alexametrics
30.7 C
Bojonegoro
Monday, May 16, 2022

Bangun Bidak Sendiri di Luar Pasar Mulyorejo Cepu, Blora

Tidak Bisa Menampung Semua Pedagang

BLORA, Radar Bojonegoro – Bangunan baru Pasar Mulyorejo Kecamatan Cepu tidak mampu menampung banyaknya pedagang. Penempatannya diprioritaskan bagi pedagang mempunyai surat. Sedangkan pedagang tidak mempunyai surat rela mendirikan bangunan sendiri di samping pasar.

 

Sumiyati, pedagang Pasar Mulyorejo tidak mengantongi surat pasar terpaksa mendirikan bangunan sendiri dengan memakai bambu sebagai penyangga. Ia sehari-hari berjualan ragam sayuran untuk olahan rumah tangga. “Tidak dapat bagian karena tidak ada surat dari pengelola pasar,” ungkapnya.

 

Ia menjelaskan, dibanding dengan pasar sebelum dibangun, tempat barunya tersebut masih minim pengunjung. Pembeli lebih memilih beli dagangan di dalam bangunan pasar baru. Tentu hal itu berdampak pemasukan. “Kalau dibandingkan, ya ramai dengan pedagang di dalam, bagian ini ya ditempati saja,” keluhnya.

Baca Juga :  Harga Rajungan Kembali Naik

 

Sisniati pedagang mendapat kios mengaku, pedagang yang tidak mendapat bidak di dalam, membangun sendiri di samping pasar.

 

Meski sudah membangun tempat sendiri, beberapa pedagang masih berjualan lesehan di dalam. “Karena pembeli enggan turun, lebih memilih yang ada di dalam,” jelasnya.

 

Koordinator Pasar Mulyorejo Hartono menjelaskan, pedagang yang berhak menempati bidak pasar baru mempunyai surat. Sedangkan yang tidak ada surat, membangun sendiri bangunan di samping pasar. Pihaknya mengaku hanya mengatur jarak dua meter antar bangunan.

 

“Kami hanya mengatur, dan menyedikan tempat karena di dalam sudah penuh,” terangnya.

 

Hartono memaparkan, terdapat 96 bidak saat ini ditempati pedagang di dalam, dengan sistem pengundian memperoleh tempat.

Baca Juga :  Anggaran Jalan Cor Naik Berlipat

 

Sebelumnya terdapat 84 pedagang mengantongi surat, sedangkan sisa 12 bidak yang kosong diundi lagi. Diperuntukkan pedagang belum mempunyai surat.

 

“Sedangkan yang di luar sekitar 65-an pedagang,” tuturnya. Ia mengaku, proses penempatan bidak dilakukan dengan adil.

 

Mempertimbangkan kepemilikan surat. Saat ini belum ada penarikan retribusi, hanya uang sapon atau kebersihan tiap hari seribu. Penempatannya sejak pertengahan sebelum puasa. (luk/rij)

BLORA, Radar Bojonegoro – Bangunan baru Pasar Mulyorejo Kecamatan Cepu tidak mampu menampung banyaknya pedagang. Penempatannya diprioritaskan bagi pedagang mempunyai surat. Sedangkan pedagang tidak mempunyai surat rela mendirikan bangunan sendiri di samping pasar.

 

Sumiyati, pedagang Pasar Mulyorejo tidak mengantongi surat pasar terpaksa mendirikan bangunan sendiri dengan memakai bambu sebagai penyangga. Ia sehari-hari berjualan ragam sayuran untuk olahan rumah tangga. “Tidak dapat bagian karena tidak ada surat dari pengelola pasar,” ungkapnya.

 

Ia menjelaskan, dibanding dengan pasar sebelum dibangun, tempat barunya tersebut masih minim pengunjung. Pembeli lebih memilih beli dagangan di dalam bangunan pasar baru. Tentu hal itu berdampak pemasukan. “Kalau dibandingkan, ya ramai dengan pedagang di dalam, bagian ini ya ditempati saja,” keluhnya.

Baca Juga :  Minim Siswa, Dua Kelas Dijadikan Gudang

 

Sisniati pedagang mendapat kios mengaku, pedagang yang tidak mendapat bidak di dalam, membangun sendiri di samping pasar.

 

Meski sudah membangun tempat sendiri, beberapa pedagang masih berjualan lesehan di dalam. “Karena pembeli enggan turun, lebih memilih yang ada di dalam,” jelasnya.

 

Koordinator Pasar Mulyorejo Hartono menjelaskan, pedagang yang berhak menempati bidak pasar baru mempunyai surat. Sedangkan yang tidak ada surat, membangun sendiri bangunan di samping pasar. Pihaknya mengaku hanya mengatur jarak dua meter antar bangunan.

 

“Kami hanya mengatur, dan menyedikan tempat karena di dalam sudah penuh,” terangnya.

 

Hartono memaparkan, terdapat 96 bidak saat ini ditempati pedagang di dalam, dengan sistem pengundian memperoleh tempat.

Baca Juga :  Dulu Tandus, Kini Cocok Ditanam Buah

 

Sebelumnya terdapat 84 pedagang mengantongi surat, sedangkan sisa 12 bidak yang kosong diundi lagi. Diperuntukkan pedagang belum mempunyai surat.

 

“Sedangkan yang di luar sekitar 65-an pedagang,” tuturnya. Ia mengaku, proses penempatan bidak dilakukan dengan adil.

 

Mempertimbangkan kepemilikan surat. Saat ini belum ada penarikan retribusi, hanya uang sapon atau kebersihan tiap hari seribu. Penempatannya sejak pertengahan sebelum puasa. (luk/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/