Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

98 Hektare Lahan Sawah di Bojonegoro Rusak Akibat Kekeringan

Yuan Edo Ramadhana • Senin, 19 Agustus 2024 | 19:06 WIB

Ilustrasi Sawah. (IST/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi Sawah. (IST/RADAR BOJONEGORO)

 

BERDASAR data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, per Juli hingga 15 Agustus, seluas 98 hektare lahan sawah mengalami kerusakan atau puso akibat kekeringan. Tersebar di tiga kecamatan meliputi Kecamatan Ngambon seluas 32 hektare; Kecamatan Kapas sebanyak 60 hektare; dan Kecamatan Balen sejumlah 6 hektare.

’’Untuk penentuan puso dan tidaknya kami tidak bisa, dari provinsi,” kata Kepala Bidang (Kabid) Sarana Prasarana dan Perlindungan Tanaman (Sarpras dan Perlintan) DKPP Bojonegoro Retno Budi Widyanti.

Retno menjelaskan, dari 83.197 hektare lahan baku sawah (LBS) setidaknya 98 hektare mengalami puso pada musim kemarau ini. Rerata wilayah terdampak merupakan lahan tadah hujan. Menurut dia, dikarenakan sumber air tidak sampai mengairi seluruh lahan.

’’Sangat berpengaruh keringnya sumber air ini terhadap lahan sawah. Seperti Waduk Pacal yang tertutup sedimen. Jadi, berkurang pendistribusian airnya sehingga dialiri dari Waduk Gongseng untuk sementara waktu kemarin,” katanya.

Dia melanjutkan, keberadaan sumber air seperti waduk, embung, hingga bendungan penting bagi keberlangsungan pertanian. Sebab, air merupakan hal pertama dibutuhkan. Sedangkan, tambah dia, perihal tanaman petani dinilai lebih paham keberagaman.

Misal daerah timur Bojonegoro, biasanya padi-palawija-padi atau padi-tembakau-padi. ’’Biasanya daerah selatan padi-jagung-padi. Kemarau ini juga bisa ditanam seperti bawang merah. Dengan catatan ada sumber airnya,” imbuh Retno.

Darmini petani asal Kecamatan Dander mengatakan, sempat merugi karena faktor cuaca tidak menentu. Pada musim penghujan lalu, rerata petani menanami semua lahan hutan dengan jagung.

Tapi, saat jagung mulai bebuah dan membutuhkan air, malah tidak ada hujan. Hingga membuat hasil panen tidak optimal, jagung kecil-kecil bahkan ada yang tidak berbuah karena kering mendadak. ’’Tidak balik modal, petani rugi. Sekarang hanya menanam jagung di sawah karena sudah pasti ada sumber airnya, tidak khawatir meski tidak ada hujan,” ujarnya.

Salah satu petani tembakau asal Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang Suyono mengatakan, awal Juni tahun ini sudah mulai tanam tembakau. Saat ini, sudah mulai panen pertama, namun harga tembakau mengalami penurunan.

Harga petikan daun pertama basah tahun lalu Rp 3.000 per kilogram (kg), sekarang turun hanya Rp 2.000 per kg. Sedangkan, untuk harga petikan daun ketiga yang dulunya Rp 4.500 per kg, saat ini tinggal Rp 3.200 per kg.

‘’Harga petikan daun pertama yang paling bawah awalnya Rp 2.400 per kg, tapi ini mengalami penuruna lagi tinggal Rp 2.000 per kg daun basah,” katanya. (yna/ewi/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Kabid #LBS #dkpp #kekeringan #rusak #bojonegoro #Kemarau #gagal panen #sarpras #Lahan Sawah