alexametrics
24.6 C
Bojonegoro
Friday, August 12, 2022

Tercatat Lima Sapi Mati

PMK di Blora Meningkat, Pemasaran Seret

’’Tenaga medis sudah kami upayakan untuk terus mengobati.’’

Hadi Praseno, Sekretaris Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan Blora

BLORA, Radar Bojonegoro – Pedagang sapi mulai merasakan dampak penyakit mulut dan kuku (PMK), seperti penjualan berkurang dan harga sapi anjlok.  Sebab, penularan masih terus bertambah hingg Jumat (10/6), tercatat 585 ekor suspek PMK saat ini tengah diobati.

 

Menurut Tekad, salah satu peternak sapi Desa Palon, Kecamatan Jepon, penjualan sapi mengalami penurunan, dari penjulan 10 ekor berkurang menjadi 6 sampai 7 ekor. Hal itu disebabkan dampak PMK yang semakin melonjak.

‘’Yang saya rasakan, biasanya kebutuhan 10 ekor, untuk saat ini paling tinggal 6 sampai 7 ekor,’’ ujarnya.

 

Baca Juga :  Tak Masuk Perbaikan, Jalan Ngawen-Todanan Rusak Parah

Tekad menuturkan, harga sapi yang masih sehat cenderung masih stabil, sedangkan sapi yang sudah ada gejala seperti banyak mengeluarkan lendir dan tidak kuat berdiri atau gejala lain mengarah PMK, harganya mengalami penurunan. ‘’Untuk ternak yang sakit apa lagi sampai kondisi kritis otomatis harganya murah banget,’’ keluhnya.

 

Suyono, salah satu peternak sapi mengaku dua sapinya terjangkit PMK, untuk penanganannya harus menyewa mantri, karena belum tersentuh oleh tim yang dibentuk dinas.

 

Berharap agar penanganan dilakukan merata. ‘’Segera membantu peternak supaya pengobatan gratis,’’ harapnya.

 

Sekretaris Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4) Blora Hadi Praseno mengungkapkan, saat ini sedang berupaya mengobati 585 ekor sapi yang suspek PMK.

Baca Juga :  Bongkar Dua Papan Reklame

 

Ada penambahan satu ekor sapi mati, pada minggu lalu berjumlah 4 ekor menjadi 5 ekor.

 

‘’Hingga Jumat lalu sapi yang mati berjumlah lima ekor,’’ paparnya kemarin (12/6).

 

Hadi mengungkapkan, tingkat kesembuhan lebih tinggi dibandingkan tingkat kematian. Sebab, sapi yang dinyatakan sembuh sebanyak 55 ekor. Sehingga secara keseluruhan terdapat 645 ekor sapi terdata. ‘’Tenaga medis sudah kami upayakan untuk terus mengobati,’’ ujarnya.

 

Hadi menambahkan, jika penularan saat ini masih masif, tim koordinator di 16 Kecamatan dipimpin dokter hewan, jumlah keseluruhan sekitar 60 petugas. Para peternak saat ini diimbau tenang dengan situasi saat ini, sebab tingkat kesembuah relatif lebih tinggi. (luk/msu)

’’Tenaga medis sudah kami upayakan untuk terus mengobati.’’

Hadi Praseno, Sekretaris Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan Blora

BLORA, Radar Bojonegoro – Pedagang sapi mulai merasakan dampak penyakit mulut dan kuku (PMK), seperti penjualan berkurang dan harga sapi anjlok.  Sebab, penularan masih terus bertambah hingg Jumat (10/6), tercatat 585 ekor suspek PMK saat ini tengah diobati.

 

Menurut Tekad, salah satu peternak sapi Desa Palon, Kecamatan Jepon, penjualan sapi mengalami penurunan, dari penjulan 10 ekor berkurang menjadi 6 sampai 7 ekor. Hal itu disebabkan dampak PMK yang semakin melonjak.

‘’Yang saya rasakan, biasanya kebutuhan 10 ekor, untuk saat ini paling tinggal 6 sampai 7 ekor,’’ ujarnya.

 

Baca Juga :  Lupa Matikan Obat Nyamuk, Rumah Terbakar

Tekad menuturkan, harga sapi yang masih sehat cenderung masih stabil, sedangkan sapi yang sudah ada gejala seperti banyak mengeluarkan lendir dan tidak kuat berdiri atau gejala lain mengarah PMK, harganya mengalami penurunan. ‘’Untuk ternak yang sakit apa lagi sampai kondisi kritis otomatis harganya murah banget,’’ keluhnya.

 

Suyono, salah satu peternak sapi mengaku dua sapinya terjangkit PMK, untuk penanganannya harus menyewa mantri, karena belum tersentuh oleh tim yang dibentuk dinas.

 

Berharap agar penanganan dilakukan merata. ‘’Segera membantu peternak supaya pengobatan gratis,’’ harapnya.

 

Sekretaris Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4) Blora Hadi Praseno mengungkapkan, saat ini sedang berupaya mengobati 585 ekor sapi yang suspek PMK.

Baca Juga :  Lima Ternak Mati Suspek PMK di Lamongan

 

Ada penambahan satu ekor sapi mati, pada minggu lalu berjumlah 4 ekor menjadi 5 ekor.

 

‘’Hingga Jumat lalu sapi yang mati berjumlah lima ekor,’’ paparnya kemarin (12/6).

 

Hadi mengungkapkan, tingkat kesembuhan lebih tinggi dibandingkan tingkat kematian. Sebab, sapi yang dinyatakan sembuh sebanyak 55 ekor. Sehingga secara keseluruhan terdapat 645 ekor sapi terdata. ‘’Tenaga medis sudah kami upayakan untuk terus mengobati,’’ ujarnya.

 

Hadi menambahkan, jika penularan saat ini masih masif, tim koordinator di 16 Kecamatan dipimpin dokter hewan, jumlah keseluruhan sekitar 60 petugas. Para peternak saat ini diimbau tenang dengan situasi saat ini, sebab tingkat kesembuah relatif lebih tinggi. (luk/msu)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/