
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - KASUS kekerasan terhadap anak tidak bisa dipandang sebelah mata. Jumlah tersebut bukan hanya angka, melainkan ada masa depan bangsa. Aliansi Perlindungan Perempuan dan Anak (APPA) Bojonegoro mendorong pemerintah kabupaten (pemkab) harus memberi atensi lebih.
‘’Kekerasan anak ini memang terjadi karena sejumlah faktor, baik pergaulan, medsos (media sosial), hingga perhatian orang tua. Tapi, ada pergeseran di sini, di mana pola aktivitas anak-anak juga memicu terjadinya kasus kekerasan,” ujar Koordinator APPA Bojonegoro Nafidatul Himmah, kemarin (3/11).
Himmah melanjutkan, salah satu pergeseran tersebut terjadi di kegiatan bermain anak. Jika sebelumnya akrab dengan permainan gobak sodor atau petak umpet, kini menurut dia, lebih ke kelompok-kelompok kecil di mana di dalamnya ada indikasi untuk perundungan atau bullying. ‘’Seperti menantang sesama teman apakah berani mengolok-olok salah satu temannya. Ini juga menjadi pemicu kekerasan itu,” ujar perempuan kelahiran Kecamatan Dander tersebut.
Selain itu, lanjut dia, pola komunikasi orang tua dengan anak juga menjadi salah satu faktor laggengnya kekerasan. Menurutnya, tak sedikit orang tua menganggap apa yang dialami anak adalah hal biasa. ‘’Kalau komunikasi seperti itu akan berimbas. Orang tua harus membangun komunikasi dengan anak sebaik mungkin. Agar anak tidak menjadi korban maupun pelaku,” tuturnya.
Himmah menambahkan, banyaknya kasus kekerasan anak juga menunjukkan lemahnya komitmen pemerintah. Negara tidak hadir. Harusnya, tegas dia, pemerintah seperti pemkab harus jemput bola. ‘’Padahal ini belum berakhir tahunnya. Kalaupun ada penanganan prosesnya lama, ada kasus biasanya hanya formalitas saja,” tuding perempuan yang juga menjabat Sekretaris Cabang (Sekcab) Koaliasi Perempuan Indonesia (KPI) Bojonegoro itu. (yna/msu)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




