alexametrics
28.9 C
Bojonegoro
Thursday, August 18, 2022

130 Orang Terserang DB, Dua Meninggal

- Advertisement -

BLORA – Demam berdarah (DB) sampai Februari ini masih mengganas. Sampai bulan kedua 2019 ini sudah ada 2 anak meninggal karena DB.

Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Sutik mengatakan, selama Januari hingga Minggu ketiga Februari ini sudah ada 130 orang menjadi korban nyamuk Aedes aegypti. Dari kesekian korban, dua di antaranya meninggal dunia.

“Keduanya masih anak-anak berumur di bawah 15 tahun,” ujarnya. Kedua korban itu dari Kecamatan Kedungtuban dan Japah.

Penyebabnya, lanjut Sutik, karena keterlambatan orang tua saat merujuk anaknya ke fasilitas kesehatan. Sehingga saat ditangani sudah dalam kondisi parah.

Baca Juga :  Bangunan Milik Pengusaha Tak Dibongkar
- Advertisement -

Meski saat ini jumlah penderita DB cukup tinggi. Menurut Sutik, bila dilihat sejak November, Desember 2018 dan Januari 2019 lalu jumlah penderita pada Februari ini semakin berkurang. “Memang dengan kondisi yang panas seperti ini sudah mulai berkurang,” ujarnya.

Tingginya penderita DB saat ini paling banyak adalah di Blora kota. Terbanyak 35 penderita di Kecamatan Blora, Jepon 19, Cepu 11, Randublatung 15, dan Banjarejo 12 orang. “Selebihnya di kecamatan lain,” ujarnya.

Selain itu, peringkat Blora sebagai salah satu kabupaten tertinggi penderita DB sudah menurun. Sebelumnya masuk peringkat 2 di Jawa Tengah. Kini kalah jauh dari Semarang.

“Kalau sekarang sudah menurun mungkin masih 10 besar,” ujarnya.

Baca Juga :  Tak Sepakat Bahas APBD di Luar Blora

Sutik juga menyarankan warga untuk melakukan penebaran abate (abatisasi) dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Sedangkan fogging menurut Sutik, hanya membunuh nyamuk dewasa. Setelah fogging hari pertama nyamuk memang akan mati, tapi keesokan paginya sudah dipastikan akan banyak lagi.

Sebab meski nyamuk dewasa mati, jentik dari nyamuk Aedes aegypti tidak mati. Padahal di dalam jentik sudah ada yang membawa virus dengue. Dan itu menimbulkan efek resisten terhadap nyamuk itu sendiri.

Belum lagi biaya fogging itu mahal, satu titik bisa menghabiskan dana Rp 1,8 juta sampai Rp 2 juta. “Tindakan yang tepat itu adalah PSN,” imbuhnya.

BLORA – Demam berdarah (DB) sampai Februari ini masih mengganas. Sampai bulan kedua 2019 ini sudah ada 2 anak meninggal karena DB.

Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Sutik mengatakan, selama Januari hingga Minggu ketiga Februari ini sudah ada 130 orang menjadi korban nyamuk Aedes aegypti. Dari kesekian korban, dua di antaranya meninggal dunia.

“Keduanya masih anak-anak berumur di bawah 15 tahun,” ujarnya. Kedua korban itu dari Kecamatan Kedungtuban dan Japah.

Penyebabnya, lanjut Sutik, karena keterlambatan orang tua saat merujuk anaknya ke fasilitas kesehatan. Sehingga saat ditangani sudah dalam kondisi parah.

Baca Juga :  Tersisa 176 Jabatan Perades
- Advertisement -

Meski saat ini jumlah penderita DB cukup tinggi. Menurut Sutik, bila dilihat sejak November, Desember 2018 dan Januari 2019 lalu jumlah penderita pada Februari ini semakin berkurang. “Memang dengan kondisi yang panas seperti ini sudah mulai berkurang,” ujarnya.

Tingginya penderita DB saat ini paling banyak adalah di Blora kota. Terbanyak 35 penderita di Kecamatan Blora, Jepon 19, Cepu 11, Randublatung 15, dan Banjarejo 12 orang. “Selebihnya di kecamatan lain,” ujarnya.

Selain itu, peringkat Blora sebagai salah satu kabupaten tertinggi penderita DB sudah menurun. Sebelumnya masuk peringkat 2 di Jawa Tengah. Kini kalah jauh dari Semarang.

“Kalau sekarang sudah menurun mungkin masih 10 besar,” ujarnya.

Baca Juga :  Bupati Minta Rapat OPD Tak Gunakan Botol Plastik

Sutik juga menyarankan warga untuk melakukan penebaran abate (abatisasi) dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Sedangkan fogging menurut Sutik, hanya membunuh nyamuk dewasa. Setelah fogging hari pertama nyamuk memang akan mati, tapi keesokan paginya sudah dipastikan akan banyak lagi.

Sebab meski nyamuk dewasa mati, jentik dari nyamuk Aedes aegypti tidak mati. Padahal di dalam jentik sudah ada yang membawa virus dengue. Dan itu menimbulkan efek resisten terhadap nyamuk itu sendiri.

Belum lagi biaya fogging itu mahal, satu titik bisa menghabiskan dana Rp 1,8 juta sampai Rp 2 juta. “Tindakan yang tepat itu adalah PSN,” imbuhnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/