alexametrics
30.4 C
Bojonegoro
Sunday, May 29, 2022

Angga Pradana, Salah Satu Pelatih Karate di Bojonegoro

Sempat Merasa Sulit Meluangkan Waktu Bersama Keluarga

Berawal sebagai atlet karate, Angga Pradana melanjutkan karirnya sebagai pelatih. Bahkan pernah memilih keluar dari pekerjaannya demi mendampingi siswanya mengikuti kejuaraan. Dan bertekad mendirikan dojo miliknya sendiri.

 

M. IRVAN RAMADHON, Radar Bojonegoro.

 

HARI libur menjadi kesempatan berharga bagi Angga Pradana berkumpul bersama keluarga kecilnya. Sebab, pada hari aktif waktunya banyak tersita untuk bekerja dan melatih karate. Sehingga, sulit memiliki waktu bersama istri dan anaknya.

 

“Ini di rumah Desa Sendangrejo, Kecamatan Parengan,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

 

Angga memilih mengisi waktu bersama keluarganya dengan berkunjung ke rumah orang tuanya. Sebelum kembali disibukkan dengan melatih karate.

Pelatih berusia 26 tahun itu merasa memiliki tanggung jawab besar di dunia karate. Sempat ingin berhenti sejenak dari kesibukan melatih, namun tetap tidak bisa. Sebab seperti ada yang mengganjal di hatinya.

 

“Sudah sejak 2012 melatih,” ungkap pria tinggal di Desa Kalianyar, Kecamatan Kapas.

 

Angga ingin mengembangkan olahraga karate di Bojonegoro. Selain itu, mengantarkan siswanya berpretasi di berbagai tingkat. Sehingga ketika sudah berprestasi para anak didiknya bisa melanjutkan pendidikan formal melalui prestasi dimiliki.

Baca Juga :  Progres Lambat, Proyek Trotoar Baru 25 Persen

 

“Mendaftar sekolah dan perguruan tinggi lebih mudah,” jelas pria aktif sebagai atlet karate pada periode 2008 hingga 2017 itu.

 

Sebagai pelatih, Angga mendapat beberapa kendala yang menguji tekadnya dalam mendidik atlet karate. Sulitnya membagi waktu antara bekerja, keluarga, kuliah dan melatih menjadi hambatan pertama.

 

Setelah seharian bekerja, mahasiswa Universitas Bojonegoro itu harus langsung melatih malam harinya. Tanpa sempat untuk pulang ke rumah terlebih dulu. Hal itu memicu istrinya kesal pada awalnya, namun seiring berjalannya waktu justru kini sangat mendukung kiprahnya sebagai pelatih.

 

“Lama-lama istri mengerti,” terang mahasiswa jurusan hukum itu.

 

Angga telah banyak berkorban ketika memilih menjadi pelatih. Selain waktu dan tenaga, pekerjaan menjadi pengorbanan besar yang pernah dilakukan. Demi mengantar anak didiknya mengikuti kejuaraan, keluar dari pekerjaan pun dipilih.

 

“Ketika bekerja di perusahaan swasta sulit untuk meminta izin, padahal setiap tahun bisa sampai 6 kali izin untuk mengantar anak-anak di kejuaraan. Pada waktu itu sudah izin berkali-kali, kemudian tidak diperbolehkan izin lagi, sehingga diberi pilihan dan akhirnya memilih karate,” ungkapnya sambil tertawa.

Baca Juga :  Puasa Ramadan Tetap Latihan

 

Namun, alumni SMA PGRI 1 Bojonegoro itu sudah mendapatkan pekerjaan baru. Bahkan salah satu atasannya menekuni dunia karate. Sehingga kiprahnya kini mendapat dukungan.

 

Ketika melatih, Angga dituntut bisa melakukan pendekatan dengan anak didiknya, terlebih yang masih berusia belia. Tujuanya agar siswa mampu nyaman dalam latihan, juga mudah mengerti materi diberikan.

 

“Mendalami terlebih dulu karakter anaknya, juga keinginannya,” jelas ayah satu putra itu.

 

Selain pendekatan, menjadi pelatih harus bisa membuat program latihan atlet. Namun, kadang atlet tidak hadir dalam latihan menjadi kendala. Sehingga latihan tak maksimal.

 

Angga bertekad ingin terus melatih karate, dan mengantarnya atletnya berprestasi. Bahkan bersama istrinya bercita-cita mendirikan dojo dan memiliki klub sendiri.

 

“Karate tidak ada batas waktunya,” pungkas mantan atlet kategori kumite itu. (*/msu)

Berawal sebagai atlet karate, Angga Pradana melanjutkan karirnya sebagai pelatih. Bahkan pernah memilih keluar dari pekerjaannya demi mendampingi siswanya mengikuti kejuaraan. Dan bertekad mendirikan dojo miliknya sendiri.

 

M. IRVAN RAMADHON, Radar Bojonegoro.

 

HARI libur menjadi kesempatan berharga bagi Angga Pradana berkumpul bersama keluarga kecilnya. Sebab, pada hari aktif waktunya banyak tersita untuk bekerja dan melatih karate. Sehingga, sulit memiliki waktu bersama istri dan anaknya.

 

“Ini di rumah Desa Sendangrejo, Kecamatan Parengan,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

 

Angga memilih mengisi waktu bersama keluarganya dengan berkunjung ke rumah orang tuanya. Sebelum kembali disibukkan dengan melatih karate.

Pelatih berusia 26 tahun itu merasa memiliki tanggung jawab besar di dunia karate. Sempat ingin berhenti sejenak dari kesibukan melatih, namun tetap tidak bisa. Sebab seperti ada yang mengganjal di hatinya.

 

“Sudah sejak 2012 melatih,” ungkap pria tinggal di Desa Kalianyar, Kecamatan Kapas.

 

Angga ingin mengembangkan olahraga karate di Bojonegoro. Selain itu, mengantarkan siswanya berpretasi di berbagai tingkat. Sehingga ketika sudah berprestasi para anak didiknya bisa melanjutkan pendidikan formal melalui prestasi dimiliki.

Baca Juga :  Operator Perahu Merespons Rencana Jembatan

 

“Mendaftar sekolah dan perguruan tinggi lebih mudah,” jelas pria aktif sebagai atlet karate pada periode 2008 hingga 2017 itu.

 

Sebagai pelatih, Angga mendapat beberapa kendala yang menguji tekadnya dalam mendidik atlet karate. Sulitnya membagi waktu antara bekerja, keluarga, kuliah dan melatih menjadi hambatan pertama.

 

Setelah seharian bekerja, mahasiswa Universitas Bojonegoro itu harus langsung melatih malam harinya. Tanpa sempat untuk pulang ke rumah terlebih dulu. Hal itu memicu istrinya kesal pada awalnya, namun seiring berjalannya waktu justru kini sangat mendukung kiprahnya sebagai pelatih.

 

“Lama-lama istri mengerti,” terang mahasiswa jurusan hukum itu.

 

Angga telah banyak berkorban ketika memilih menjadi pelatih. Selain waktu dan tenaga, pekerjaan menjadi pengorbanan besar yang pernah dilakukan. Demi mengantar anak didiknya mengikuti kejuaraan, keluar dari pekerjaan pun dipilih.

 

“Ketika bekerja di perusahaan swasta sulit untuk meminta izin, padahal setiap tahun bisa sampai 6 kali izin untuk mengantar anak-anak di kejuaraan. Pada waktu itu sudah izin berkali-kali, kemudian tidak diperbolehkan izin lagi, sehingga diberi pilihan dan akhirnya memilih karate,” ungkapnya sambil tertawa.

Baca Juga :  Nyai Hajah Asmanah, Perempuan dan Penebar Dakwah di Bojonegoro (1)

 

Namun, alumni SMA PGRI 1 Bojonegoro itu sudah mendapatkan pekerjaan baru. Bahkan salah satu atasannya menekuni dunia karate. Sehingga kiprahnya kini mendapat dukungan.

 

Ketika melatih, Angga dituntut bisa melakukan pendekatan dengan anak didiknya, terlebih yang masih berusia belia. Tujuanya agar siswa mampu nyaman dalam latihan, juga mudah mengerti materi diberikan.

 

“Mendalami terlebih dulu karakter anaknya, juga keinginannya,” jelas ayah satu putra itu.

 

Selain pendekatan, menjadi pelatih harus bisa membuat program latihan atlet. Namun, kadang atlet tidak hadir dalam latihan menjadi kendala. Sehingga latihan tak maksimal.

 

Angga bertekad ingin terus melatih karate, dan mengantarnya atletnya berprestasi. Bahkan bersama istrinya bercita-cita mendirikan dojo dan memiliki klub sendiri.

 

“Karate tidak ada batas waktunya,” pungkas mantan atlet kategori kumite itu. (*/msu)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/