alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Friday, August 12, 2022

Lagi, Bayi Meninggal Diduga Akibat Terlambat Penanganan Medis

Radar Bojonegoro – Meninggalnya bayi bernama Alika ramai di facebook kemarin (9/9). Bayi asal Desa Panolan Kecamatan Kedungtuban itu diduga telat penanganan medis, karena harus menjalani prosedur rapid test dulu.

Postingan ini diunggah akun facebook Burhan F- four di grup info Gilimanuk bersatu. Dalam unggahannya menyebutkan, bayi Alika belum sempat diperiksa oleh dokter karena harus rapid test dulu. Namun bayi perempuan itu meninggal pada Selasa (8/9) pukul 17.00.

‘’Saya tidak menyalahkan para dokter karena semua sudah takdir tuhan. Tapi setidaknya para dokter harus bisa lihat kondisi dan situasi,’’ sebutnya dalam postingan itu. Selanjutnya dalam postingan itu meminta dokter, menteri kesehatan menghapus rapid test sebagai syarat administrasi.

Baca Juga :  Minat Baca Buku di Wilayah Pelosok Blora Butuh Sentuhan

Sempat heboh, postingan itu kemudian dihapus oleh pemiliknya kemarin (9/9). Namun pemilik akun Burhan F-four kemudian membuat ucapan permintaan maaf di group FB lain. Tapi setelah itu juga dihapus lagi. Namun postingan itu membuat heboh di Blora.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Blora, Henny  Indriyanti membenarkan peristiwa meninggalnya bayi Alika. Kejadiannya di RS PKU Muhammadiyah Cepu, setelah dinkes melakukan penelusuran. Namun dia membantah, kejadiannya tidak seperti yang diceritakan dipostingan FB milik Burhan F-four.

‘’Semua sudah dilakukan sesuai SOP, karena itu sudah ada riwayat sakit sejak 18 Agustus lalu,’’ ujarnya. Bayi tersebut, lanjutnya, masuk ke RS PKU sejak 7 September. Dimungkinkan saat itu bayi tersebut sedang kekurangan cairan yang terlalu berat. ‘’Karena si bayi panas, muntah dan diare,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Hari Ini 75 Sekolah Gelar Pembelejaran Tatap Muka

Henny memastikan, saat di RS PKU pasien anak tersebut sudah dilakukan penanganan. ‘’Bahkan si bayi juga sudah dirapid test dan hasilnya non reaktif,’’ terangnya. Pihak manajemen RS PKU Muhammadiyah Cepu melalui humasnya mengatakan, tidak mengetahui atas peristiwa tersebut.

‘’Saya baru tahu informasinya, setelah ini saya selidiki,’’ ujar Humas PKU Muhammadiyah, Aang saat ditemui di kantornya. Saat disinggung apakah benar jika dirawat di PKU Cepu harus melakukan rapid test, menurutnya tidak. ‘’Itu tergantung kebijakan dokter, saya tidak tahu,’’ pungkasnya.

Radar Bojonegoro – Meninggalnya bayi bernama Alika ramai di facebook kemarin (9/9). Bayi asal Desa Panolan Kecamatan Kedungtuban itu diduga telat penanganan medis, karena harus menjalani prosedur rapid test dulu.

Postingan ini diunggah akun facebook Burhan F- four di grup info Gilimanuk bersatu. Dalam unggahannya menyebutkan, bayi Alika belum sempat diperiksa oleh dokter karena harus rapid test dulu. Namun bayi perempuan itu meninggal pada Selasa (8/9) pukul 17.00.

‘’Saya tidak menyalahkan para dokter karena semua sudah takdir tuhan. Tapi setidaknya para dokter harus bisa lihat kondisi dan situasi,’’ sebutnya dalam postingan itu. Selanjutnya dalam postingan itu meminta dokter, menteri kesehatan menghapus rapid test sebagai syarat administrasi.

Baca Juga :  Perahu Penyeberangan Terbalik di Bengawan

Sempat heboh, postingan itu kemudian dihapus oleh pemiliknya kemarin (9/9). Namun pemilik akun Burhan F-four kemudian membuat ucapan permintaan maaf di group FB lain. Tapi setelah itu juga dihapus lagi. Namun postingan itu membuat heboh di Blora.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Blora, Henny  Indriyanti membenarkan peristiwa meninggalnya bayi Alika. Kejadiannya di RS PKU Muhammadiyah Cepu, setelah dinkes melakukan penelusuran. Namun dia membantah, kejadiannya tidak seperti yang diceritakan dipostingan FB milik Burhan F-four.

‘’Semua sudah dilakukan sesuai SOP, karena itu sudah ada riwayat sakit sejak 18 Agustus lalu,’’ ujarnya. Bayi tersebut, lanjutnya, masuk ke RS PKU sejak 7 September. Dimungkinkan saat itu bayi tersebut sedang kekurangan cairan yang terlalu berat. ‘’Karena si bayi panas, muntah dan diare,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Bahu Jalan Nasional Berlubang dan Tergenang Air

Henny memastikan, saat di RS PKU pasien anak tersebut sudah dilakukan penanganan. ‘’Bahkan si bayi juga sudah dirapid test dan hasilnya non reaktif,’’ terangnya. Pihak manajemen RS PKU Muhammadiyah Cepu melalui humasnya mengatakan, tidak mengetahui atas peristiwa tersebut.

‘’Saya baru tahu informasinya, setelah ini saya selidiki,’’ ujar Humas PKU Muhammadiyah, Aang saat ditemui di kantornya. Saat disinggung apakah benar jika dirawat di PKU Cepu harus melakukan rapid test, menurutnya tidak. ‘’Itu tergantung kebijakan dokter, saya tidak tahu,’’ pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/