alexametrics
27.5 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Pelajar dan Remaja Berpadu Menjaga Seni Kerakyatan Blora

Sentuhan Baru Barongan

BLORA, Radar Bojonegoro – Suara gamelan melantun ritmis. Langkah demi langkah sembilan penari jaranan mulai menari dengan gemulai. Kadang menari tempo cepat. Menyesuaikan pukulan dari perpaduan ganong, saron, dan kendang.

 

Sore itu, para pelaku seni barongan sedang berlatih untuk pertunjukan. Menariknya, rerata para penari masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA).

Begitupun penabuh banyak dari kalangan remaja. Regenerasi penerus kesenian Barongan tidak pernah pudar ditangan dingin Adi Wibowo. Optimismenya terhadap perkembangan kesenian daerah terus ditularkan kepada generasi muda.

 

“Kesenian kerakyatan tanpa regenerasi dan pesan moral pasti akan hilang,” julas pria yang bertempat di Desa Kunden Kecamatan Blora Kota, Blora.

 

Itulah alasan Ia tetap melestarikan dan menjaga kesenian barongan. Regenerasi pelaku seni diambil dari anak-anak muda, supaya lebih mendekatkan kepada generasi akan datang. Jangan sampai kesenian hanya dinikmati generasi tua dan berhenti, tidak berkembang. “Barongan adalah kesenian khas Blora yang dibawa oleh Samin, generasi muda harus mengerti dan melestarikan,” ujar pria pernah menjadi Barong tersebut.

Baca Juga :  Bukan Bendera HTI, tapi Bendera Tauhid

 

Didik sapaan akrabnya, sudah menekuni kesenian barong sejak muda, hingga akhirnya pada 1999, ia membuat perkumpulan dinamai Risang Guntur Seto (RGS). Nilai moral dalam setiap tarian dan bentuk topeng tetap dijaga.

 

Menurut Didik, pemuda saat ini masih belajar kesenian barongan di paguyubannya sudah sampai generasi ketujuh. Semua pemain dilatih karakter masing-masing topeng, ada barongan dengan topeng berbentuk harimau, Joko Lodro. Sedangkan penthulan ada tiga yakni Bujang Ganong, Gainah dan Jaranan. “Yang Joko Lodro saya kembangkan, jadi tidak warna merah saja, ada warna hitam,” jelasnya.

 

Didik memilih bahan sendiri untuk diberikan kepada pengrajin barong untuk mengukir bentuk. Penyelesaian seperti pemberian rambut, jamang atau mahkota dilakukan sendiri. Ia juga memberi sompyang untuk nambah kesan bagi penampilan barongan.

Baca Juga :  Agar Tetap Berjualan, Ukuran Tempe di Blora Diperkecil

 

Dalam proses berkesenian, Didik selalu menambahkan hal yang baru tanpa mengubah substansi barongan. Penambahan seperti sompyang juga dimaksudkan untuk mengubah kesan dari Gembyong Amijoyo yang garang. “Gembong amijoyo itu satria bukan sosok penjahat menyeramkan,” katanya.

 

Hal itu dimaksudkan mendekatkan generasi muda agar lebih tertarik. Sebab dahulu barongan cuma untuk hal sifatnya ritual. Sekarang barongan bisa tampil di setiap event baik nasional maupun internasional. “Barongan kami sudah dipentaskan di tingkat nasional maupun internasional, dan mendapat juara,” ungkapnya. (luk/rij)

BLORA, Radar Bojonegoro – Suara gamelan melantun ritmis. Langkah demi langkah sembilan penari jaranan mulai menari dengan gemulai. Kadang menari tempo cepat. Menyesuaikan pukulan dari perpaduan ganong, saron, dan kendang.

 

Sore itu, para pelaku seni barongan sedang berlatih untuk pertunjukan. Menariknya, rerata para penari masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA).

Begitupun penabuh banyak dari kalangan remaja. Regenerasi penerus kesenian Barongan tidak pernah pudar ditangan dingin Adi Wibowo. Optimismenya terhadap perkembangan kesenian daerah terus ditularkan kepada generasi muda.

 

“Kesenian kerakyatan tanpa regenerasi dan pesan moral pasti akan hilang,” julas pria yang bertempat di Desa Kunden Kecamatan Blora Kota, Blora.

 

Itulah alasan Ia tetap melestarikan dan menjaga kesenian barongan. Regenerasi pelaku seni diambil dari anak-anak muda, supaya lebih mendekatkan kepada generasi akan datang. Jangan sampai kesenian hanya dinikmati generasi tua dan berhenti, tidak berkembang. “Barongan adalah kesenian khas Blora yang dibawa oleh Samin, generasi muda harus mengerti dan melestarikan,” ujar pria pernah menjadi Barong tersebut.

Baca Juga :  Belum Tentukan Dasar Hukum Gudang Pasar

 

Didik sapaan akrabnya, sudah menekuni kesenian barong sejak muda, hingga akhirnya pada 1999, ia membuat perkumpulan dinamai Risang Guntur Seto (RGS). Nilai moral dalam setiap tarian dan bentuk topeng tetap dijaga.

 

Menurut Didik, pemuda saat ini masih belajar kesenian barongan di paguyubannya sudah sampai generasi ketujuh. Semua pemain dilatih karakter masing-masing topeng, ada barongan dengan topeng berbentuk harimau, Joko Lodro. Sedangkan penthulan ada tiga yakni Bujang Ganong, Gainah dan Jaranan. “Yang Joko Lodro saya kembangkan, jadi tidak warna merah saja, ada warna hitam,” jelasnya.

 

Didik memilih bahan sendiri untuk diberikan kepada pengrajin barong untuk mengukir bentuk. Penyelesaian seperti pemberian rambut, jamang atau mahkota dilakukan sendiri. Ia juga memberi sompyang untuk nambah kesan bagi penampilan barongan.

Baca Juga :  Bukan Bendera HTI, tapi Bendera Tauhid

 

Dalam proses berkesenian, Didik selalu menambahkan hal yang baru tanpa mengubah substansi barongan. Penambahan seperti sompyang juga dimaksudkan untuk mengubah kesan dari Gembyong Amijoyo yang garang. “Gembong amijoyo itu satria bukan sosok penjahat menyeramkan,” katanya.

 

Hal itu dimaksudkan mendekatkan generasi muda agar lebih tertarik. Sebab dahulu barongan cuma untuk hal sifatnya ritual. Sekarang barongan bisa tampil di setiap event baik nasional maupun internasional. “Barongan kami sudah dipentaskan di tingkat nasional maupun internasional, dan mendapat juara,” ungkapnya. (luk/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/