alexametrics
23.9 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Anggaran Literasi Masih Minim

Minat Baca Buku di Wilayah Pelosok Blora Butuh Sentuhan

BLORA, Radar Bojonegoro – Perkembangan literasi di Blora perlu mendapat perhatian, terutama berada di wilayah pelosok. Saat ini baru terdata 20 perpustakaan desa yang aktif. Sedangkan taman baca masyarakat (TBM) dan komunitas literasi jalanan masih dalam tahap binaan.

 

Founder Perpustakaan Jalanan (Perpusjal) Dope, Desa Doplang Kecamatan Jati, Nanang Prastyo berharap pada momentum 20 tahun Hari Buku Nasional ini, pemerintah lebih peduli tingkat literasi di daerah. Terutama para pegiat literasi berada di wilayah pelosok yang kekurangan fasilitas penunjang.

 

“Daerah pelosok masih minim tingkat literasinya akibat kurangnya fasilitas memadai,” ungkapnya.

 

Kepala Bidang (Kabid) Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Blora Nugraheni Wahyu Utami mengungkapkan, perkembangan literasi daerah menjadi pekerjaan rumah harus dituntaskan. Dalam dua tahun ini pihaknya masih fokus pada perpustakaan desa.

Baca Juga :  Tommy Parcep Mundur dari Persikaba

 

“Memang ini menjadi PR, karena kami perlu membagi waktu di sekolah, desa, dan lainnya,” jelasnya.

 

Heni memaparkan bahwa saat ini baru terdapat 30 perpustakaan desa, sedangkan yang aktif sekitar 20 perpustakaan. Sedangkan taman baca masyarakat (TBM), pihaknya mengaku masih tahap pembinaan. Belum sampai terdata dan bisa diajukan ke tingkat nasional.

 

“Untuk TBM masih proses pembinaan. Belum ada yang terdata, kami baru beberapa melakukannya seperti di Kecamatan Cepu dan Sambong Biting masih embrio,” paparnya.

 

Heni menuturkan, anggaran pengembangan literasi masih minim.

Sehingga program seharusnya bisa dijangkau secara luas seperti di daerah pelosok, bisa tercapai. “Semoga tahun depan ada support lagi anggaran literasi. Tahun ini kami sebisanya melakukan bimtek, pelatihan dan beberapa pembinaan di beberapa tempat,” katanya.

Baca Juga :  Pedagang Harus Masuk Pasar

 

Meski begitu, pihaknya mengungkapkan beberapa generasi muda sudah memulai bergerak perkembangan literasi daerah. Sudah menyambangi beberapa tempat dan mengajak beberapa event literasi.

 

“Setiap tahun ada program unggulan dari kementerian seperti transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial (TPBS), agar masyarakat mengetahui peran perpustakaan tidak hanya tempat buku saja,” jelasnya. (luk/rij)

BLORA, Radar Bojonegoro – Perkembangan literasi di Blora perlu mendapat perhatian, terutama berada di wilayah pelosok. Saat ini baru terdata 20 perpustakaan desa yang aktif. Sedangkan taman baca masyarakat (TBM) dan komunitas literasi jalanan masih dalam tahap binaan.

 

Founder Perpustakaan Jalanan (Perpusjal) Dope, Desa Doplang Kecamatan Jati, Nanang Prastyo berharap pada momentum 20 tahun Hari Buku Nasional ini, pemerintah lebih peduli tingkat literasi di daerah. Terutama para pegiat literasi berada di wilayah pelosok yang kekurangan fasilitas penunjang.

 

“Daerah pelosok masih minim tingkat literasinya akibat kurangnya fasilitas memadai,” ungkapnya.

 

Kepala Bidang (Kabid) Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Blora Nugraheni Wahyu Utami mengungkapkan, perkembangan literasi daerah menjadi pekerjaan rumah harus dituntaskan. Dalam dua tahun ini pihaknya masih fokus pada perpustakaan desa.

Baca Juga :  Pembebasan Lahan Bandara Disiapkan Rp 25 Miliar

 

“Memang ini menjadi PR, karena kami perlu membagi waktu di sekolah, desa, dan lainnya,” jelasnya.

 

Heni memaparkan bahwa saat ini baru terdapat 30 perpustakaan desa, sedangkan yang aktif sekitar 20 perpustakaan. Sedangkan taman baca masyarakat (TBM), pihaknya mengaku masih tahap pembinaan. Belum sampai terdata dan bisa diajukan ke tingkat nasional.

 

“Untuk TBM masih proses pembinaan. Belum ada yang terdata, kami baru beberapa melakukannya seperti di Kecamatan Cepu dan Sambong Biting masih embrio,” paparnya.

 

Heni menuturkan, anggaran pengembangan literasi masih minim.

Sehingga program seharusnya bisa dijangkau secara luas seperti di daerah pelosok, bisa tercapai. “Semoga tahun depan ada support lagi anggaran literasi. Tahun ini kami sebisanya melakukan bimtek, pelatihan dan beberapa pembinaan di beberapa tempat,” katanya.

Baca Juga :  Juga Digunakan Sekolah Penerbangan, Rencana Lapter Ngloram

 

Meski begitu, pihaknya mengungkapkan beberapa generasi muda sudah memulai bergerak perkembangan literasi daerah. Sudah menyambangi beberapa tempat dan mengajak beberapa event literasi.

 

“Setiap tahun ada program unggulan dari kementerian seperti transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial (TPBS), agar masyarakat mengetahui peran perpustakaan tidak hanya tempat buku saja,” jelasnya. (luk/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/