alexametrics
30.5 C
Bojonegoro
Thursday, June 30, 2022

Fasilitas Terbatas, Latihan Bergantian

SORE itu, para atlet datang bergantian, ada yang diantar orang tua, sebagian berangkat sendiri, dimulai pemanasan terlebih dahulu sebelum mengangkat beban yang bervariasi.

 

Dengan bergantian, masing-masing anak mengangkat besi-besi dengan berat bervariasi, tangannya menggenggam dan kuda-kuda yang kokoh. Tempat itu seperti menjadi kawah candra di muka untuk menuju mimpi seperti pendahulu yang meraih prestasi.

 

Reihan Dwi Artanto, rutin berlatih lima hari dalam seminggu, hanya dua kali  libur yakni Kamis dan Minggu. Giat berlatihnya bukan tanpa alasan, sebab ingin seperti pendahulu yang menorehkan kebanggan bagi daerah dan nasional.

“Ingin seperti kakak-kakak dahulu disini bisa mewakili sampai tinggat internasional,” ujarnya.

 

Mempunyai keinginan untuk tampil diajang bergengsi internasional, keinginannya untuk menjadi atlet profesional diwadahi dalam latihan-latihan rutin yang digelar.

Baca Juga :  Perindah Dinding dengan Seni Mural

 

Begitupun dengan Novel, salah satu  siswa SMP juga menginginkan hal yang sama untuk menjadi seperti pendahulunya.

 

“Ingin seperti kakak yang mendapat medali di ajang sea game,” jelasnya.

Novel mengaku sudah sejak kelas 4 SD rutin latihan, saat itu masih diantar orang tuanya. Hingga mengikuti kejuaraan tingkat provinsi, pernah mendapatkan juara dua dan satu dalam rentang tahun berbeda. “Untuk saat ini fokus untuk latihan terus agar bisa menjadi juara di tingkat yang lebih atas,” imbuhnya.

 

Pelatih Atlet Angkat Besi Wji Supartini menjelaskan, latihan rutin dilakukan seminggu lima kali, dimulai dari pukul 15.00 hingga 17.00 WIB. Dengan begitu anak-anak terbiasa dengan berat dari barbel dan mempunyai daya tahan tubuh serta otot tangan, kaki, dan perut. “Tujuannya agar mereka terbiasa, dan membentuk otot dan daya tahan tubuh,” bebernya.

Baca Juga :  Kadindagkop Baru Janjikan Perbaiki Birokrasi

 

Wiji mengungkapkan, untuk penjaringan atlet dilakukan pada usia dini, seperti kelas SD. Dimaksudkan memperoleh bibit unggul. Diperkirakan tidak sampai empat tahun dengan latihan rutin dan tekun akan memperoleh prestasi. “Karena untuk memperoleh prestasi membutuhkan proses panjang,” jelasnya.

 

Mencari atlet angkat besi di daerah terasa sulit, karena termasuk cabor yang membutuhkan fisik kuat, kendala lainnya juga karena dorongan orang tua. Selain itu, peminatnya sedikit.

 

Namun, dari sedikit itu lebih fokus untuk menggembleng agar menjadi bibit-bibit unggul. “Semoga dengan mendapatkan medali di sea game, peminatnya lebih banyak lagi,” harapnya.

 

Kelas latihan laki-laki dan perempuan, mulai anak-anak hingga dewasa. (luk/msu)

SORE itu, para atlet datang bergantian, ada yang diantar orang tua, sebagian berangkat sendiri, dimulai pemanasan terlebih dahulu sebelum mengangkat beban yang bervariasi.

 

Dengan bergantian, masing-masing anak mengangkat besi-besi dengan berat bervariasi, tangannya menggenggam dan kuda-kuda yang kokoh. Tempat itu seperti menjadi kawah candra di muka untuk menuju mimpi seperti pendahulu yang meraih prestasi.

 

Reihan Dwi Artanto, rutin berlatih lima hari dalam seminggu, hanya dua kali  libur yakni Kamis dan Minggu. Giat berlatihnya bukan tanpa alasan, sebab ingin seperti pendahulu yang menorehkan kebanggan bagi daerah dan nasional.

“Ingin seperti kakak-kakak dahulu disini bisa mewakili sampai tinggat internasional,” ujarnya.

 

Mempunyai keinginan untuk tampil diajang bergengsi internasional, keinginannya untuk menjadi atlet profesional diwadahi dalam latihan-latihan rutin yang digelar.

Baca Juga :  Warga Tolak Markas Pemuda Pancasila

 

Begitupun dengan Novel, salah satu  siswa SMP juga menginginkan hal yang sama untuk menjadi seperti pendahulunya.

 

“Ingin seperti kakak yang mendapat medali di ajang sea game,” jelasnya.

Novel mengaku sudah sejak kelas 4 SD rutin latihan, saat itu masih diantar orang tuanya. Hingga mengikuti kejuaraan tingkat provinsi, pernah mendapatkan juara dua dan satu dalam rentang tahun berbeda. “Untuk saat ini fokus untuk latihan terus agar bisa menjadi juara di tingkat yang lebih atas,” imbuhnya.

 

Pelatih Atlet Angkat Besi Wji Supartini menjelaskan, latihan rutin dilakukan seminggu lima kali, dimulai dari pukul 15.00 hingga 17.00 WIB. Dengan begitu anak-anak terbiasa dengan berat dari barbel dan mempunyai daya tahan tubuh serta otot tangan, kaki, dan perut. “Tujuannya agar mereka terbiasa, dan membentuk otot dan daya tahan tubuh,” bebernya.

Baca Juga :  Kadindagkop Baru Janjikan Perbaiki Birokrasi

 

Wiji mengungkapkan, untuk penjaringan atlet dilakukan pada usia dini, seperti kelas SD. Dimaksudkan memperoleh bibit unggul. Diperkirakan tidak sampai empat tahun dengan latihan rutin dan tekun akan memperoleh prestasi. “Karena untuk memperoleh prestasi membutuhkan proses panjang,” jelasnya.

 

Mencari atlet angkat besi di daerah terasa sulit, karena termasuk cabor yang membutuhkan fisik kuat, kendala lainnya juga karena dorongan orang tua. Selain itu, peminatnya sedikit.

 

Namun, dari sedikit itu lebih fokus untuk menggembleng agar menjadi bibit-bibit unggul. “Semoga dengan mendapatkan medali di sea game, peminatnya lebih banyak lagi,” harapnya.

 

Kelas latihan laki-laki dan perempuan, mulai anak-anak hingga dewasa. (luk/msu)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/