alexametrics
30.7 C
Bojonegoro
Monday, May 16, 2022

Angka Turun Jadi 9,23 Persen

Jumlah Stunting di Blora Berkurang 4.172 Balita

BLORA, Radar Bojonegoro – Persentase stunting daerah terus mengalami penurunan. Saat ini tinggal 9,23 persen dari tahun sebelumnya 13 persen. Ditargetkan pada 2024 mendatang tidak ada kasus stunting, karena akan berdampak pada generasi penerus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Blora Edi Widayat mengatakan, angka stunting terus menurun. Hal tersebut berkat kerja keras dan lintas sektoral. “Saat ini persentase stunting di Kabupaten berada pada nilai 9,23 persen,” jelasnya.

Edi menegaskan, penanganan stunting terdapat di 41 desa dan empat kelurahan prioritas. Stunting atau gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis. Terutama pada seribu hari kelahiran pada anak-anak sampai usia 2 tahun. “Gizi buruk, tingginya pernikahan dini dan pola asuh ini yang menyebabkan stunting,” ujarnya.

Baca Juga :  Terima Kuota 286 CJH, 20 Jemaah di Blora Mundur

Angka stunting tersebar di beberapa kecamatan. Meliputi Kunduran, Blora, Cepu, Kedungtuban, Ngawen, Sambong, Banjarejo, Doplang, Randublatung, dan Kunduran.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Blora Diah Pusparini menambahkan, angka stunting terus mengalami penurunan. Dari tahun sebelumnya yakni 13 persen turun menjadi 9,23 persen atau sekitar 4.172 balita. Total 55 ribu balita. Sedangkan untuk ibu hamil setahun 12 ribuan. “Turun 4 persen lebih,” terangnya.

Menurutnya, selama ini telah melakukan upaya. Mulai pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif, imunisasi lengkap, dan pemberian makanan tambahan. “Kami di lapangan melakukan itu. Alhamdulillah masyarakat saat ini sudah mulai sadar pentingnya pencegahan stunting. Terbukti angka stunting menurun,” jelasnya.

Secara kasat mata, menurut dia, anak kategori stunting itu bisa dilihat secara jelas. Terutama tinggi badan anak. “Selain itu bisa dilihat dari kekurusan anak,” tambahnya.

Baca Juga :  Amankan Sembilan Tersangka Curanmor

Untuk mencegah stunting butuh asupan makan daging, telur ayam, dan ikan. Berbagai inovasi dilakukan Pemkab Blora menurunkan angka stunting. Mulai dari telur maksi, rembo setia, gerdu kia-kb, dawis penting. Berikutnya, kelor diolah menjadi kapsul bagi ibu menyusui untuk perkembangan anak hingga pemberian protein. (luk/rij)

BLORA, Radar Bojonegoro – Persentase stunting daerah terus mengalami penurunan. Saat ini tinggal 9,23 persen dari tahun sebelumnya 13 persen. Ditargetkan pada 2024 mendatang tidak ada kasus stunting, karena akan berdampak pada generasi penerus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Blora Edi Widayat mengatakan, angka stunting terus menurun. Hal tersebut berkat kerja keras dan lintas sektoral. “Saat ini persentase stunting di Kabupaten berada pada nilai 9,23 persen,” jelasnya.

Edi menegaskan, penanganan stunting terdapat di 41 desa dan empat kelurahan prioritas. Stunting atau gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis. Terutama pada seribu hari kelahiran pada anak-anak sampai usia 2 tahun. “Gizi buruk, tingginya pernikahan dini dan pola asuh ini yang menyebabkan stunting,” ujarnya.

Baca Juga :  Seorang Anak Tenggelam di Kali Gandu

Angka stunting tersebar di beberapa kecamatan. Meliputi Kunduran, Blora, Cepu, Kedungtuban, Ngawen, Sambong, Banjarejo, Doplang, Randublatung, dan Kunduran.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Blora Diah Pusparini menambahkan, angka stunting terus mengalami penurunan. Dari tahun sebelumnya yakni 13 persen turun menjadi 9,23 persen atau sekitar 4.172 balita. Total 55 ribu balita. Sedangkan untuk ibu hamil setahun 12 ribuan. “Turun 4 persen lebih,” terangnya.

Menurutnya, selama ini telah melakukan upaya. Mulai pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif, imunisasi lengkap, dan pemberian makanan tambahan. “Kami di lapangan melakukan itu. Alhamdulillah masyarakat saat ini sudah mulai sadar pentingnya pencegahan stunting. Terbukti angka stunting menurun,” jelasnya.

Secara kasat mata, menurut dia, anak kategori stunting itu bisa dilihat secara jelas. Terutama tinggi badan anak. “Selain itu bisa dilihat dari kekurusan anak,” tambahnya.

Baca Juga :  Raih Emas Diganjar Rp 40 Juta

Untuk mencegah stunting butuh asupan makan daging, telur ayam, dan ikan. Berbagai inovasi dilakukan Pemkab Blora menurunkan angka stunting. Mulai dari telur maksi, rembo setia, gerdu kia-kb, dawis penting. Berikutnya, kelor diolah menjadi kapsul bagi ibu menyusui untuk perkembangan anak hingga pemberian protein. (luk/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Harga Kain Naik

Barry Maguire Langsung Ikut Latihan

Artikel Terbaru

/