alexametrics
23.2 C
Bojonegoro
Thursday, August 18, 2022

Berawal Keresahan Tingginya Siswa Kecelakaan di Blora

- Advertisement -

’’Sebab, anak-anak usia SMP masih labil untuk berkendara di jalan.”

Sri Sumiarsih, Kepala SMPN 1 Sambong

KEPALA SMPN 1 Sambong Sri Sumiarsih menjelaskan, penggunaan transportasi umum di sekolah setelah melihat banyak anak didik kecelakaan di jalan, pihak sekolah sepakat untuk memberlakukan angkutan umum antar jemput siswa.

 

“Setiap bulannya pasti ada yang kecelakaan, sehingga setelah rapat komite beberapa tahun lalu disepakati, sebab anak-anak usia smp masih labil untuk berkendara di jalan,” terangnya.

 

Ia mengungkapkan, transportasi bus antar jemput kurang lebih sudah 7 tahunan beroperasi. Jumlahnya saat ini ada 5 angkutan, antar jemput di beberapa titik kumpul desa seperti dua bus di Desa Sambongrejo dan Desa Temengeng, dan satu bus di Desa Ledok, Kecamatan Sambong.

Baca Juga :  Tutup Lubang Kerugian PDAM
- Advertisement -

 

“Ada satu titik kumpul di masing-masing desa, tiap pagi berangkat dan pulang diantarkan kembali ke titik kumpul,” katanya.

 

Penggunaan transportasi umum tersebut, menurut Sumiarsih berdampak pada menurunnya angka kecelakaan siswanya. Lima bus yang saat ini beroperasi dirasa kurang, sebab bertambahnya siswa, sehingga muatan tidak mencukupi. Beberapa anak ada yang tidak kebagian kursi duduk, harus berdiri.

 

Dari pantaun di lapangan, beberapa anak saat pulang sekolah ada yang berdiri di samping pintu bus. Menurut Sumiarsih, pihaknya membutuhkan tambahan satu bus.

 

“Seharusnya butuh satu lagi yang dari barat, tapi kami masih memperkirakan efektivitas, kalau ditambah satu nanti naggung,” paparnya.

Baca Juga :  Wacanakan Pembangkit Listrik Tenaga Matahari di Blora

 

Sumiarsih menjelaskan, transportasi umum lembaganya dikelola oleh swasta, pihaknya mengklaim tidak menerima apapun dari angkutan tersebut. Pihak sekolah menghindari penerimaan uang, sebab sekolah dilarang menerima. Sekali berangkat siswa membayar Rp 4 ribu untuk pulang dan pergi setiap harinya.

 

“Tidak kontrak, dikira sekolah cari untung, semua dikelola perorangan,” tuturnya. (luk/msu)

’’Sebab, anak-anak usia SMP masih labil untuk berkendara di jalan.”

Sri Sumiarsih, Kepala SMPN 1 Sambong

KEPALA SMPN 1 Sambong Sri Sumiarsih menjelaskan, penggunaan transportasi umum di sekolah setelah melihat banyak anak didik kecelakaan di jalan, pihak sekolah sepakat untuk memberlakukan angkutan umum antar jemput siswa.

 

“Setiap bulannya pasti ada yang kecelakaan, sehingga setelah rapat komite beberapa tahun lalu disepakati, sebab anak-anak usia smp masih labil untuk berkendara di jalan,” terangnya.

 

Ia mengungkapkan, transportasi bus antar jemput kurang lebih sudah 7 tahunan beroperasi. Jumlahnya saat ini ada 5 angkutan, antar jemput di beberapa titik kumpul desa seperti dua bus di Desa Sambongrejo dan Desa Temengeng, dan satu bus di Desa Ledok, Kecamatan Sambong.

Baca Juga :  Enam Proyek Jaringan Irigasi Teken Kontrak
- Advertisement -

 

“Ada satu titik kumpul di masing-masing desa, tiap pagi berangkat dan pulang diantarkan kembali ke titik kumpul,” katanya.

 

Penggunaan transportasi umum tersebut, menurut Sumiarsih berdampak pada menurunnya angka kecelakaan siswanya. Lima bus yang saat ini beroperasi dirasa kurang, sebab bertambahnya siswa, sehingga muatan tidak mencukupi. Beberapa anak ada yang tidak kebagian kursi duduk, harus berdiri.

 

Dari pantaun di lapangan, beberapa anak saat pulang sekolah ada yang berdiri di samping pintu bus. Menurut Sumiarsih, pihaknya membutuhkan tambahan satu bus.

 

“Seharusnya butuh satu lagi yang dari barat, tapi kami masih memperkirakan efektivitas, kalau ditambah satu nanti naggung,” paparnya.

Baca Juga :  Pendirian Rumah Tumbuh Sekitar Bandara Ngloram Cepu, Blora

 

Sumiarsih menjelaskan, transportasi umum lembaganya dikelola oleh swasta, pihaknya mengklaim tidak menerima apapun dari angkutan tersebut. Pihak sekolah menghindari penerimaan uang, sebab sekolah dilarang menerima. Sekali berangkat siswa membayar Rp 4 ribu untuk pulang dan pergi setiap harinya.

 

“Tidak kontrak, dikira sekolah cari untung, semua dikelola perorangan,” tuturnya. (luk/msu)

Artikel Terkait

Most Read

UMKM Senjata Ampuh Melawan Covid-19

Berharap Pembangunan Tak Molor Lagi 

Smartphone Bisa, Tiga SMA Menumpang

Artikel Terbaru


/