alexametrics
30.7 C
Bojonegoro
Monday, May 16, 2022

Predator Anak Berkeliaran

Predator Anak Berkeliaran
*Tercatat 21 Korban Kekerasan Seksual
*Dari Total 13 Kasus
BLORA, Radar Bojonegoro – Predator anak masih berkeliaran, belum genap setahun, sudah tercatat 21 korban kekerasan seksual, dari 13 kasus. Terakhir, Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Blora mencatat, terjadi kekerasan seksual kepada anak usia 7 tahun di Kecamatan Banjarejo.
Kemudian anak 3,5 tahun di Kecamatan Kedungtuban menjadi korban kekerasan seksual. Bahkan, oknum guru menjadi pelaku pelecehan seksual.
Butuh pengawalan dan sosialisasi serta edukasi agar generasi penerus bangsa itu tidak menjadi korban kekerasan seksual.
Kepala Dinsos P3A Blora melalui Kasi Perlindungan Anak Wahyu Titis Prasetyawan mengatakan, selama semester  pertama dan kedua tahun ini, mengawal 13 kasus kekerasan seksual pada anak.
Dari satu kasus, korbannya lebih dari satu anak, bahkan salah satu kasus menelan lima korban. ‘’Jadi jika ditotal ada 21 korban dari 13 kasus tersebut,’’ ujarnya.
Menurut dia, lokasi kejadian rerata di rumah korban. Bahkan beberapa kasus pelakunya orang terdekat korban. Seperti tetangga, bahkan paman korban sendiri.
‘’Tempat kejadian tidak ada yang terjadi di sekolah atau pondok pesantren, kebanyakan di rumah,’’ tandasnya.
Dari kasus itu, tidak semua orang tua korban berkenan melaporkan ke ranah hukum. Sehingga, harus melakukan pendampingan pada anak. Agar anak tidak trauma.
Selain pendampingan, agar kasus kekerasan pada anak tidak terjadi. Dinsos menggandeng dinas pendidikan, untuk sosialisasikan sekolah ramah anak. Agar anak aman di sekolah dan jangan sampai menjadi korban.
‘’Kami sudah advokasi agar tidak terjadi kekerasan seksual pada anak di sekolah,’’ tegasnya.
Sekretaris Dinas Pendidikan Blora Sunaryo mengatakan, untuk mencegah terjadinya kekerasan anak di lingkungan sekolah, meminta kepala sekolah mengontrol prilaku guru.
Jangan sampai guru seharusnya pelindung, justru menjadi pelaku. ‘’Kepala sekolah jika sudah melihat ada gejala menyimpang pada guru segera diingatkan, jadi fungsi kontrol,’’ imbuhnya.
Peran orang tua juga penting. Harus memantau tingkahlaku anak. Saat ada prilaku menyimpang, agar orang tua mendekatinya dan komunkasi dengan hati. Kedekatan orang tua pada anak sangat penting untuk menyiapkan masa depannya. ‘’Kalau ada prilaku yang menyimpang pada anak, orang tua bisa berkomunikasi dengan sekolah,’’ imbuhnya.
Disdik sedang gencar melakukan pembinaan kepada kepala sekolah untuk terus melakukan pengarahan pada guru. Sekolah ramah anak yang sering disosialisasikan agar sekolah mampu menciptakan suasana tenang untuk peserta didik.
Agar anak terlayani, jangan sampai anak dibuli, tidak dilecehkan, dan tidak menjadi korban kekerasan seksual. ‘’Makanya ini pentingnya sekolah anak,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Kajari Kantongi Calon Tersangka Dugaan Korupsi Pasar dan Kunker DPRD

Predator Anak Berkeliaran
*Tercatat 21 Korban Kekerasan Seksual
*Dari Total 13 Kasus
BLORA, Radar Bojonegoro – Predator anak masih berkeliaran, belum genap setahun, sudah tercatat 21 korban kekerasan seksual, dari 13 kasus. Terakhir, Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Blora mencatat, terjadi kekerasan seksual kepada anak usia 7 tahun di Kecamatan Banjarejo.
Kemudian anak 3,5 tahun di Kecamatan Kedungtuban menjadi korban kekerasan seksual. Bahkan, oknum guru menjadi pelaku pelecehan seksual.
Butuh pengawalan dan sosialisasi serta edukasi agar generasi penerus bangsa itu tidak menjadi korban kekerasan seksual.
Kepala Dinsos P3A Blora melalui Kasi Perlindungan Anak Wahyu Titis Prasetyawan mengatakan, selama semester  pertama dan kedua tahun ini, mengawal 13 kasus kekerasan seksual pada anak.
Dari satu kasus, korbannya lebih dari satu anak, bahkan salah satu kasus menelan lima korban. ‘’Jadi jika ditotal ada 21 korban dari 13 kasus tersebut,’’ ujarnya.
Menurut dia, lokasi kejadian rerata di rumah korban. Bahkan beberapa kasus pelakunya orang terdekat korban. Seperti tetangga, bahkan paman korban sendiri.
‘’Tempat kejadian tidak ada yang terjadi di sekolah atau pondok pesantren, kebanyakan di rumah,’’ tandasnya.
Dari kasus itu, tidak semua orang tua korban berkenan melaporkan ke ranah hukum. Sehingga, harus melakukan pendampingan pada anak. Agar anak tidak trauma.
Selain pendampingan, agar kasus kekerasan pada anak tidak terjadi. Dinsos menggandeng dinas pendidikan, untuk sosialisasikan sekolah ramah anak. Agar anak aman di sekolah dan jangan sampai menjadi korban.
‘’Kami sudah advokasi agar tidak terjadi kekerasan seksual pada anak di sekolah,’’ tegasnya.
Sekretaris Dinas Pendidikan Blora Sunaryo mengatakan, untuk mencegah terjadinya kekerasan anak di lingkungan sekolah, meminta kepala sekolah mengontrol prilaku guru.
Jangan sampai guru seharusnya pelindung, justru menjadi pelaku. ‘’Kepala sekolah jika sudah melihat ada gejala menyimpang pada guru segera diingatkan, jadi fungsi kontrol,’’ imbuhnya.
Peran orang tua juga penting. Harus memantau tingkahlaku anak. Saat ada prilaku menyimpang, agar orang tua mendekatinya dan komunkasi dengan hati. Kedekatan orang tua pada anak sangat penting untuk menyiapkan masa depannya. ‘’Kalau ada prilaku yang menyimpang pada anak, orang tua bisa berkomunikasi dengan sekolah,’’ imbuhnya.
Disdik sedang gencar melakukan pembinaan kepada kepala sekolah untuk terus melakukan pengarahan pada guru. Sekolah ramah anak yang sering disosialisasikan agar sekolah mampu menciptakan suasana tenang untuk peserta didik.
Agar anak terlayani, jangan sampai anak dibuli, tidak dilecehkan, dan tidak menjadi korban kekerasan seksual. ‘’Makanya ini pentingnya sekolah anak,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Mulai Pantau Kesehatan Hewan kurban

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/