alexametrics
23.5 C
Bojonegoro
Wednesday, August 10, 2022

Mahal Tidak Masalah, Asal untuk Petani

BLORA – Harga beras yang saat ini mengalami kenaikan hingga Rp 11.000 per kilogram (kg) dinilai Bupati Blora, Djoko Nugroho tidak masalah. Asal kenaikan harga itu memberi keuntungan bagi petani. ‘’Yang penting dinikmati petani, saya senang,’’ ujarnya minggu (21/1). 

Menurut dia, kenaikan harga beras saat ini sebenarnya tidak terlalu dirasakan masyarakat Blora. Terlihat beras yang dijual di pasar masih melimpah. Itu diketahui saat dia ikut melakukan operasi beras. Namun, lanjut dia, pemerintah pusat mendapat informasi terjadi kekurangan beras. “Informasi itu bohong,” tukasnya.

Djoko mengungkapkan, produksi beras di Blora pada dua hingga tiga tahun terakhir terus surplus. Bahkan untuk sasaran panen pada triwulan pertama tahun ini (2018) seluas 57.867 hektar. ‘’Tahun lalu produksi beras Blora ranking tiga di Jateng,’’ ungkapnya.Meski begitu, ujar dia, jika harga beras masih dinilai terlalu mahal, pihaknya akan melakukan penekanan harga bersama bulog dan satgas pangan Blora melalui operasi pasar.

Baca Juga :  Belum Ada Laporan Penyakit Difteri

Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Spudnik Sujono, saat berkunjung di Blora Sabtu (20/1) mengatakan, gonjang-ganjing rencana impor beras yang dilakukan pemerintah pusat tidak berpengaruh di Blora. Karena petani Blora masih bisa panen. Bagi dirjen, gonjang-ganjing di pusat itu tidak berpengaruh di daerah. ‘’Kalau di Jakarta, itu biarkan saja itu urusan politis,’’ ujarnya.

Sedangkan untuk harga beras naik saat ini, dia juga sepakat dengan pernyataan Bupati Blora. Yakni tidak masalah jika dinikmati petani. ‘’Asal kenaikan harga beras ini jangan dinikmati oleh pedagang,’’ ujarnya.

Menurut dia, kenaikan harga biasanya yang memainkan adalah pedagang, dengan kenaikan 100 persen atau naik 400 persen. Padahal di tingkat petani kenaikannya tidak terlalu tinggi. Jika memanen dengan manual seharga Rp 5.000 per kg, kalau mesin Rp 5.200 per kg. “Itu jarak harganya tidak terlalu besar,’’ ujarnya.Karena itu dirjen juga tidak setuju dengan rencana impor beras, karena akan mebuat harga beras petani turun.

Baca Juga :  17 Pasutri Bangga Punya Buku Nikah

BLORA – Harga beras yang saat ini mengalami kenaikan hingga Rp 11.000 per kilogram (kg) dinilai Bupati Blora, Djoko Nugroho tidak masalah. Asal kenaikan harga itu memberi keuntungan bagi petani. ‘’Yang penting dinikmati petani, saya senang,’’ ujarnya minggu (21/1). 

Menurut dia, kenaikan harga beras saat ini sebenarnya tidak terlalu dirasakan masyarakat Blora. Terlihat beras yang dijual di pasar masih melimpah. Itu diketahui saat dia ikut melakukan operasi beras. Namun, lanjut dia, pemerintah pusat mendapat informasi terjadi kekurangan beras. “Informasi itu bohong,” tukasnya.

Djoko mengungkapkan, produksi beras di Blora pada dua hingga tiga tahun terakhir terus surplus. Bahkan untuk sasaran panen pada triwulan pertama tahun ini (2018) seluas 57.867 hektar. ‘’Tahun lalu produksi beras Blora ranking tiga di Jateng,’’ ungkapnya.Meski begitu, ujar dia, jika harga beras masih dinilai terlalu mahal, pihaknya akan melakukan penekanan harga bersama bulog dan satgas pangan Blora melalui operasi pasar.

Baca Juga :  Dikejar Polisi Mobil Elf Terguling di Blora

Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Spudnik Sujono, saat berkunjung di Blora Sabtu (20/1) mengatakan, gonjang-ganjing rencana impor beras yang dilakukan pemerintah pusat tidak berpengaruh di Blora. Karena petani Blora masih bisa panen. Bagi dirjen, gonjang-ganjing di pusat itu tidak berpengaruh di daerah. ‘’Kalau di Jakarta, itu biarkan saja itu urusan politis,’’ ujarnya.

Sedangkan untuk harga beras naik saat ini, dia juga sepakat dengan pernyataan Bupati Blora. Yakni tidak masalah jika dinikmati petani. ‘’Asal kenaikan harga beras ini jangan dinikmati oleh pedagang,’’ ujarnya.

Menurut dia, kenaikan harga biasanya yang memainkan adalah pedagang, dengan kenaikan 100 persen atau naik 400 persen. Padahal di tingkat petani kenaikannya tidak terlalu tinggi. Jika memanen dengan manual seharga Rp 5.000 per kg, kalau mesin Rp 5.200 per kg. “Itu jarak harganya tidak terlalu besar,’’ ujarnya.Karena itu dirjen juga tidak setuju dengan rencana impor beras, karena akan mebuat harga beras petani turun.

Baca Juga :  Setelah Diberlakukan di Kantor OPD

Artikel Terkait

Most Read

Rasakan Manfaat Menwa

Sorot Kinerja Sukaemi

Artikel Terbaru


/