alexametrics
24.4 C
Bojonegoro
Thursday, June 30, 2022

Kuliner Malam di Blora

Sate Sapi Blora yang Menusantara

BAU asap menggiurkan kala memasuki salah satu lorong di Jalan Gunung Sumbing, Blora. Di lorong tersebut, berderet penjual sate. Ada enam lapak dalam satu lorong. Tentu, ada puluhan atau lebih dari 50 penjual sate di kawasan perkotaan Blora.

 

Kota Sate menjadi identitas Blora. Sate dan bumbunya khas. Ada sate ayam dan kambing. Juga sate sapi. Kalau di beberapa daerah, sapi sudah tersentuh dengan penyakit mulut dan kuku (PMK). Sebaliknya, jika datang ke Blora, mulut pecinta kuliner akan tersentuh kelezatan sate sapi dengan bumbu dan penyajian yang khas.

Dengan populasi sapi sebanyak 275.741 ekor, terbesar di Jawa Tengah, Blora mempunyai daya pikat tersendiri di dunia kuliner, terutama daging sapi. Hal tersebut menjadi ragam kuliner daging ditusuk dan dibakar bersama nyala arang itu.

 

“Kalau berkunjung di Blora yang terkenal di masyarakat ya satenya, karena berbeda dari yang lain,” ujar Edi, salah satu penjual sate di Kelurahan Tempelan-Blora itu.

Baca Juga :  Target Vaksin 73.239 Anak

 

Saking menjadi identitas daerah, banyak warung-warung sate di pinggir jalan. Sekitar perkotaan saja diperkirakan sekitar 50 lapak lebih berjualan sate. Ada sate ayam, kambing, dan sapi.

 

“Lorong yang saya tempati ini saja sudah ada lima sampai enam lebih penjual sate,” ujarnya ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro di lapaknya, Kamis malam (19/5).

 

Sate Blora ini sudah menusantara. Termasuk keunikan penyajiannya. Pembeli hanya disuruh bayar sate yang dimakan meski ada 10 tusuk sate dihidangkan di meja makan. Jika pembeli hanya memakan separonya, itulah yang harus dibayar. “Hitungnya per tusuk sate. Jika tidak habis sisanya tidak akan dihitung,” jelas pria saat membakar sate selalu mengenakan songkok tersebut.

 

Selain penyajian sate, tidak kalah penting adalah bumbu yang diracik. Baik itu bumbu kacang dan kuah kuning. Semuanya diberikan santan. Menurut Heri, santan juga menjadi tanda kuliner khas Blora.

Baca Juga :  Bekuk Residivis Ganja di Depan Rumah

 

Dalam satu hari, Edi menyediakan 600 sampai 700 tusuk sate, baik sapi maupun ayam. Sedangkan khusus Sabtu dan Minggu, bertambah hingga 1.000 tusuk. Tentu, Heri membutuhkan 6 kilogram sampai 7 kilogram daging.

 

“Itu untuk kebutuhan daging sapinya saja, belum untuk ayam,” terangnaya.

 

Edi mengatakan, sate miliknya sudah melancong ke daerah lain, seperti Semarang. Biasanya menggunakan jasa antar. Bahkan ada pesan dibawa ke Jakarta. “Kalau ke tempat jauh, sate dan bumbu akan saya bekukan, agar lebih tahan lama,” jelasnya.

Heri merintis usahanya bersama saudaranya. Ia mengaku pernah bekerja dengan orang lain, karena sudah mendapat pengalaman dan mempunyai dana, akhirnya mulai berani membuka sendiri. Lapaknya buka mulai pukul 08.30 hingga pukul 10 malam.

 

“Kalau pagi (jualan sate) di toko, kalau malam buka lapak pinggir jalan,” tuturnya. (luk/rij)

KULINER MERAKYAT: Pedagang sate sapi di Jalan Gunung Sumbing, Blora. Sate sapi yang memesona masyarakat berkunjung ke Blora. Kawasan perkotaan lebih 50 penjual sate sapi. Foto atas, penyajian sate sapi dengan daun jati. (Lukman Hakim/RDR.BLORA)

BAU asap menggiurkan kala memasuki salah satu lorong di Jalan Gunung Sumbing, Blora. Di lorong tersebut, berderet penjual sate. Ada enam lapak dalam satu lorong. Tentu, ada puluhan atau lebih dari 50 penjual sate di kawasan perkotaan Blora.

 

Kota Sate menjadi identitas Blora. Sate dan bumbunya khas. Ada sate ayam dan kambing. Juga sate sapi. Kalau di beberapa daerah, sapi sudah tersentuh dengan penyakit mulut dan kuku (PMK). Sebaliknya, jika datang ke Blora, mulut pecinta kuliner akan tersentuh kelezatan sate sapi dengan bumbu dan penyajian yang khas.

Dengan populasi sapi sebanyak 275.741 ekor, terbesar di Jawa Tengah, Blora mempunyai daya pikat tersendiri di dunia kuliner, terutama daging sapi. Hal tersebut menjadi ragam kuliner daging ditusuk dan dibakar bersama nyala arang itu.

 

“Kalau berkunjung di Blora yang terkenal di masyarakat ya satenya, karena berbeda dari yang lain,” ujar Edi, salah satu penjual sate di Kelurahan Tempelan-Blora itu.

Baca Juga :  Tewas Tersengat Listrik di Atas Pohon

 

Saking menjadi identitas daerah, banyak warung-warung sate di pinggir jalan. Sekitar perkotaan saja diperkirakan sekitar 50 lapak lebih berjualan sate. Ada sate ayam, kambing, dan sapi.

 

“Lorong yang saya tempati ini saja sudah ada lima sampai enam lebih penjual sate,” ujarnya ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro di lapaknya, Kamis malam (19/5).

 

Sate Blora ini sudah menusantara. Termasuk keunikan penyajiannya. Pembeli hanya disuruh bayar sate yang dimakan meski ada 10 tusuk sate dihidangkan di meja makan. Jika pembeli hanya memakan separonya, itulah yang harus dibayar. “Hitungnya per tusuk sate. Jika tidak habis sisanya tidak akan dihitung,” jelas pria saat membakar sate selalu mengenakan songkok tersebut.

 

Selain penyajian sate, tidak kalah penting adalah bumbu yang diracik. Baik itu bumbu kacang dan kuah kuning. Semuanya diberikan santan. Menurut Heri, santan juga menjadi tanda kuliner khas Blora.

Baca Juga :  Jamkesda 2018 ­Tidak Berlaku

 

Dalam satu hari, Edi menyediakan 600 sampai 700 tusuk sate, baik sapi maupun ayam. Sedangkan khusus Sabtu dan Minggu, bertambah hingga 1.000 tusuk. Tentu, Heri membutuhkan 6 kilogram sampai 7 kilogram daging.

 

“Itu untuk kebutuhan daging sapinya saja, belum untuk ayam,” terangnaya.

 

Edi mengatakan, sate miliknya sudah melancong ke daerah lain, seperti Semarang. Biasanya menggunakan jasa antar. Bahkan ada pesan dibawa ke Jakarta. “Kalau ke tempat jauh, sate dan bumbu akan saya bekukan, agar lebih tahan lama,” jelasnya.

Heri merintis usahanya bersama saudaranya. Ia mengaku pernah bekerja dengan orang lain, karena sudah mendapat pengalaman dan mempunyai dana, akhirnya mulai berani membuka sendiri. Lapaknya buka mulai pukul 08.30 hingga pukul 10 malam.

 

“Kalau pagi (jualan sate) di toko, kalau malam buka lapak pinggir jalan,” tuturnya. (luk/rij)

KULINER MERAKYAT: Pedagang sate sapi di Jalan Gunung Sumbing, Blora. Sate sapi yang memesona masyarakat berkunjung ke Blora. Kawasan perkotaan lebih 50 penjual sate sapi. Foto atas, penyajian sate sapi dengan daun jati. (Lukman Hakim/RDR.BLORA)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/