alexametrics
27 C
Bojonegoro
Sunday, May 22, 2022

75 Warga Terpapar DBD

BLORA, Radar Bojonegoro – Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim pengghujan akan berlanggsung sampai April. Selain bencana Hidrometeorologi dan Covid-19, masyarakat perlu waspada pada penyakit demam berdarah dengue (DBD), sebab rerata pasiennya mengalami kenaikan saat musim penghujan.

Sesuai data terakhir di dinas kesehatan (dinkes) menyebutkan, Kecamatan Blora Kota mengantongi data tertinggi kasus DBD.

Kasi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Blora Sutik memaparkan data awal bulan ini jumlah pasien yang terpapar DB berjumlah 75 kasus, yang tersebar merata di setiap kecamatan. Namun  terdapat lima kecamatan tertinggi yakni Puskesmas Blora. Puskesmas Cepu, Ngawen, Tunjungan, dan Jepon. ‘’Tertinggi ada di Kecamatan Blora,’’ katanya.

Baca Juga :  Bupati : Santri Harus Melawan Hoax

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blora Edi Widayat menambahkan, kasus DBD mengalami kenaikan seiring musim penghujan, sehingga masyarakat diimbau waspada. Salah satunya dengan menerapkan program 3M yakni menguras tempat penampungan air, mengubur barang bekas dan menutup penampungan air dan pembasmi sarang nyamuk (PSN). 

“Tindakan pencegahan sederhana yang perlu dilakukan masyarakat terjangkit DBD,” tuturnya.  

Edi mengungkapkan, tindakan tersebut lebih efektif dibandinggkan dengan melakukan fogging yang dilakukan pemerintah daerah. Sebab, fogging hanya membunuh nyamuk besar, sedangkan untuk telur dan jentik-jentik yang tumbuh menjadi nyamuk tidak mati.  “Pemberantasan sarang nyamuk melalui foging tidak ada gunanya jika tidak dibarengi degan 3M,” terangnya.

Menurutnya, satu nyamuk bisa bertelur sampai 200 ekor, sedangkan dalam waktu tiga sampai tujuh hari bisa menetas. Jika terdapat pasien terjangkit DBD dan ada idikasi penyebaran, akan menerjunkan tim untuk melakukan fogging. “Kami terjunkan untuk fogging setiap ada kasus DBD di desa-desa,“ ujarnya.

Baca Juga :  Senja di Angkringan Jembatan Padangan-Cepu

Selain DB, dinkes juga mewanti-wanti masyarakat terhadap perkembangan Covid-19 saat musim penghujan. Terutama untuk varian Omnicorn, walaupun belum ada warga yang terjangkit, warga harus tetap mematuhi protokol kesehatan. “Kami masih melakukan vaksinasi tahap kedua dan ketiga bagi masyarakat umum, terutama lansia,” ungkapnya. (luk)

BLORA, Radar Bojonegoro – Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim pengghujan akan berlanggsung sampai April. Selain bencana Hidrometeorologi dan Covid-19, masyarakat perlu waspada pada penyakit demam berdarah dengue (DBD), sebab rerata pasiennya mengalami kenaikan saat musim penghujan.

Sesuai data terakhir di dinas kesehatan (dinkes) menyebutkan, Kecamatan Blora Kota mengantongi data tertinggi kasus DBD.

Kasi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Blora Sutik memaparkan data awal bulan ini jumlah pasien yang terpapar DB berjumlah 75 kasus, yang tersebar merata di setiap kecamatan. Namun  terdapat lima kecamatan tertinggi yakni Puskesmas Blora. Puskesmas Cepu, Ngawen, Tunjungan, dan Jepon. ‘’Tertinggi ada di Kecamatan Blora,’’ katanya.

Baca Juga :  Masih ­Seleksi Calon Pedagang

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blora Edi Widayat menambahkan, kasus DBD mengalami kenaikan seiring musim penghujan, sehingga masyarakat diimbau waspada. Salah satunya dengan menerapkan program 3M yakni menguras tempat penampungan air, mengubur barang bekas dan menutup penampungan air dan pembasmi sarang nyamuk (PSN). 

“Tindakan pencegahan sederhana yang perlu dilakukan masyarakat terjangkit DBD,” tuturnya.  

Edi mengungkapkan, tindakan tersebut lebih efektif dibandinggkan dengan melakukan fogging yang dilakukan pemerintah daerah. Sebab, fogging hanya membunuh nyamuk besar, sedangkan untuk telur dan jentik-jentik yang tumbuh menjadi nyamuk tidak mati.  “Pemberantasan sarang nyamuk melalui foging tidak ada gunanya jika tidak dibarengi degan 3M,” terangnya.

Menurutnya, satu nyamuk bisa bertelur sampai 200 ekor, sedangkan dalam waktu tiga sampai tujuh hari bisa menetas. Jika terdapat pasien terjangkit DBD dan ada idikasi penyebaran, akan menerjunkan tim untuk melakukan fogging. “Kami terjunkan untuk fogging setiap ada kasus DBD di desa-desa,“ ujarnya.

Baca Juga :  Bupati Blora Inginkan Gebrakan dan Inovasi

Selain DB, dinkes juga mewanti-wanti masyarakat terhadap perkembangan Covid-19 saat musim penghujan. Terutama untuk varian Omnicorn, walaupun belum ada warga yang terjangkit, warga harus tetap mematuhi protokol kesehatan. “Kami masih melakukan vaksinasi tahap kedua dan ketiga bagi masyarakat umum, terutama lansia,” ungkapnya. (luk)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/