alexametrics
25.5 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Hepi Ikmal, Dosen PAI yang Senang Menulis

Ibaratkan Menulis Itu Bercerita

Hepi Ikmal berusaha menyelesaikan buku tentang terorisme. Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) ini keluar dari kebiasaannya menulis buku kurikulum.

RIKA RATMAWATI, Radar Lamongan

 

 

BUKU pengembangan kurikulum teori dan aplikasi menjadi tulisan pertama Hepi Ikmal. Sebagai dosen, dia merasa karya tersebut menjadi kado untuk pengabdiannya.

 

Sosok penulis Prof Moh Ali Aziz menjadi inspirasi Hepi. Dia menulis bukunya setelah membaca beberapa karya dari profesor tersebut.

 

‘’Senang sekali ketika buku pertama rilis dan semakin bersemangat menulis lagi,” terang dosen kelahiran Lamongan, 23 Desember 1988 itu.

 

Hepi memerlukan waktu sekitar enam bulan untuk menyelesaikan tulisan pertamanya tersebut. “Waktu itu pikirannya masih terpecah sehingga belum fokus. Sekarang semakin senang menulis,” terang dosen asal Kecamatan Sarirejo itu.

 

Semasa kuliah pada 2006, Hepi sudah mengenal dunia penulisan. Dia tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edukasi Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Baca Juga :  Tangan Pernah Patah, Suka Teknik Membanting Lawan

 

Beberapa kali tulisan opininya, hasil resensi buku, dan tulisan ringan lainnya dimuat di sejumlah media massa.

 

Hingga kini, sudah ada empat buku yang ditulis Hepi. Tiga buku lainnya, tentang dakwah dan media sosial, kajian sosiologis paham keagamaan masyarakat digital atas dakwah ustad Abdul Somad, serta Sejarah dan Akulturasi Budaya di Desa Pendowolimo.

 

Hepi mengibaratkan menulis itu sama dengan bercerita. Jika sudah paham detail yang mau diceritakan, maka tulis saja. Mengalir seperti orang bercerita. “Saya banyak tulisan yang belum terselesaikan, karena kelanjutannya belum ada,”tutur dosen PAI itu.

 

Hepi tidak pernah menulis sesuatu yang jauh dari aktivitasnya. Dia fokus saja untuk menulis tanpa melupakan tanggung jawab pekerjaannya. Setiap buku yang hendak ditulis, ada perencanaannya. Misalnya membuat outline. Dia menyiapkan rencana pembelajaran semester (RPS). Sementara untuk buku, dia menyiapkan daftar isi buku. Perkuliahan selesai, buku juga selesai.

Baca Juga :  Masih Saja Ada yang Tergelincir di Perlintasan KA

 

Dia menargetkan kerangka buku maksimal tiga bulan selesai. Jika tidak selesai, maka harus mencari ide lain untuk merefresh agar tulisan bisa terus berkembang.

 

Kini Hepi merasa sangat puas karena bisa mengajak orang sekitar untuk menulis. Meski hanya dilakukan di lingkungan sendiri dan tidak formal seperti pelatihan, dia selalu mendorong teman-temannya untuk menulis. Bahkan di tahun ini, dia dipercaya menjadi editor dan sudah menerbitkan enam buku teman-temannya.

 

“Alhamdulillah minat teman-teman juga besar untuk menulis dan kita share pengalaman,” terangnya.

 

Hepi menambahkan, ada satu buku yang masih dalam tahap penyelesaian. Dia akan mengangkat isu terorisme. Buku ini berisi role model pergeseran para mantan kombatan yang insyaf. Berbagai pendekatan, materi, pengajaran akan dituangkan dengan harapan bisa segera rampung. (*/yan)

Hepi Ikmal berusaha menyelesaikan buku tentang terorisme. Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) ini keluar dari kebiasaannya menulis buku kurikulum.

RIKA RATMAWATI, Radar Lamongan

 

 

BUKU pengembangan kurikulum teori dan aplikasi menjadi tulisan pertama Hepi Ikmal. Sebagai dosen, dia merasa karya tersebut menjadi kado untuk pengabdiannya.

 

Sosok penulis Prof Moh Ali Aziz menjadi inspirasi Hepi. Dia menulis bukunya setelah membaca beberapa karya dari profesor tersebut.

 

‘’Senang sekali ketika buku pertama rilis dan semakin bersemangat menulis lagi,” terang dosen kelahiran Lamongan, 23 Desember 1988 itu.

 

Hepi memerlukan waktu sekitar enam bulan untuk menyelesaikan tulisan pertamanya tersebut. “Waktu itu pikirannya masih terpecah sehingga belum fokus. Sekarang semakin senang menulis,” terang dosen asal Kecamatan Sarirejo itu.

 

Semasa kuliah pada 2006, Hepi sudah mengenal dunia penulisan. Dia tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Edukasi Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Baca Juga :  Lukisan Bertema Laut Dibeli Turis Australia

 

Beberapa kali tulisan opininya, hasil resensi buku, dan tulisan ringan lainnya dimuat di sejumlah media massa.

 

Hingga kini, sudah ada empat buku yang ditulis Hepi. Tiga buku lainnya, tentang dakwah dan media sosial, kajian sosiologis paham keagamaan masyarakat digital atas dakwah ustad Abdul Somad, serta Sejarah dan Akulturasi Budaya di Desa Pendowolimo.

 

Hepi mengibaratkan menulis itu sama dengan bercerita. Jika sudah paham detail yang mau diceritakan, maka tulis saja. Mengalir seperti orang bercerita. “Saya banyak tulisan yang belum terselesaikan, karena kelanjutannya belum ada,”tutur dosen PAI itu.

 

Hepi tidak pernah menulis sesuatu yang jauh dari aktivitasnya. Dia fokus saja untuk menulis tanpa melupakan tanggung jawab pekerjaannya. Setiap buku yang hendak ditulis, ada perencanaannya. Misalnya membuat outline. Dia menyiapkan rencana pembelajaran semester (RPS). Sementara untuk buku, dia menyiapkan daftar isi buku. Perkuliahan selesai, buku juga selesai.

Baca Juga :  Ikon Pramuka Kabupaten

 

Dia menargetkan kerangka buku maksimal tiga bulan selesai. Jika tidak selesai, maka harus mencari ide lain untuk merefresh agar tulisan bisa terus berkembang.

 

Kini Hepi merasa sangat puas karena bisa mengajak orang sekitar untuk menulis. Meski hanya dilakukan di lingkungan sendiri dan tidak formal seperti pelatihan, dia selalu mendorong teman-temannya untuk menulis. Bahkan di tahun ini, dia dipercaya menjadi editor dan sudah menerbitkan enam buku teman-temannya.

 

“Alhamdulillah minat teman-teman juga besar untuk menulis dan kita share pengalaman,” terangnya.

 

Hepi menambahkan, ada satu buku yang masih dalam tahap penyelesaian. Dia akan mengangkat isu terorisme. Buku ini berisi role model pergeseran para mantan kombatan yang insyaf. Berbagai pendekatan, materi, pengajaran akan dituangkan dengan harapan bisa segera rampung. (*/yan)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/