alexametrics
24.4 C
Bojonegoro
Thursday, June 30, 2022

Terpaksa Membuat Barbel dari Semen

Mengharumkan Blora dari Tetesan Air Mata

BLORA, Radar Bojonegoro – Memasuki Gedung di Jalan Agil Kusumadya, Blora. Dihiasi debu bercampur serbuk perekat tangan bekas latihan atlet masih menempel di lantai dan dinding.

 

Beberapa matras dari triplek mulai tak utuh, sabuk pelindung perut yang sudah kusam tertempel di dinding dan lempengan besi dengan berat bervariasi. Sederhana, namun banyak prestasi.

 

Gedung pusat pelatihan atlet angkat besi sangat sederhana. Namun, dari keterbatasan itu telah menetaskan atlet juara angkat besi hingga tingkat dunia.

Terbaru, pada ajang Asean Games di Vietnam, dua putra daerah Kota Sate menyumbang medali perak dan perunggu untuk Indonesia. Tetap mengharumkan Blora, meskipun dengan tetesan air mata.

 

Pengurus Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI) Blora Ariningsih menuturkan, gedung pusat latihan atlet angkat besi sudah banyak menelurkan banyak atlet, mulai di tingkat provinsi, nasional, hingga menjadi perwakilan kejuaraan di asia dan dunia. “Iya terbaru saat Sea Game di Vietnam, dua atlet binaan kami mendapatkan perak dan perunggu,” tuturnya saat ditemui di Gedung Koni Blora.

Baca Juga :  Tidak Bisa Menampung Semua Pedagang

 

Ariningsih menjelaskan, rentetan sejarah, alumni PABSI Blora juga pernah mengikuti ajang dunia mewakili Indonesia, seperti Tarso yang mendapatkan emas. Namun, kemudian pindah ke Aceh.

 

Surahmat, Tanti Pratiwi, dan Jasmi di kategori angkat berat, saat ini pindah Kalimantan Selatan.

 

Rentetan nama tersebut jebolan dari akademi angkat besi di Blora, prosesnya mulai diikutkan di tingkat kabupaten, kemudian ikut di kejuaraan provinsi, nasional, hingga dipercaya mewakili Indonesia di ajang internansional. “Jadi memang teman-teman hingga sampai level dunia itu berjenjang, melaui seleksi yang ketat,” jelasnya.

 

Pelatih Angkat Besi Wiji Supartini menambahkan, bangunan gedung yang berdiri sejak 1990 tersebut sudah memunculkan banyak atlet yang berprestasi di tingkat internasional. Namun, keterbatasan sarana masih bmenjadi permasalahan yang perlu diurai.

Baca Juga :  Baru Setahun, Jembatan Kalisari Sudah Ambrol. Ini Penyebabnya

 

Seperti barbel sudah pecah, sepatu sudah banyak yang sobek, sehingga beberapa atlet pakai sepatu untuk sekolah. Sabuk sebagai pengaman perut juga masih kurang, dan deker atau pelindung lulut.

 

“Belum standar, sehingga perlu dukungan juga, karena memang kekurangan dana,” paparnya.

 

Selain barbel, di gedung hanya punya delapan stik penopang lempengan besi, dengan jumlah itu, para atlet terpaksa latihan bergantian. Sebab, saat ini terdapat 20 atlet binaan meliputi usia anak hingga remaja. “Lebih banyak atletnya daripada alatnya, terkadang kami juga inisiatif membuat barbel sendiri dari semen, tapi itu khusus bagi pemula,” jelasnya. (luk/msu)

BLORA, Radar Bojonegoro – Memasuki Gedung di Jalan Agil Kusumadya, Blora. Dihiasi debu bercampur serbuk perekat tangan bekas latihan atlet masih menempel di lantai dan dinding.

 

Beberapa matras dari triplek mulai tak utuh, sabuk pelindung perut yang sudah kusam tertempel di dinding dan lempengan besi dengan berat bervariasi. Sederhana, namun banyak prestasi.

 

Gedung pusat pelatihan atlet angkat besi sangat sederhana. Namun, dari keterbatasan itu telah menetaskan atlet juara angkat besi hingga tingkat dunia.

Terbaru, pada ajang Asean Games di Vietnam, dua putra daerah Kota Sate menyumbang medali perak dan perunggu untuk Indonesia. Tetap mengharumkan Blora, meskipun dengan tetesan air mata.

 

Pengurus Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI) Blora Ariningsih menuturkan, gedung pusat latihan atlet angkat besi sudah banyak menelurkan banyak atlet, mulai di tingkat provinsi, nasional, hingga menjadi perwakilan kejuaraan di asia dan dunia. “Iya terbaru saat Sea Game di Vietnam, dua atlet binaan kami mendapatkan perak dan perunggu,” tuturnya saat ditemui di Gedung Koni Blora.

Baca Juga :  Pemasok Rokok Ilegal Sulit Ditindak

 

Ariningsih menjelaskan, rentetan sejarah, alumni PABSI Blora juga pernah mengikuti ajang dunia mewakili Indonesia, seperti Tarso yang mendapatkan emas. Namun, kemudian pindah ke Aceh.

 

Surahmat, Tanti Pratiwi, dan Jasmi di kategori angkat berat, saat ini pindah Kalimantan Selatan.

 

Rentetan nama tersebut jebolan dari akademi angkat besi di Blora, prosesnya mulai diikutkan di tingkat kabupaten, kemudian ikut di kejuaraan provinsi, nasional, hingga dipercaya mewakili Indonesia di ajang internansional. “Jadi memang teman-teman hingga sampai level dunia itu berjenjang, melaui seleksi yang ketat,” jelasnya.

 

Pelatih Angkat Besi Wiji Supartini menambahkan, bangunan gedung yang berdiri sejak 1990 tersebut sudah memunculkan banyak atlet yang berprestasi di tingkat internasional. Namun, keterbatasan sarana masih bmenjadi permasalahan yang perlu diurai.

Baca Juga :  Delapan Kades Terpilih Dilantik Bersamaan Hari Jadi

 

Seperti barbel sudah pecah, sepatu sudah banyak yang sobek, sehingga beberapa atlet pakai sepatu untuk sekolah. Sabuk sebagai pengaman perut juga masih kurang, dan deker atau pelindung lulut.

 

“Belum standar, sehingga perlu dukungan juga, karena memang kekurangan dana,” paparnya.

 

Selain barbel, di gedung hanya punya delapan stik penopang lempengan besi, dengan jumlah itu, para atlet terpaksa latihan bergantian. Sebab, saat ini terdapat 20 atlet binaan meliputi usia anak hingga remaja. “Lebih banyak atletnya daripada alatnya, terkadang kami juga inisiatif membuat barbel sendiri dari semen, tapi itu khusus bagi pemula,” jelasnya. (luk/msu)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/