alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Thursday, August 18, 2022

Pedagang Pasar Keluhkan Ada yang Banting Harga

Daya Beli Daging Warga Blora Masih Lemah

- Advertisement -

BLORA, Radar Bojonegoro – Daya beli daging sapi melemah di sejumlah pasar tradisional. Diprediksi imbas merebaknya sapi terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK). Pedagang mengeluhkan ada penjualan daging dengan harga murah, tentu diprediksi dari sapi terjangkit PMK.

 

Konik pedagang daging sapi di Pasar Induk Cepu mengatakan, penjualan daging sedang seret. Pembeli enggan membeli daging. Hal itu dipengaruhi merebaknya PMK. Selain itu, ada yang sengaja menjual daging sapi PMK dengan harga lebih murah dari harga pasar.

 

“Untuk beberapa minggu ini sepi sekali pembeli daging. Ini saja belum ada pembeli,” keluhnya ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin pagi (17/6).

- Advertisement -

 

Menurutnya, PMK saat ini menjadi penyebab utama minimnya pembeli. Selain itu, penjualan daging sapi terjangkit PMK menambah penderitaan pedagang daging sapi sehat. Sebab, harga berbanding 50 persen dari harga normal yakni Rp 110 ribu hingga Rp 120 ribu per kilogram.

Baca Juga :  Terbanyak Jabatan Kadus yang Kosong

 

“Coba bayangkan saat ini ada menjual daging sapi harganya Rp 50 ribu per kilogram. Saat ini sedang marak, kalau bukan daging PMK tidak akan berani menjual dengan harga segitu,” keluhnya.

Pihaknya berharap ada tindakan dilakukan pemerintah, agar penjualan daging bisa kembali normal. Selain menghilangkan PMK di daerah, perlu mengawasi peredaran daging dengan harga murah terjangkit PMK.

 

“Saya harap ada penyisiran pemeriksaan menjual daging murah itu, selain di pasar juga di tempat lain, agar tidak ada banting-bantingan harga,” jelasnya.

 

Sarti pedagang di pasar juga merasa iba terhadap jagal daging sapi. Sepinya pembeli dan memengaruhi pedagang mengurangi stok penjualan. “Saya juga kasihan, pedagang daging di sini sambatnya tidak karuan, padahal dagingnya juga bagus-bagus,” ujarnya.

Baca Juga :  Gempar, Warga Desa Nginggil Blora Temukan Pesawat Jatuh

 

Menurut sarti, penyebab utama yakni warga masih khawatir mengonsumsi daging sapi saat merebaknya PMK. Padahal, daging sapi harus segera terjual cepat.”Semoga saja PMK saat ini bisa cepat selesai dan pedagang bisa kembali normal,” tuturnya.

Kepala Dinas Pangan Pertanian Peternakan dan Perikanan (DP4) Blora Gundala Wejasena mejelaskan, daging sapi terjangkit PMK tidak ada larangan untuk dikonsumsi. Namun dengan sarat melalui proses pemeriksaan. Tapi, ada bagian-bagian tidak boleh dikonsumsi, seperti bagian kepala, kaki dan jeroan sapi seperti hati usus.

 

“Kalau daging masih bisa dengan catatan harus melalui pemeriksaan,” ungkapnya. (luk/rij)

BLORA, Radar Bojonegoro – Daya beli daging sapi melemah di sejumlah pasar tradisional. Diprediksi imbas merebaknya sapi terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK). Pedagang mengeluhkan ada penjualan daging dengan harga murah, tentu diprediksi dari sapi terjangkit PMK.

 

Konik pedagang daging sapi di Pasar Induk Cepu mengatakan, penjualan daging sedang seret. Pembeli enggan membeli daging. Hal itu dipengaruhi merebaknya PMK. Selain itu, ada yang sengaja menjual daging sapi PMK dengan harga lebih murah dari harga pasar.

 

“Untuk beberapa minggu ini sepi sekali pembeli daging. Ini saja belum ada pembeli,” keluhnya ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin pagi (17/6).

- Advertisement -

 

Menurutnya, PMK saat ini menjadi penyebab utama minimnya pembeli. Selain itu, penjualan daging sapi terjangkit PMK menambah penderitaan pedagang daging sapi sehat. Sebab, harga berbanding 50 persen dari harga normal yakni Rp 110 ribu hingga Rp 120 ribu per kilogram.

Baca Juga :  Gempar, Warga Desa Nginggil Blora Temukan Pesawat Jatuh

 

“Coba bayangkan saat ini ada menjual daging sapi harganya Rp 50 ribu per kilogram. Saat ini sedang marak, kalau bukan daging PMK tidak akan berani menjual dengan harga segitu,” keluhnya.

Pihaknya berharap ada tindakan dilakukan pemerintah, agar penjualan daging bisa kembali normal. Selain menghilangkan PMK di daerah, perlu mengawasi peredaran daging dengan harga murah terjangkit PMK.

 

“Saya harap ada penyisiran pemeriksaan menjual daging murah itu, selain di pasar juga di tempat lain, agar tidak ada banting-bantingan harga,” jelasnya.

 

Sarti pedagang di pasar juga merasa iba terhadap jagal daging sapi. Sepinya pembeli dan memengaruhi pedagang mengurangi stok penjualan. “Saya juga kasihan, pedagang daging di sini sambatnya tidak karuan, padahal dagingnya juga bagus-bagus,” ujarnya.

Baca Juga :  Kerap Terjadi Kebakaran dan Banjir

 

Menurut sarti, penyebab utama yakni warga masih khawatir mengonsumsi daging sapi saat merebaknya PMK. Padahal, daging sapi harus segera terjual cepat.”Semoga saja PMK saat ini bisa cepat selesai dan pedagang bisa kembali normal,” tuturnya.

Kepala Dinas Pangan Pertanian Peternakan dan Perikanan (DP4) Blora Gundala Wejasena mejelaskan, daging sapi terjangkit PMK tidak ada larangan untuk dikonsumsi. Namun dengan sarat melalui proses pemeriksaan. Tapi, ada bagian-bagian tidak boleh dikonsumsi, seperti bagian kepala, kaki dan jeroan sapi seperti hati usus.

 

“Kalau daging masih bisa dengan catatan harus melalui pemeriksaan,” ungkapnya. (luk/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/