alexametrics
24.4 C
Bojonegoro
Thursday, June 30, 2022

Delapan Pos Memantau Lalu Lintas Hewan

Semprot Disinfektan Kandang Sapi di Blora

BLORA, Radar Bojonegoro – Pencegahan dan kewaspadaan dini harus digerakkan menghadap wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Sebab, Kabupaten Blora sebagai daerah dengan populasi sapi terbesar di Jawa Tengah.

 

Alarm pencegahan diperlukan karena wabah sapi terinfeksi PMK sudah menyerang kabupaten tetangga, yakni Rembang dan kabupaten di Jawa Timur. Pemeriksaan di perbatasan terus berlangsung. Pemkab Blora juga menyemprotkan disinfektan di kandang-kandang sapi dan menyiapkan vaksin.

 

Tekad salah satu peternak sapi Desa Palon, Kejamatan Jepon, mengatakan, saat ini kondisi sapi masih sehat. Tidak ada indikasi terkena PMK. Namun, pihaknya tetap mewaspadai wabah tersebut, salah satunya membersihkan kandang dengan rutin.

 

“Sebetulnya agak resah juga, karena penyebarannya cepat. Terpenting selalu waspada selalu jaga kebersihan kandang,” jelasnya.

Baca Juga :  Kapolres Perang Peredaran Miras

 

Tekad memastikan kandang ternaknya salah satu mendapat penyemprotan disinfektan. Dia berharap bisa meluas diberikan hingga di pasar hewan.

 

Sebab, di pasar hewan tersebut terdapat para peternak sapi berkumpul.

Disinggung penjualan? Tekad mengatakan, belum ada perubahan, harga masih stabil. “Kalau saya kan untuk penggemukan sapi. Sehingga penjualannya berupa daging,” ungkapnya.

 

Bupati Blora Arief Rohman menjelaskan, sampai saat ini belum terdeteksi PMK di daerah. Namun, karena Blora merupakan penghasil sapi terbanyak di Jateng, tentu langkah kewaspadaan perlu ditingkatkan.

 

Mengaktifkan pos kesehatan di perbatasan, dan menyiapkan disinfektan sekaligus vaksinnya. “Karena wabah ini disebabkan oleh virus menular. Apalagi sebentar lagi akan Idul Adha, kualitas sapi harus dijaga,” terangnya.

Baca Juga :  Arus Balik, Penumpang KA di Stasiun Cepu, Blora Meningkat

 

Sementara itu, Subkor Kesehatan Hewan Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Blora Asngadi menyampaikan, bahwa PMK saat ini mulai terdeteksi di beberapa Kabupaten di Jawa Timur. Sehingga sejak beberapa hari terakhir terus intens memantau perlintasan ternak masuk Blora. “Ada delapan pos pantau kita lakukan pengawasan. “Penjaga kami tugaskan bergantian, kami gilir tiap harinya,” klaimnya.

 

Ggejala PMK, menurut Asngadi, yakni kepincangan, air liur berlebih atau berbusa, pembengkakan kelenjar submandibular, lepuh di sekitar mulut, lidah, gusi, nostril, hingga kulit. Hewan terlihat lemah, sering berbaring, demam hingga 41 derajat Celcius.

 

“Jika ada gejala seperti itu, ternaknya jangan dijual. Segera laporkan ke kami,” jelasnya. (luk/rij)

BLORA, Radar Bojonegoro – Pencegahan dan kewaspadaan dini harus digerakkan menghadap wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Sebab, Kabupaten Blora sebagai daerah dengan populasi sapi terbesar di Jawa Tengah.

 

Alarm pencegahan diperlukan karena wabah sapi terinfeksi PMK sudah menyerang kabupaten tetangga, yakni Rembang dan kabupaten di Jawa Timur. Pemeriksaan di perbatasan terus berlangsung. Pemkab Blora juga menyemprotkan disinfektan di kandang-kandang sapi dan menyiapkan vaksin.

 

Tekad salah satu peternak sapi Desa Palon, Kejamatan Jepon, mengatakan, saat ini kondisi sapi masih sehat. Tidak ada indikasi terkena PMK. Namun, pihaknya tetap mewaspadai wabah tersebut, salah satunya membersihkan kandang dengan rutin.

 

“Sebetulnya agak resah juga, karena penyebarannya cepat. Terpenting selalu waspada selalu jaga kebersihan kandang,” jelasnya.

Baca Juga :  Tahun Depan, E-Tilang Berlaku

 

Tekad memastikan kandang ternaknya salah satu mendapat penyemprotan disinfektan. Dia berharap bisa meluas diberikan hingga di pasar hewan.

 

Sebab, di pasar hewan tersebut terdapat para peternak sapi berkumpul.

Disinggung penjualan? Tekad mengatakan, belum ada perubahan, harga masih stabil. “Kalau saya kan untuk penggemukan sapi. Sehingga penjualannya berupa daging,” ungkapnya.

 

Bupati Blora Arief Rohman menjelaskan, sampai saat ini belum terdeteksi PMK di daerah. Namun, karena Blora merupakan penghasil sapi terbanyak di Jateng, tentu langkah kewaspadaan perlu ditingkatkan.

 

Mengaktifkan pos kesehatan di perbatasan, dan menyiapkan disinfektan sekaligus vaksinnya. “Karena wabah ini disebabkan oleh virus menular. Apalagi sebentar lagi akan Idul Adha, kualitas sapi harus dijaga,” terangnya.

Baca Juga :  Petani Cabai di Blora Terkendala Cuaca Tak Menentu

 

Sementara itu, Subkor Kesehatan Hewan Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Blora Asngadi menyampaikan, bahwa PMK saat ini mulai terdeteksi di beberapa Kabupaten di Jawa Timur. Sehingga sejak beberapa hari terakhir terus intens memantau perlintasan ternak masuk Blora. “Ada delapan pos pantau kita lakukan pengawasan. “Penjaga kami tugaskan bergantian, kami gilir tiap harinya,” klaimnya.

 

Ggejala PMK, menurut Asngadi, yakni kepincangan, air liur berlebih atau berbusa, pembengkakan kelenjar submandibular, lepuh di sekitar mulut, lidah, gusi, nostril, hingga kulit. Hewan terlihat lemah, sering berbaring, demam hingga 41 derajat Celcius.

 

“Jika ada gejala seperti itu, ternaknya jangan dijual. Segera laporkan ke kami,” jelasnya. (luk/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Kamis Siang Jamaah Haji Tiba

Purnawirawan Polisi pun Ikut Berebut

Minta Kades Sinergi dengan Pemkab

Artikel Terbaru


/