alexametrics
32.7 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Para Penari saat Gerebek Bangkle Blora

Menyibak Selendang Tarian Simbol Kesuburan dan Perlawanan

BLORA, Radar Bojonegoro – Kidung pangkur pamoring suksma melantun di malam pembukaan upacara Grebek Desa di Kelurahan Bangkle, Blora. Para penari berbaris dan keluar dari pendapa menuju halaman kelurahan.

Penari-penari itu menyibak selendang, mengayunkan tangan dengan gerakan lemah gemulai. Gerakan ritmis dengan alunan gending, gong, saron, dan alat-alat musik khas Jawa, penari-penari itu menghiasi retina mata masyarakat yang menyaksikan. Memberikan warna cerah di ketika malam menyelimuti pendapa pada gerebek digelar Rabu (8/6).

Mereka menarikan beksan Srimpi Gandakusuma, tujuannya sebagai penghormatan kepada leluhur dan menyemangati para petugas kirab pusaka  atau disebut sebagai Bregada Manggalayuda. Tarian-tarian tersuguh simbol-simbol Mangkunegaran.

“Tarian srimpinya awalnya srimpi anglir mendug kemudian gondokusumo, untuk menghormati leluhur desa, pakem Grebeg Bangkle itu dari Mangkunegaran,” kata Gembong koordinator Grebek Bangkle kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Selain srimpi, juga menyuguhkan tari gambyong sulung dayung. Menurut Gembong, terdapat tari khas dari mangkunegaran yakni tari gambyong pareanom, karena tidak memungkinkan dalam proses latihan, pihaknya mengganti dengan gambyong sulung dayung.

Baca Juga :  Cakupan BPJS Pekerja Nonformal Masih Minim

Dia menjelaskan, dalam sejarah masyarakat sekitar, tanah Bangkle dahulu terdapat sosok leluhur dari trah Mangkunegaran yang disegani. Yakni Raden Sentono atau masyarakat desa menyebutnya Eyang Sentono. Hingga saat ini tokoh tersebut menjadi bagin tidak terpisahkan setiap upacara desa.

Dalam konsep grebeg desa tersebut, selain tarian dan kirab pusaka juga terdapat sepasang pengantin disebut sebagai Roro Blonyoh dan Raden Sadono. Menurut Gembong, keduanya melambangkan kesuburan, keindahan, dan kebaikan.

“Roro Bloyoh sebagai Dewi Sri melambangkan kesuburan, sedangkan itu menjadi dewa keindahan atau kebagusan,” ungkapnya.

Jika ditarik kepada cerita panji, keduanya melambangkan kisah asmara dan kerukunan menghasilkan kesuburan antara kerajaan Jenggala dan Kediri. Yakni Raden Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji.

Baca Juga :  Rekapitulasi Panwaskab, Ganjar Unggul

Gembong mengungkapkan, pengantin diberikan sumping pari merupakan perintah dari Magkunegaran. Selain itu juga memastikan ubo rampe tersedia semuanya, sesuai perintah dari Mangkunegaran.

Terdapat pemaknaan lagi, yakni dalam peristiwa arak-arakan pengantin pada Grebeg Desa Bangkle, yakni melambangkan penyamaran Raden Mas Said saat melawan Belanda.

Dalam rentetan sejarah Raden Mas Said dan Pakubuwono melakukan perjanjian disebut sebagai Perjanjian Giyanti, membelah Mataram menjadi dua.

Gembong menurturkan, dalam grebeg desa Bangkle terdapat para tokoh pengantin sekaligus pengiringnya. Digambarkan sebagai proses penyamaran. Karena pengantin adalah tokoh dicari oleh Belanda, sehingga melakukan kamuflase dengan merias muka, menaburkan warna putih pada wajah. Sehingga jati dirinya tidak diketahui Belanda sebagai buronan.

“Intinya semua agenda dalam Grebeg Bangkle melambangkan kesuburan permohonan masyarakat terhadap Tuhan Maha Kuasa,” tegasnya. (luk/rij)

BLORA, Radar Bojonegoro – Kidung pangkur pamoring suksma melantun di malam pembukaan upacara Grebek Desa di Kelurahan Bangkle, Blora. Para penari berbaris dan keluar dari pendapa menuju halaman kelurahan.

Penari-penari itu menyibak selendang, mengayunkan tangan dengan gerakan lemah gemulai. Gerakan ritmis dengan alunan gending, gong, saron, dan alat-alat musik khas Jawa, penari-penari itu menghiasi retina mata masyarakat yang menyaksikan. Memberikan warna cerah di ketika malam menyelimuti pendapa pada gerebek digelar Rabu (8/6).

Mereka menarikan beksan Srimpi Gandakusuma, tujuannya sebagai penghormatan kepada leluhur dan menyemangati para petugas kirab pusaka  atau disebut sebagai Bregada Manggalayuda. Tarian-tarian tersuguh simbol-simbol Mangkunegaran.

“Tarian srimpinya awalnya srimpi anglir mendug kemudian gondokusumo, untuk menghormati leluhur desa, pakem Grebeg Bangkle itu dari Mangkunegaran,” kata Gembong koordinator Grebek Bangkle kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Selain srimpi, juga menyuguhkan tari gambyong sulung dayung. Menurut Gembong, terdapat tari khas dari mangkunegaran yakni tari gambyong pareanom, karena tidak memungkinkan dalam proses latihan, pihaknya mengganti dengan gambyong sulung dayung.

Baca Juga :  Kuota Calon Jamaah Haji Blora Belum Jelas

Dia menjelaskan, dalam sejarah masyarakat sekitar, tanah Bangkle dahulu terdapat sosok leluhur dari trah Mangkunegaran yang disegani. Yakni Raden Sentono atau masyarakat desa menyebutnya Eyang Sentono. Hingga saat ini tokoh tersebut menjadi bagin tidak terpisahkan setiap upacara desa.

Dalam konsep grebeg desa tersebut, selain tarian dan kirab pusaka juga terdapat sepasang pengantin disebut sebagai Roro Blonyoh dan Raden Sadono. Menurut Gembong, keduanya melambangkan kesuburan, keindahan, dan kebaikan.

“Roro Bloyoh sebagai Dewi Sri melambangkan kesuburan, sedangkan itu menjadi dewa keindahan atau kebagusan,” ungkapnya.

Jika ditarik kepada cerita panji, keduanya melambangkan kisah asmara dan kerukunan menghasilkan kesuburan antara kerajaan Jenggala dan Kediri. Yakni Raden Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji.

Baca Juga :  Cakupan BPJS Pekerja Nonformal Masih Minim

Gembong mengungkapkan, pengantin diberikan sumping pari merupakan perintah dari Magkunegaran. Selain itu juga memastikan ubo rampe tersedia semuanya, sesuai perintah dari Mangkunegaran.

Terdapat pemaknaan lagi, yakni dalam peristiwa arak-arakan pengantin pada Grebeg Desa Bangkle, yakni melambangkan penyamaran Raden Mas Said saat melawan Belanda.

Dalam rentetan sejarah Raden Mas Said dan Pakubuwono melakukan perjanjian disebut sebagai Perjanjian Giyanti, membelah Mataram menjadi dua.

Gembong menurturkan, dalam grebeg desa Bangkle terdapat para tokoh pengantin sekaligus pengiringnya. Digambarkan sebagai proses penyamaran. Karena pengantin adalah tokoh dicari oleh Belanda, sehingga melakukan kamuflase dengan merias muka, menaburkan warna putih pada wajah. Sehingga jati dirinya tidak diketahui Belanda sebagai buronan.

“Intinya semua agenda dalam Grebeg Bangkle melambangkan kesuburan permohonan masyarakat terhadap Tuhan Maha Kuasa,” tegasnya. (luk/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/