Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Samijah, Peracik Kopi Tradisional di Kelurahan Ledok Kulon Warungnya Pernah Digusur Satpol PP

Hakam Alghivari • Jumat, 1 Maret 2024 | 21:15 WIB
SANGRAI KOPI: Samijah sedang sangrai kopi dengan cara tradisional.  (DHANI WAHYU ALFIANSYAH/RADAR BOJONEGORO)
SANGRAI KOPI: Samijah sedang sangrai kopi dengan cara tradisional. (DHANI WAHYU ALFIANSYAH/RADAR BOJONEGORO)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro- Selepas pukul 12.00, kondisi jalan di tanggul Bengawan Solo, turut Kelurahan Ledok Kulon begitu lengang. Tepat di sebelah tanggul berdirilah bangunan berbahan kayu yang tak begitu luas. Terlihat Samijah atau yang akrab dipanggil ‘Mbah Jah’,  sedang melayani pembelinya.

Meski telah berusia 79 tahun, namun tak tampak keringkihan dalam fisiknya.

Sembari melayani permintaan kopi, Mbah Jah menyempatkan menyangrai kopi atau yang kini akrab disebut coffee roasting. Menurut Samijah, menyangrai kopi menjadi hal yang sangat penting dalam rasa kopi. Bahkan lebih menentukan dibanding tahap pengolahan kopi.

‘’Memang dari dulu menggunakan wajan gerabah, bisa lebih rata,” ungkap Samijah.

Proses sangrai dengan menggunakan wajan gerabah tersebut, selain bisa membuat kematangan kopi lebih merata, juga membuat aroma kopi lebih sedap.

Meski memproduksi kopi biji menjadi bubuk (serbuk) yang siap seduh dengan cara roasting tradisional, namun dari sanalah ia mengaku mendapatkan rezeki sudah lebih dari cukup. Sebab, kopi racikan Samijah mampu mendongkrak harga pasaran kopi tradisional di pasaran.

Bahkan untuk 1 kilogram bubuk kopi siap jadi, ia banderol dengan harga Rp 150 ribu rupiah. Meski ia mengakui bahwa kopi olahannya memang lebih mahal dibanding harga pada umumnya, namun tak merasa ragu. Sebab, kopi racikannya memang punya pasarnya sendiri.

’Nek gelem sak munu, nek gak gelem yo uwis (kalau mau harganya itu, kalau gak mau ya sudah),” ungkap Samijah diiringi tawanya yang renyah.

Berkat kepasrahan dan konsistensinya, pembeli kopi yang datang di warungnya pun tak pernah sepi. Bahkan, ada yang memborong kopi bubuk untuk dibawa ke luar kota.

Bangunan warung kopi sederhana itu, ternyata mampu menghidupi Samijah dan keluarganya. Terlebih, bisa menyekolahkan anaknya yang berjumlah 5 orang. Namun, kegigihan Samijah tak berbuah dengan instan. Bahkan, meski mulai berjualan sejak tahun 90-an, dirinya tak langsung menempati warung tersebut.

‘’Dulu jualan di depan SMP 5 (Bojonegoro) dan pindah-pindah, pernah digusur oleh Satpol PP,” ceritanya.

Namun, karena usia yang telah menua, membuat dirinya lebih memilih mendirikan warung sederhana yang tak jauh dari rumahnya di tepi bantaran Bengawan Solo. (*/msu)

Editor : Hakam Alghivari
#peracik kopi #kelurahan #warung #Ledok Kulon #tradisional #bojonegoro