alexametrics
28.7 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Dampak Kericuhan Konser Dangdut di Desa Prigi

Musisi Harap Event Seni di Blora Tetap Diperbolehkan

BLORA, Radar Bojonegoro – Kericuhan konser dangdut berimbas larangan acara hiburan mengundang banyak orang ketika malam direspons kelompok musisi. Perlu ada kajian menyeluruh, karena kericuhan dilakukan oknum penonton, bukan pelaku kesenian.

 

Ketua Forum Musisi Cepu (FMC) sekaligus tim penggagas Dewan Kebudayaan Blora Fransiscus Hariyanto merasa tidak adil keputusan pemberhentian kegiatan musik dan hiburan mengundang keramaian ketika malam. Imbas dari kerusuhan di Desa Prigi, Kecamatan Todanan, perlu ada kajian ulang, agar tidak timbul kesenjangan sosial di antara pelaku seni.

 

“Kebijakan seperti dipukul rata, tanpa ada pertimbangan kerugian menimpa para pelaku seni lainnya,” jelasnya.

Hariyanto menerangkan, kerusuhan karena beberapa oknum pengunjung dan panitia penyelenggara, bukan dari pelaku seni.

Baca Juga :  Banyak Kesalahan, Perbaikan Data Kartu Tani Molor

 

Seharusnya ada kebijakan menguntungkan pelaku seni dan para musisi.

 

Ia berharap kepada penegak hukum atau kepolisian memberi ruang pelaku seni agar tetap bisa beraktivitas. “Yang perlu saya tegaskan, jangan membuat keputusan seolah-olah ini adalah kesalahan kaum seniman,” jelasnya.

 

Sebelumnya, Kapolres Blora AKBP Aan Hardiansyah mengambil langkah melarang kegiatan pertunjukan mendatangkan banyak penonton ketika malam. Tindakan tersebut merespons terjadinya aksi kericuhan saat pagelaran musik dangdut di Desa Prigi.

 

Terkait kejadian awal, Aan menjelaskan, pemberitahuan keramaian tidak dilakukan jauh hari. Baru dilaporkan pihak penyelenggara beberapa jam jelang pagelaran dangdut berlangsung Sabtu malam (7/5).

 

Sementara itu, Kades Prigi Kecamatan Todanan Jais menjelaskan, saat ini panitia penyelenggara sudah dipanggil oleh pihak kepolisian untuk diomintai keterangan. Pihaknya mengamini jika penyelenggaraan acara tidak mengantongi izin. Namun, acara tetap dilaksanakan, pihaknya mengambil inisiatif menggandeng pihak polsek. “Untuk mengantisipasi keributan, karena tetap dilaksanakan,” tuturnya.

Baca Juga :  Bukan Bendera HTI, tapi Bendera Tauhid

 

Menurutnya, kericuhan karena emosi penonton ketika acara hampir selesai. Ia menampik jika kericuhan akibat minuman keras. “Kami pastikan sebelum acara dimulai kondisi steril dari miras,” terangnya. (luk/rij)

BLORA, Radar Bojonegoro – Kericuhan konser dangdut berimbas larangan acara hiburan mengundang banyak orang ketika malam direspons kelompok musisi. Perlu ada kajian menyeluruh, karena kericuhan dilakukan oknum penonton, bukan pelaku kesenian.

 

Ketua Forum Musisi Cepu (FMC) sekaligus tim penggagas Dewan Kebudayaan Blora Fransiscus Hariyanto merasa tidak adil keputusan pemberhentian kegiatan musik dan hiburan mengundang keramaian ketika malam. Imbas dari kerusuhan di Desa Prigi, Kecamatan Todanan, perlu ada kajian ulang, agar tidak timbul kesenjangan sosial di antara pelaku seni.

 

“Kebijakan seperti dipukul rata, tanpa ada pertimbangan kerugian menimpa para pelaku seni lainnya,” jelasnya.

Hariyanto menerangkan, kerusuhan karena beberapa oknum pengunjung dan panitia penyelenggara, bukan dari pelaku seni.

Baca Juga :  Ketua dan Wakil DPRD Blora Dilantik Menjadi Pengurus ADKASI

 

Seharusnya ada kebijakan menguntungkan pelaku seni dan para musisi.

 

Ia berharap kepada penegak hukum atau kepolisian memberi ruang pelaku seni agar tetap bisa beraktivitas. “Yang perlu saya tegaskan, jangan membuat keputusan seolah-olah ini adalah kesalahan kaum seniman,” jelasnya.

 

Sebelumnya, Kapolres Blora AKBP Aan Hardiansyah mengambil langkah melarang kegiatan pertunjukan mendatangkan banyak penonton ketika malam. Tindakan tersebut merespons terjadinya aksi kericuhan saat pagelaran musik dangdut di Desa Prigi.

 

Terkait kejadian awal, Aan menjelaskan, pemberitahuan keramaian tidak dilakukan jauh hari. Baru dilaporkan pihak penyelenggara beberapa jam jelang pagelaran dangdut berlangsung Sabtu malam (7/5).

 

Sementara itu, Kades Prigi Kecamatan Todanan Jais menjelaskan, saat ini panitia penyelenggara sudah dipanggil oleh pihak kepolisian untuk diomintai keterangan. Pihaknya mengamini jika penyelenggaraan acara tidak mengantongi izin. Namun, acara tetap dilaksanakan, pihaknya mengambil inisiatif menggandeng pihak polsek. “Untuk mengantisipasi keributan, karena tetap dilaksanakan,” tuturnya.

Baca Juga :  Pelajar Begitu Menikmati 48 Karya Lukis

 

Menurutnya, kericuhan karena emosi penonton ketika acara hampir selesai. Ia menampik jika kericuhan akibat minuman keras. “Kami pastikan sebelum acara dimulai kondisi steril dari miras,” terangnya. (luk/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/