunakan besek bambu.

Rencananya akan membagikan daging-daging kurban itu kepada duafa dan warga usia lanjut atau lansia. Komunitas ini akan menyem belih satu ekor sapi dan dua ekor kambing. “Selain diet plastik, kalau kita pakai besek bambu bisa membantu para penjual atau perajin besek bambu. Kemungkinan akan bagikan daging kurban lebih dari dua ratus bungkus,” imbuhnya. 

Radar Bojonegoro – Penggunaan bungkus plastik ketika momen bagi-bagi daging kurban sebaiknya dikurangi. Itu mengingat masjid, musala, hingga surau perkampungan akan menyalurkan daging kurban. Namun, diprediksi masih banyak panitia yang membagikan daging memakai bungkus keresek atau plastik. Bahkan, sejumlah panitia kurban mulai menyablonkan plastik sebagai bungkus daging kurban.

‘’Iya orderan sablon bungkus plastik kurban mulai ramai,’’ kata salah satu penyedia sablon asal Kelurahan Ngrowo yang enggan disebutkan namanya kemarin. Sejumlah pemerhati lingkungan dan stakeholder menyarankan agar panitia pembagian kurban diet plastik.

Setidaknya ada beberapa opsi pengganti bungkus daging kurban lebih ramah lingkungan. Ranitya Nurlita salah satu aktivis lingkungan asal Bojonegoro mere komendasikan besek (anyaman) bambu sebagai bungkus daging kurban.

Opsi lainnya, yakni memakai daun jati, daun pisang, daun pepaya, atau tas kain. Menurut Lita, kesadaran masyarakat mengganti bungkus daging kurban tidak lagi tas keresek mulai tumbuh. Namun, ia akui belum bisa merata. Karena memang mengubah kebiasaan masyarakat butuh waktu.

Baca Juga :  Bakal Ada Tambahan 4.000 Blangko E-KTP

Lita mencontohkan, ada ide kampanye dengan mengajak orang sekitar patungan beli besek untuk membungkus daging kurban. “Ada komunitas Saya Pilih Bumi yang kampanye patungan beli besek melalui Kita Bisa. Kampanye itu bisa diimplemetasikan di Bojonegoro,” ujar aktivis kerap menghadiri acara lingkungan di kancar internasional itu.

Ia menegaskan, kampanye diet plastik harus ditularkan secara terus menerus agar semakin masif dampak positif bisa dirasakan. Karena upaya yang dilakukan saat ini akan jadi warisan bagi anak cucu kelak. Adapun ketika kelak diet plastik telah jadi budaya, masih belum usai.

Kompleksitas penanganan sampah ini tidak bisa dianggap sepele. Karena tak hanya kampanye diet plastik atau buang sampah pada tempat nya saja yang harus digalakkan. Tetapi, juga masyarakat harus memahami cara mengklasifikasikan jenis sampah.

Baca Juga :  Pembangunan Jembatan Buluroto-Tutup Blora Butuh Rp 11 Miliar

Sehingga, idealnya tiap desa punya bank sampah. “Pengelolaan sampah yang baik tentu akan berdampak pada kondisi lingkungan yang lebih sehat,” jelasnya. Tahun lalu, sejumlah masjid mulai menghindari plastik atau keresek sebagai bungkus daging kurban.

Seperti masjid di Polres Bojonegoro membagikan daging kurban dengan membungkus daun jati. Terpisah, salah satu anggota komunitas Sedekah Jumat Berkah (Sejubah) Bojonegoro Achmad Agung Ferrianto mengungkapkan, bahwa komunitasnya saat berbagi daging kurban akan gunakan besek bambu.

Rencananya akan membagikan daging-daging kurban itu kepada duafa dan warga usia lanjut atau lansia. Komunitas ini akan menyem belih satu ekor sapi dan dua ekor kambing. “Selain diet plastik, kalau kita pakai besek bambu bisa membantu para penjual atau perajin besek bambu. Kemungkinan akan bagikan daging kurban lebih dari dua ratus bungkus,” imbuhnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/