alexametrics
29.9 C
Bojonegoro
Tuesday, May 17, 2022

Abdul Malik, Penulis Buku Prediksi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) SD-SMA

Jadi Fasilitator di 125 Sekolah, Ajak Guru Cakap Literasi dan Numerasi

Sepak terjang Abdul Malik bukan sekadar guru matematika SMA. Tapi juga seorang fasilitator sekaligus penulis buku-buku prediksi ujian nasional yang kini bernama asesmen kompetensi minimum (AKM).

BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro

 

PRIA tinggi itu menyambut hangat di lobi SMAN Model Terpadu Rabu lalu (23/2). Pria bernama Abdul Malik itu menyempatkan waktunya menemui wartawan koran ini. Nama Malik cukup dikenal di kalangan guru. Karena punya banyak karya dan prestasi.

 

Kecakapan Malik bukan hanya bidang mendidik siswa. Tapi juga mendidik para guru agar lebih kreatif. Karena Malik merasa tanggung jawab menjadi seorang guru itu sangat berat. Jadi ia tidak ingin mendidik siswa asal-asalan. Apalagi sampai ada siswa merasa sia-sia belajar di sekolah karena tidak bermanfaat untuk kehidupan di masa mendatang.

 

“Sedih kalau dengar ada siswa beranggapan belajar berbagai mata pelajaran tidak bisa diterapkan dalam kehidupan,” ucap guru matematika SMA Negeri Model Terpadu itu.

 

Sejak 2008 hingga 2019 rutin menulis buku prediksi soal ujian nasional (UN) SMA/SMK. Lalu, mulai 2020 Malik masih menulis buku prediksi asesmen kompetensi minimun (AKM) literasi dan numerasi SD/MI hingga SMA/SMK. Bahkan, Malik merupakan satu-satunya penelaah soal-soal AKM numerasi dari Jawa Timur ditunjuk Kemendikbud.

Baca Juga :  Industri Kayu Jati di Bojonegoro Serap Banyak Pekerja

 

Karena itu, Malik pun sejak 2020 hingga sekarang sering diundang menjadi fasilitator atau narasumber ke berbagai sekolah. Guna mengedukasi para guru agar mumpuni membuat soal-soal AKM literasi dan numerasi. Ia mengatakan setidaknya sudah mengedukasi guru di 125 sekolah.

 

“Bukan hanya sekolah di Bojonegoro. Tapi di seputaran Jawa Timur, bahkan beberapa ada sekolah luar Jawa. Tapi kan digelar secara daring. Baru-baru ini 2022 kalau di seputaran Jawa Timur, saya bisa datang langsung,” beber pria yang berdomisili di Desa Tikusan, Kecamatan Kapas itu.

 

Malik menilai digantinya UN menjadi AKM merupakan langkah bagus dari Kemendikbud. Karena soal-soal di dalam AKM itu mengandalkan hal-hal kontekstual dan penalaran. Sehingga tantangan bagi para guru lebih kreatif membuat soal kontekstual.

 

Sejauh ini, Malik melihat masih banyak guru-guru konvensional hanya menyuruh siswa membaca, belajar, lalu latihan soal. Padahal, seharusnya setiap mata pelajaran bisa dikembangkan lebih kontekstual, agar penalaran para siswa bisa bermain.

 

Malik memberi contoh banyak guru matematika hanya mengajarkan rumus, lalu memberikan soal secara abstrak. “Padahal lebih baik kalau soal matematika itu berupa soal cerita mungkin materinya ada di sekitar kita. Kalau soal dibuat abstrak, siswa hanya pandai menghafal rumus, tapi tidak memahami rumus itu sendiri di kehidupan nyata,” ucap pria kelahiran Kecamatan Singgahan, Tuban itu.

Baca Juga :  Tangan Pernah Patah, Suka Teknik Membanting Lawan

 

Malik pun menyinggung kelemahan guru-guru non-matematika seringkali membuat soal-soal tanpa memasukkan unsur numerasi. Seharusnya, kata Malik, setiap mata pelajaran itu bisa saling melengkapi dan mengisi. “Pola pikir itu pola pikir kuno. Numerasi seharusnya bukan hanya tanggung jawab guru matematika. Guru mata pelajaran lain juga bisa memasukkan soal numerasi,” tegas bapak tiga anak itu.

 

Alumni mahasiswa S-2 jurusan pendidikan matematika Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu merelakan waktu akhir pekannya menjadi fasilitator di sekolah-sekolah mulai awal 2022. Prinsipnya mendidik seperti layaknya beribadah, jadi bukan main-main.

 

Di luar dunia pendidikan, Malik merupakan pehobi sepak bola. Ia mengaku ikut sekitar delapan klub sepak bola dari ragam komunitas. Posisi andalannya gelandang serang. “Sepak bola jadi ajang untuk refreshing, pungkasnya. (*/rij)

Sepak terjang Abdul Malik bukan sekadar guru matematika SMA. Tapi juga seorang fasilitator sekaligus penulis buku-buku prediksi ujian nasional yang kini bernama asesmen kompetensi minimum (AKM).

BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro

 

PRIA tinggi itu menyambut hangat di lobi SMAN Model Terpadu Rabu lalu (23/2). Pria bernama Abdul Malik itu menyempatkan waktunya menemui wartawan koran ini. Nama Malik cukup dikenal di kalangan guru. Karena punya banyak karya dan prestasi.

 

Kecakapan Malik bukan hanya bidang mendidik siswa. Tapi juga mendidik para guru agar lebih kreatif. Karena Malik merasa tanggung jawab menjadi seorang guru itu sangat berat. Jadi ia tidak ingin mendidik siswa asal-asalan. Apalagi sampai ada siswa merasa sia-sia belajar di sekolah karena tidak bermanfaat untuk kehidupan di masa mendatang.

 

“Sedih kalau dengar ada siswa beranggapan belajar berbagai mata pelajaran tidak bisa diterapkan dalam kehidupan,” ucap guru matematika SMA Negeri Model Terpadu itu.

 

Sejak 2008 hingga 2019 rutin menulis buku prediksi soal ujian nasional (UN) SMA/SMK. Lalu, mulai 2020 Malik masih menulis buku prediksi asesmen kompetensi minimun (AKM) literasi dan numerasi SD/MI hingga SMA/SMK. Bahkan, Malik merupakan satu-satunya penelaah soal-soal AKM numerasi dari Jawa Timur ditunjuk Kemendikbud.

Baca Juga :  Laga Awal Tanpa Didampingi Pelatih

 

Karena itu, Malik pun sejak 2020 hingga sekarang sering diundang menjadi fasilitator atau narasumber ke berbagai sekolah. Guna mengedukasi para guru agar mumpuni membuat soal-soal AKM literasi dan numerasi. Ia mengatakan setidaknya sudah mengedukasi guru di 125 sekolah.

 

“Bukan hanya sekolah di Bojonegoro. Tapi di seputaran Jawa Timur, bahkan beberapa ada sekolah luar Jawa. Tapi kan digelar secara daring. Baru-baru ini 2022 kalau di seputaran Jawa Timur, saya bisa datang langsung,” beber pria yang berdomisili di Desa Tikusan, Kecamatan Kapas itu.

 

Malik menilai digantinya UN menjadi AKM merupakan langkah bagus dari Kemendikbud. Karena soal-soal di dalam AKM itu mengandalkan hal-hal kontekstual dan penalaran. Sehingga tantangan bagi para guru lebih kreatif membuat soal kontekstual.

 

Sejauh ini, Malik melihat masih banyak guru-guru konvensional hanya menyuruh siswa membaca, belajar, lalu latihan soal. Padahal, seharusnya setiap mata pelajaran bisa dikembangkan lebih kontekstual, agar penalaran para siswa bisa bermain.

 

Malik memberi contoh banyak guru matematika hanya mengajarkan rumus, lalu memberikan soal secara abstrak. “Padahal lebih baik kalau soal matematika itu berupa soal cerita mungkin materinya ada di sekitar kita. Kalau soal dibuat abstrak, siswa hanya pandai menghafal rumus, tapi tidak memahami rumus itu sendiri di kehidupan nyata,” ucap pria kelahiran Kecamatan Singgahan, Tuban itu.

Baca Juga :  Perajin Mulai Berkurang, Penjualan Tetap Stabil

 

Malik pun menyinggung kelemahan guru-guru non-matematika seringkali membuat soal-soal tanpa memasukkan unsur numerasi. Seharusnya, kata Malik, setiap mata pelajaran itu bisa saling melengkapi dan mengisi. “Pola pikir itu pola pikir kuno. Numerasi seharusnya bukan hanya tanggung jawab guru matematika. Guru mata pelajaran lain juga bisa memasukkan soal numerasi,” tegas bapak tiga anak itu.

 

Alumni mahasiswa S-2 jurusan pendidikan matematika Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu merelakan waktu akhir pekannya menjadi fasilitator di sekolah-sekolah mulai awal 2022. Prinsipnya mendidik seperti layaknya beribadah, jadi bukan main-main.

 

Di luar dunia pendidikan, Malik merupakan pehobi sepak bola. Ia mengaku ikut sekitar delapan klub sepak bola dari ragam komunitas. Posisi andalannya gelandang serang. “Sepak bola jadi ajang untuk refreshing, pungkasnya. (*/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/