alexametrics
31.2 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Dari Hobi, Menjadi Pondasi Ekonomi

Kopi Excelsa umumnya ditanam di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut (mdpl). Namun, bisa hidup hingga berbuah jika ditanam di Kabupaten Blora. Tepatnya di Nglawungan, Desa/Kecamatan Tunjungan.

LAHAN di Nglawungan, Desa/Kecamatan Tunjungan bukan hanya cocok ditanami durian, namun pohon kopi ternyata juga bisa berbuah, seperti yang telah dibuktikan Pranoto.
Pria 72 tahun ini kemarin (5/11) memanen buah seukuran kelereng itu, saat buah sudah menghitam, membuktikan sudah masak dan siap dipetik. Pertumbuhannya berawal dari bunga, kemudian berbuah warna hijau, merah, dan menghitam.
Di lahan berukuran sekitar 2.500 meter itu, berdiri sekitar 70 pohon kopi jenis excelsa. Kebun itu menjadi pembeda di Nglawungan.
Daerah yang dikenal dengan durian, ternyata pohon kopi bisa berkembang dan sudah beberapa kali panen.
Semua pohon kopi ini dirawat sendiri. Kemarin usai memetik biji kopi, kemudian dicuci dan mulai dikeringkan dengan panas matahari.
Setelah kering, kopi disimpan di gubuk berdinding bambu, bangunan kecil itu juga sebagai tempat memproses kopi. Setelah kering digiling dengan alat giling untuk mengupas kulitnya.
Setelah terkupas dan kering, siap untuk dipasarkan. ‘’Untuk kopi ini nanti diambil orang dari Kelurahan Kunden, orangnya ke sini langsung,’’ ujar kakek mengenakan kaus kuning itu.
Proses tanam panen hingga siap jual ditangani sendiri, sehingga harga tak sembarangan. Karena jenis kopi excelsa ini cukup unik, dinilai memiliki rasa khas. Harga kopi kering siap goreng bisa dijual dengan harga di atas rata-rata. ‘’Kalau biji kopi yang sudah terkupas, kering dan siap digoreng dan kemudian di giling itu satu kilogramnya Rp 50 ribu,’’ bebernya saat berada di bawah gubuk.
Kopi ini dinilai memiliki cita rasa yang enak. Sehingga banyak pecinta kopi yang gandrung jenis kopi ini.
Dalam perbincangan itu Pak Ji, begitu lelaki tua itu akrab disapa, menceritakan, awal mula menanam kopi ini pada 2005 lalu, saat dirinya merantau di Lampung. Selama diperantauan itu merasakan nikmatnya kopi jenis ini. Saat itu dirinya tidak tahu jenis kopi apa, tapi baginya memiliki citarasa khas.
Saat hendak pulang ke Blora pada 2006, Pak Ji meminta bibit kopi ini dari saudaranya. Ratusan bibit tersebut kemudian sesampainya di Blora langsung dia tanam di lahan miliknya di Nglawungan pada 2007.
Dari ratusan bibit yang ditanam ternyata tidak semua tumbuh. ‘’Tinggal 70-an pohon yang hidup sampai sekarang ini,’’ujar bapak tiga anak ini.
Pohon kopi ini butuh waktu empat tahun untuk bisa berbuah, panen sesuai dengan tujuan awalnya dia tanam di Blora agar tetap bisa merasakan kenikmatan kopi ini. Awal kopi ini dinikmati sendiri. ‘’Ternyata kok banyak dan tidak habis, jadi ya saya bagi-bagikan ke tetangga,’’ kenangnya.
Sejak menilai di Blora memiliki potensi kopi. Bahkan, bukan hanya di Nglawungan, daerah lain juga bisa.
Menanam pohon kopi tujuan awalnya hobi. Sehingga, tidak ada niat menjual. Tapi akhirnya setelah itu ada yang datang ke kebun kopinya dan meminta agar menyuplai kopi. Jadi, sejak saat itu kopinya mulai dia jual. Sampai hari ini bekerja sama dengan salah satu kafe kopi. Karena kopi yang memiliki ciri khas itulah kemudian banyak peminatnya.

Baca Juga :  Calon Pengganti PAW Harus Laporkan LHKPN

Kopi Excelsa umumnya ditanam di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut (mdpl). Namun, bisa hidup hingga berbuah jika ditanam di Kabupaten Blora. Tepatnya di Nglawungan, Desa/Kecamatan Tunjungan.

LAHAN di Nglawungan, Desa/Kecamatan Tunjungan bukan hanya cocok ditanami durian, namun pohon kopi ternyata juga bisa berbuah, seperti yang telah dibuktikan Pranoto.
Pria 72 tahun ini kemarin (5/11) memanen buah seukuran kelereng itu, saat buah sudah menghitam, membuktikan sudah masak dan siap dipetik. Pertumbuhannya berawal dari bunga, kemudian berbuah warna hijau, merah, dan menghitam.
Di lahan berukuran sekitar 2.500 meter itu, berdiri sekitar 70 pohon kopi jenis excelsa. Kebun itu menjadi pembeda di Nglawungan.
Daerah yang dikenal dengan durian, ternyata pohon kopi bisa berkembang dan sudah beberapa kali panen.
Semua pohon kopi ini dirawat sendiri. Kemarin usai memetik biji kopi, kemudian dicuci dan mulai dikeringkan dengan panas matahari.
Setelah kering, kopi disimpan di gubuk berdinding bambu, bangunan kecil itu juga sebagai tempat memproses kopi. Setelah kering digiling dengan alat giling untuk mengupas kulitnya.
Setelah terkupas dan kering, siap untuk dipasarkan. ‘’Untuk kopi ini nanti diambil orang dari Kelurahan Kunden, orangnya ke sini langsung,’’ ujar kakek mengenakan kaus kuning itu.
Proses tanam panen hingga siap jual ditangani sendiri, sehingga harga tak sembarangan. Karena jenis kopi excelsa ini cukup unik, dinilai memiliki rasa khas. Harga kopi kering siap goreng bisa dijual dengan harga di atas rata-rata. ‘’Kalau biji kopi yang sudah terkupas, kering dan siap digoreng dan kemudian di giling itu satu kilogramnya Rp 50 ribu,’’ bebernya saat berada di bawah gubuk.
Kopi ini dinilai memiliki cita rasa yang enak. Sehingga banyak pecinta kopi yang gandrung jenis kopi ini.
Dalam perbincangan itu Pak Ji, begitu lelaki tua itu akrab disapa, menceritakan, awal mula menanam kopi ini pada 2005 lalu, saat dirinya merantau di Lampung. Selama diperantauan itu merasakan nikmatnya kopi jenis ini. Saat itu dirinya tidak tahu jenis kopi apa, tapi baginya memiliki citarasa khas.
Saat hendak pulang ke Blora pada 2006, Pak Ji meminta bibit kopi ini dari saudaranya. Ratusan bibit tersebut kemudian sesampainya di Blora langsung dia tanam di lahan miliknya di Nglawungan pada 2007.
Dari ratusan bibit yang ditanam ternyata tidak semua tumbuh. ‘’Tinggal 70-an pohon yang hidup sampai sekarang ini,’’ujar bapak tiga anak ini.
Pohon kopi ini butuh waktu empat tahun untuk bisa berbuah, panen sesuai dengan tujuan awalnya dia tanam di Blora agar tetap bisa merasakan kenikmatan kopi ini. Awal kopi ini dinikmati sendiri. ‘’Ternyata kok banyak dan tidak habis, jadi ya saya bagi-bagikan ke tetangga,’’ kenangnya.
Sejak menilai di Blora memiliki potensi kopi. Bahkan, bukan hanya di Nglawungan, daerah lain juga bisa.
Menanam pohon kopi tujuan awalnya hobi. Sehingga, tidak ada niat menjual. Tapi akhirnya setelah itu ada yang datang ke kebun kopinya dan meminta agar menyuplai kopi. Jadi, sejak saat itu kopinya mulai dia jual. Sampai hari ini bekerja sama dengan salah satu kafe kopi. Karena kopi yang memiliki ciri khas itulah kemudian banyak peminatnya.

Baca Juga :  Kekurangan Air Bersih Terus Meluas

Artikel Terkait

Most Read

Eksplorasi Foto Humanis

Konsumen Kaus Oversize Mulai Banyak

Artikel Terbaru


/