alexametrics
23.8 C
Bojonegoro
Friday, August 12, 2022

Kisah Empat Polwan Lamongan Menjadi Petugas Pemulasaran Jenazah Covid

Radar Lamongan – Selama ini yang petugas pemulasaraan jenasah Covid-19 hanya kaum laki-laki. Ternyata diam-diam empat anggota Polwan Polres Lamongan telah aktif terlibat dalam membantu memandikan hingga menguburkan jenasah Covid-19. Tentu saja jenasah perempuan.

Bahkan salah satunya yakni Wakapolres Lamongan, Kompol Dies Ferra Ningtias. Sedangkan tiga lainnya yakni Iptu Sri Iswati, Briptu Helda Dwi, dan Briptu Nur Qomariyatin. ‘’Pemulasaraan jenasah covid saat siang maupun malam berbeda. Saya sudah merasakan pada siang maupun malam hari,’’ ucap Kompol Dies Ferra Ningtias.

Menurut dia, pemulasaraan jenasah covid saat siang hari lebih berat dibanding malam hari. Karena dalam kondisi memakai baju APD yang cukup panas. Sehingga cukup menguras tenaga dan benar-benar mandi keringat. ‘’Tapi tetap kita nikmati. Setelah selesai bertugas, kita anggap seperti habis sauna gratis, bisa mengeluarkan lemak tubuh,’’ ujarnya sambil tersenyum.

Selesai bertugas tetap tidak bisa seenaknya. Sebelum membuka baju APD harus melakukan sterilisasi. Kemudian membuka baju APD juga tak bisa sembarangan. Semua harus selalu dilakukan proses sterilisasi, agar tidak tertular virus korona.

Baca Juga :  Kemiskinan di Blora Meningkat 1,57 persen

‘’Sebelumnya saya mendengar keluhan saat mengunakan baju APD lengkap yang ribet dan panas. Ternyata itu semua benar, setelah membuktikan sendiri,’’ tukas Ferra. Ketika ditanya motivasinya ikut terlibat menjadi petugas pemulasaraan jenasah covid, lulusan Akpol 2002 itu mengaku bermula dari kasihan melihat petugas pemulasaraan jenasah Covid-19 yang cukup berat.

Apalagi bila jenasah perempuan, sangat minim petugas pemulasaraan perempuan yang ada. ‘’Dari situlah kami kemudian minta izin kapolres. Setelah diizinkan, kami kemudian mengikuti pelatihan sebelum benarbenar bertugas,’’ ungkapnya.

Ditanya kali pertama melakukan pemulasaraan jenasah Covid-19, Ferra mengakui ada rasa takut. Apalagi sebagai perempuan. Takutnya bukan karena hantu, tapi risiko tertular virus korona yang paling ditakutkan. ‘’Pada awalnya tentu takutlah, karena kami juga wanita seperti pada umumnya,’’ tukasnya.

Apalagi tugas itu dinilai cukup berat secara fisik maupun mental. Karena harus ikut mencangkul di pemakaman, dalam kondisi memakai baju APD yang berat dan panas. Ditambah dengan ancaman tertular virus yang cukup mematikan itu.

Baca Juga :  Sekolah Belum Sediakan Genset

‘’Ada satu tim saya sampai tak bisa tidur setelah kali pertama bertugas. Karena belum pernah ikut sampai ke liang lahat,’’ ungkapnya. Namun, dengan tekad ingin membantu sesama dan merupakan tugas mulia, akhirnya mereka mampu menjalankan tugasnya dengan lancar untuk selanjutnya.

‘’Hingga saat ini semua tugas pemulasaraan jenasah Covid-19 telah kami jalankan dengan lancar dan berhasil. Termasuk tak ada kendala dengan keluarga jenazah hingga warga sekitar,’’ ucap Ferra. Selain melakukan pemulasaraan jenasah, mereka juga menyelipkan tugas edukasi kepada keluarga jenasah dan masyarakat sekitar, agar selalu mematuhi protokol kesehatan, sambil membagikan masker gratis.

‘’Semangat kami semakin berlipat setelah mendapat penghargaan dari Kapolres Lamongan, juga pemberian tali Asih dari Wakapolri Komjen Pol Gatot Sddy Pramono di Polda Jatim beberapa waktu lalu,’’ ungkapnya.

Radar Lamongan – Selama ini yang petugas pemulasaraan jenasah Covid-19 hanya kaum laki-laki. Ternyata diam-diam empat anggota Polwan Polres Lamongan telah aktif terlibat dalam membantu memandikan hingga menguburkan jenasah Covid-19. Tentu saja jenasah perempuan.

Bahkan salah satunya yakni Wakapolres Lamongan, Kompol Dies Ferra Ningtias. Sedangkan tiga lainnya yakni Iptu Sri Iswati, Briptu Helda Dwi, dan Briptu Nur Qomariyatin. ‘’Pemulasaraan jenasah covid saat siang maupun malam berbeda. Saya sudah merasakan pada siang maupun malam hari,’’ ucap Kompol Dies Ferra Ningtias.

Menurut dia, pemulasaraan jenasah covid saat siang hari lebih berat dibanding malam hari. Karena dalam kondisi memakai baju APD yang cukup panas. Sehingga cukup menguras tenaga dan benar-benar mandi keringat. ‘’Tapi tetap kita nikmati. Setelah selesai bertugas, kita anggap seperti habis sauna gratis, bisa mengeluarkan lemak tubuh,’’ ujarnya sambil tersenyum.

Selesai bertugas tetap tidak bisa seenaknya. Sebelum membuka baju APD harus melakukan sterilisasi. Kemudian membuka baju APD juga tak bisa sembarangan. Semua harus selalu dilakukan proses sterilisasi, agar tidak tertular virus korona.

Baca Juga :  Obyek Wisata Tetap Buka

‘’Sebelumnya saya mendengar keluhan saat mengunakan baju APD lengkap yang ribet dan panas. Ternyata itu semua benar, setelah membuktikan sendiri,’’ tukas Ferra. Ketika ditanya motivasinya ikut terlibat menjadi petugas pemulasaraan jenasah covid, lulusan Akpol 2002 itu mengaku bermula dari kasihan melihat petugas pemulasaraan jenasah Covid-19 yang cukup berat.

Apalagi bila jenasah perempuan, sangat minim petugas pemulasaraan perempuan yang ada. ‘’Dari situlah kami kemudian minta izin kapolres. Setelah diizinkan, kami kemudian mengikuti pelatihan sebelum benarbenar bertugas,’’ ungkapnya.

Ditanya kali pertama melakukan pemulasaraan jenasah Covid-19, Ferra mengakui ada rasa takut. Apalagi sebagai perempuan. Takutnya bukan karena hantu, tapi risiko tertular virus korona yang paling ditakutkan. ‘’Pada awalnya tentu takutlah, karena kami juga wanita seperti pada umumnya,’’ tukasnya.

Apalagi tugas itu dinilai cukup berat secara fisik maupun mental. Karena harus ikut mencangkul di pemakaman, dalam kondisi memakai baju APD yang berat dan panas. Ditambah dengan ancaman tertular virus yang cukup mematikan itu.

Baca Juga :  75 Warga Terpapar DBD

‘’Ada satu tim saya sampai tak bisa tidur setelah kali pertama bertugas. Karena belum pernah ikut sampai ke liang lahat,’’ ungkapnya. Namun, dengan tekad ingin membantu sesama dan merupakan tugas mulia, akhirnya mereka mampu menjalankan tugasnya dengan lancar untuk selanjutnya.

‘’Hingga saat ini semua tugas pemulasaraan jenasah Covid-19 telah kami jalankan dengan lancar dan berhasil. Termasuk tak ada kendala dengan keluarga jenazah hingga warga sekitar,’’ ucap Ferra. Selain melakukan pemulasaraan jenasah, mereka juga menyelipkan tugas edukasi kepada keluarga jenasah dan masyarakat sekitar, agar selalu mematuhi protokol kesehatan, sambil membagikan masker gratis.

‘’Semangat kami semakin berlipat setelah mendapat penghargaan dari Kapolres Lamongan, juga pemberian tali Asih dari Wakapolri Komjen Pol Gatot Sddy Pramono di Polda Jatim beberapa waktu lalu,’’ ungkapnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/