alexametrics
24 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

Memori tentang Blora

Kesan pertama tentang Blora, saya peroleh dari buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer. “Cerita dari Blora” dan “Perburuan”, karya Pram yang bersentuhan dengan daerah kelahirannya tersebut. Sejalan dengan setting cerita, Blora dalam novelnya Pram, menggambarkan kondisi pada masa kolonial dan awal kemerdekaan. Daerah kaya hutan jati berkualitas, namun juga dipenuhi bentangan perbukitan kapur keras dan tandus. Sama dengan daerah lain pada masa itu, kemiskinan dan keterbelakangan juga menyelimuti Blora.

Kesan berikutnya, saat saya bekerja di Cepu. Kota kecil namun lebih terkenal daripada Blora sebagai ibu kota kabupaten. Kota ini disebut dalam film “Kingkong” produksi 1933. Membuktikan sejak dulu, Cepu sudah dikenal sampai ke pusat perfilman Amerika.

Cepu juga identik dengan minyak bumi. Dapat dipahami, karena bicara sejarah pengeboran minyak di Jawa, tentu tidak bisa dilepaskan dari Cepu. Berbagai literatur menyebutkan, titik awal penggunaan teknologi sederhana pengelolaan minyak bumi di Jawa dilakukan di Cepu pada 1880-an.

Blora juga melahirkan tokoh-tokoh luar biasa dan berpengaruh dalam jagad politik nasional. Sebut saja, Tirto Adhi Soerjo (Bapak Pers Indonesia), Mas Marco Kartodikromo (jurnalis, tokoh kiri dan pejuang kemerdekaan nasional), Mas Sutardjo Kertohadikusumo (pencetus Petisi Sutardjo), Kartosuwiryo (Pemimpin DI/TII), Pramoedya Ananta Toer (Sastrawan),  LB Moerdani (mantan Panglima ABRI) dan tentunya Samin Surosentiko, pencetus ajaran “Saminisme”.  Aspek sejarah itu membuktikan, kondisi alam yang keras tidak menghalangi tumbuhnya sumber daya manusia berkualitas.

Blora saat ini, berbeda dengan sekian tahun silam. Namun, memori masa lalu itu seperti stigma. Sulit ditanggalkan. Meski laju pembangunan cukup bagus, tapi tidak mudah menanggalkan kesan Blora sebagai daerah tertinggal. Memori tentang jalan selalu rusak, alam kering dan tandus. Nyaris terekam secara permanen. Namun, ada juga memori indah. Kondisi hutan jati “meranggas” pada musim kemarau di sepanjang jalan Blora-Cepu merupakan pemandangan cantik luar biasa.

Baca Juga :  Butuh Perbaikan Jalan Menuju Bandara

Pemimpin Baru

Blora mulai kemarin (26 Februari 2021) memiliki bupati dan wakil bupati baru. Arief Rohman berpasangan dengan Tri Yuli Setyowati (Artys) berhasil memenangkan pemilihan bupati (pilbup). Arief bukan orang baru di jajaran Pemkab Blora karena menjadi wakil bupati periode 2016-2021. Sedangkan, Tri Yuli Setyowati, anggota DPRD Blora. Keduanya, sangat memahami masalah, potensi daerah serta strategi mengatasi masalah tersebut.

Blora memiliki potensi sektor pertanian, hutan jati, dan pertambangan atau migas. Merujuk data di website Pemkab Blora, kabupaten ini terbagi menjadi 16 kecamatan, 271 desa, dan 24 kelurahan. Total luas wilayah 1820,59 kilometer persegi. Sebagian besar area hutan (49,66 persen), khususnya wilayah Kecamatan Randublatung, Jiken, dan Jati.  Area persawahan 25,38 persen, sebagian besar di Kecamatan Kunduran dan Kedungtuban. Keduanya lumbung padi Kabupaten Blora. Sisanya, 24,96 persen digunakan sebagai pekarangan, tegalan, waduk, perkebunan rakyat dan lain-lain.

Blora juga punya potensi wisata alam. Misalnya, Gua Terawang, Gua Sentono, Waduk Tempuran. Wisata kuliner, terkenal dengan sate, soto ayam kletuk, mi puyang, limun kawis, pecel, serta ragam kuliner khas dan tradisional Blora.

Sedangkan potensi migas, mengutip PT Jateng Petro Energi, meskipun sebagian besar merupakan sumur-sumur tua, namun masih dapat dioptimalkan. Misalnya di beberapa lapangan seperti Nglobo, Ledok, Semanggi, Banyubang. Isu migas ini sedang hangat. Asosiasi Masyarakat Sipil Blora (AMSB) tengah mengajukan judicial review regulasi dana bagi hasil (DBH) migas Blok Cepu ke Mahkamah Konsitusi (MK). Saat ini, Blora tidak memperoleh DBH, hanya mendapat participating interest (PI) dari keikutsertaannya di pengelolaan Lapangan Minyak Banyu Urip, Blok Cepu. 

Jika merujuk visi misi Artys “Sesarengan Mbangun Blora: Unggul dan Berdaya Saing”, infrastruktur tetap menjadi prioritas. “Mbangun Dalan Alus” salah satu cara menghubungkan wilayah Blora ke satu kesatuan urat nadi (perekonomian, pertanian, dan sebagainya). 

Sektor pertanian dan sumber daya air, melalui program “Banyune Lancar Terus” dan “Mbangun Kadang Tani”. Potensi wisata dikembangkan “Ayo Dolan Blora”.  Pengoperasian kembali Bandar Udara Ngloram upaya memudahkan akses ke Blora, baik bisnis maupun wisata. 

Baca Juga :  Pemkab akan Surati Dirut Pertamina

Visi-misi dan program kerja tersebut, tentu disusun berdasar analisa masalah dan tantangan dihadapi masyarakat Blora. Antara lain; Kemiskinan. BPS Blora menyebutkan angka kemiskinan 11,96. Urutan ke-23 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Pandemi Covid-19 berdampak signifikan meningkatnya angka kemiskinan.  Tingkat pengangguran terbuka, meskipun relatif kecil namun terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Tahun 2017 sebesar 2,85 persen, 2018 mencapai 3,26 persen dan 2019 sebesar 3,89 persen.

Problem lainnya infrastruktur serta APBD terbatas. Arief pada forum diskusi “Inspirasi Jawa Tengah” beberapa waktu lalu, menyampaikan APBD Blora hanya sekitar Rp 2,2 triliun. Jalan rusak mencapai 350 km, butuh biaya sekitar Rp 1,7 triliun. Itu baru jalan, belum infrastruktur publik lain dan sektor pembangunan lainnya.  Karena itu, ia berharap bisa mendapatkan DBH dari Blok Cepu. Saat ini, Blora hanya mendapat DBH dari produksi gas Blok Gundih.

Tantangan lainnya, masa jabatan kali ini lebih pendek. Sekitar 3,5 tahun. Meski periodenya tetap 2021-2026, namun masa kepemimpinan Artys akan berakhir pada 2024 saat pilkada serentak. Karena itu, perlu kerja ekstra keras, “smart”, inovatif, dan kreatif serta harus didukung sepenuhnya oleh segenap elemen masyarakat.

Dukungan birokrasi tentu bukan masalah. Arief, posisi sebelumnya sebagai Wabup, punya jejaring di aparatur pemkab. Dukungan politik DPRD Blora seharusnya juga bukan hal sulit. Artys diusung PKB, PDIP, PKS, dan Perindo. Koalisi tersebut menguasai 21 dari 45 kursi DPRD.

Jadi, saat ini tinggal memberi kesempatan kepada bupati dan wakil bupati baru merealisasikan visi-misinya. Selamat bertugas Mas Arief dan Mbak Yuli!. (*)

*Ketua Forum Komunikasi Industri Hulu Migas Jawa Bali Nusa Tenggara (FKIHM Jabanusa)

Kesan pertama tentang Blora, saya peroleh dari buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer. “Cerita dari Blora” dan “Perburuan”, karya Pram yang bersentuhan dengan daerah kelahirannya tersebut. Sejalan dengan setting cerita, Blora dalam novelnya Pram, menggambarkan kondisi pada masa kolonial dan awal kemerdekaan. Daerah kaya hutan jati berkualitas, namun juga dipenuhi bentangan perbukitan kapur keras dan tandus. Sama dengan daerah lain pada masa itu, kemiskinan dan keterbelakangan juga menyelimuti Blora.

Kesan berikutnya, saat saya bekerja di Cepu. Kota kecil namun lebih terkenal daripada Blora sebagai ibu kota kabupaten. Kota ini disebut dalam film “Kingkong” produksi 1933. Membuktikan sejak dulu, Cepu sudah dikenal sampai ke pusat perfilman Amerika.

Cepu juga identik dengan minyak bumi. Dapat dipahami, karena bicara sejarah pengeboran minyak di Jawa, tentu tidak bisa dilepaskan dari Cepu. Berbagai literatur menyebutkan, titik awal penggunaan teknologi sederhana pengelolaan minyak bumi di Jawa dilakukan di Cepu pada 1880-an.

Blora juga melahirkan tokoh-tokoh luar biasa dan berpengaruh dalam jagad politik nasional. Sebut saja, Tirto Adhi Soerjo (Bapak Pers Indonesia), Mas Marco Kartodikromo (jurnalis, tokoh kiri dan pejuang kemerdekaan nasional), Mas Sutardjo Kertohadikusumo (pencetus Petisi Sutardjo), Kartosuwiryo (Pemimpin DI/TII), Pramoedya Ananta Toer (Sastrawan),  LB Moerdani (mantan Panglima ABRI) dan tentunya Samin Surosentiko, pencetus ajaran “Saminisme”.  Aspek sejarah itu membuktikan, kondisi alam yang keras tidak menghalangi tumbuhnya sumber daya manusia berkualitas.

Blora saat ini, berbeda dengan sekian tahun silam. Namun, memori masa lalu itu seperti stigma. Sulit ditanggalkan. Meski laju pembangunan cukup bagus, tapi tidak mudah menanggalkan kesan Blora sebagai daerah tertinggal. Memori tentang jalan selalu rusak, alam kering dan tandus. Nyaris terekam secara permanen. Namun, ada juga memori indah. Kondisi hutan jati “meranggas” pada musim kemarau di sepanjang jalan Blora-Cepu merupakan pemandangan cantik luar biasa.

Baca Juga :  Maju Bersama Petani untuk Swasembada Gula Nasional

Pemimpin Baru

Blora mulai kemarin (26 Februari 2021) memiliki bupati dan wakil bupati baru. Arief Rohman berpasangan dengan Tri Yuli Setyowati (Artys) berhasil memenangkan pemilihan bupati (pilbup). Arief bukan orang baru di jajaran Pemkab Blora karena menjadi wakil bupati periode 2016-2021. Sedangkan, Tri Yuli Setyowati, anggota DPRD Blora. Keduanya, sangat memahami masalah, potensi daerah serta strategi mengatasi masalah tersebut.

Blora memiliki potensi sektor pertanian, hutan jati, dan pertambangan atau migas. Merujuk data di website Pemkab Blora, kabupaten ini terbagi menjadi 16 kecamatan, 271 desa, dan 24 kelurahan. Total luas wilayah 1820,59 kilometer persegi. Sebagian besar area hutan (49,66 persen), khususnya wilayah Kecamatan Randublatung, Jiken, dan Jati.  Area persawahan 25,38 persen, sebagian besar di Kecamatan Kunduran dan Kedungtuban. Keduanya lumbung padi Kabupaten Blora. Sisanya, 24,96 persen digunakan sebagai pekarangan, tegalan, waduk, perkebunan rakyat dan lain-lain.

Blora juga punya potensi wisata alam. Misalnya, Gua Terawang, Gua Sentono, Waduk Tempuran. Wisata kuliner, terkenal dengan sate, soto ayam kletuk, mi puyang, limun kawis, pecel, serta ragam kuliner khas dan tradisional Blora.

Sedangkan potensi migas, mengutip PT Jateng Petro Energi, meskipun sebagian besar merupakan sumur-sumur tua, namun masih dapat dioptimalkan. Misalnya di beberapa lapangan seperti Nglobo, Ledok, Semanggi, Banyubang. Isu migas ini sedang hangat. Asosiasi Masyarakat Sipil Blora (AMSB) tengah mengajukan judicial review regulasi dana bagi hasil (DBH) migas Blok Cepu ke Mahkamah Konsitusi (MK). Saat ini, Blora tidak memperoleh DBH, hanya mendapat participating interest (PI) dari keikutsertaannya di pengelolaan Lapangan Minyak Banyu Urip, Blok Cepu. 

Jika merujuk visi misi Artys “Sesarengan Mbangun Blora: Unggul dan Berdaya Saing”, infrastruktur tetap menjadi prioritas. “Mbangun Dalan Alus” salah satu cara menghubungkan wilayah Blora ke satu kesatuan urat nadi (perekonomian, pertanian, dan sebagainya). 

Sektor pertanian dan sumber daya air, melalui program “Banyune Lancar Terus” dan “Mbangun Kadang Tani”. Potensi wisata dikembangkan “Ayo Dolan Blora”.  Pengoperasian kembali Bandar Udara Ngloram upaya memudahkan akses ke Blora, baik bisnis maupun wisata. 

Baca Juga :  Tembak Residivis Curanmor

Visi-misi dan program kerja tersebut, tentu disusun berdasar analisa masalah dan tantangan dihadapi masyarakat Blora. Antara lain; Kemiskinan. BPS Blora menyebutkan angka kemiskinan 11,96. Urutan ke-23 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Pandemi Covid-19 berdampak signifikan meningkatnya angka kemiskinan.  Tingkat pengangguran terbuka, meskipun relatif kecil namun terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Tahun 2017 sebesar 2,85 persen, 2018 mencapai 3,26 persen dan 2019 sebesar 3,89 persen.

Problem lainnya infrastruktur serta APBD terbatas. Arief pada forum diskusi “Inspirasi Jawa Tengah” beberapa waktu lalu, menyampaikan APBD Blora hanya sekitar Rp 2,2 triliun. Jalan rusak mencapai 350 km, butuh biaya sekitar Rp 1,7 triliun. Itu baru jalan, belum infrastruktur publik lain dan sektor pembangunan lainnya.  Karena itu, ia berharap bisa mendapatkan DBH dari Blok Cepu. Saat ini, Blora hanya mendapat DBH dari produksi gas Blok Gundih.

Tantangan lainnya, masa jabatan kali ini lebih pendek. Sekitar 3,5 tahun. Meski periodenya tetap 2021-2026, namun masa kepemimpinan Artys akan berakhir pada 2024 saat pilkada serentak. Karena itu, perlu kerja ekstra keras, “smart”, inovatif, dan kreatif serta harus didukung sepenuhnya oleh segenap elemen masyarakat.

Dukungan birokrasi tentu bukan masalah. Arief, posisi sebelumnya sebagai Wabup, punya jejaring di aparatur pemkab. Dukungan politik DPRD Blora seharusnya juga bukan hal sulit. Artys diusung PKB, PDIP, PKS, dan Perindo. Koalisi tersebut menguasai 21 dari 45 kursi DPRD.

Jadi, saat ini tinggal memberi kesempatan kepada bupati dan wakil bupati baru merealisasikan visi-misinya. Selamat bertugas Mas Arief dan Mbak Yuli!. (*)

*Ketua Forum Komunikasi Industri Hulu Migas Jawa Bali Nusa Tenggara (FKIHM Jabanusa)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/