alexametrics
24.9 C
Bojonegoro
Sunday, May 22, 2022

Tsaqibul Fikri, Penulis Buku Improvisasi Musik Keroncong

Merangkum Suara melalui Tulisan, Observasi selama Enam Tahun

Kesenian musik keroncong tidak hanya bisa didengar namun bisa diabadikan melalui tulisan. Goresan tintanya hasil dari enam tahun perjalanan obesevasi lapangan dari pegiat musik.

LUKMAN HAKIM, Radar Bojonegoro

 

PELAKU seni musik tentu sudah akrab dengan suara khas musik keroncong. Keakraban itu ingin ditampilkan berbeda oleh Mohammad Tsabiqul Fikri dalam sebuah tulisan berbentuk buku. “Yang melatarbelakangi penulisan buku saya karena ingin menjadikan musik tidak hanya bisa didengar, namun bisa dibaca,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

 

Goresan tinta dalam bukunya mengusung musik keroncong. Ada alasan tertentu, setidaknya keroncong menjadi titik berbaur dari musik-musik lain. Seperti musik timur dengan barat, terutama musik khas berasal dari daerah.

 

Selain itu ingin menunjukkan melalui tulisan, bahwa banyak ragam kearifan lokal musik di Indonesia. “Di dalamnya juga mengkaji fenomena seni keroncong dengan berbagai eksperimen,” ungkap pemuda lahir 1992 tersebut.

Baca Juga :  Bermula Rapat para Ustad, Bahan Rempah dari Wali Santri

 

Dalam bukunya, juga membingkai bahwa seni keroncong bisa diimprovisasi sesuai kondisi. Bagaimana pelaku kesenian mengubah secara spontan corak perpaduan lagu dan aransemen dibawakan kepada penonton. Tentu, berlandaskan pengalaman bermusik dari pelaku kesenian.

 

Fikri sapaan akrabnya mengaku sudah sejak lama berhasrat menuliskan musik keroncong. Keinginan sejak 2016 hingga 2022 baru bisa dibukukan. Tulisannya berdasar hasil observasi lapangan pada pegiat seni musik keroncong.

 

Sementara objek kepenulisannya mengambil dari pengalaman pribadi dalam menekuni bidang musik. “Meski segmentasinya pendidikan, tapi masih praktik memegang alat musik,” jelas dosen Pendidikan Islam Anak Usia Dini tersebut.

 

Dengan begitu, menurut Fikri, tulisan digoreskan mampu mempunyai karakteristik kuat. Berangkat dari pengalaman dan kondisi lapangan, ia mengambil sampel pegiat seni keroncong di berbagai daerah. Misalnya, pegiat di Radio Orkes Surakarta dan Orkes Kurmunadi Surabaya. Beberapa juga dari pelaku musik keroncong jalanan.

Baca Juga :  DPRD Jalani Reses, Harus Serap Aspirasi Konstituen

 

Dalam kepenulisan buku, dosen tinggal di Desa Beged, Kecamatan Gayam tersebut, sempat mengalami stagnasi selama pandemi.

Sebelumnya selalu observasi lapangan ketika pandemi aktivitas kesenian bermusik cenderung berkurang. “Tulisannya berangkat dari observasi lapangan, jadi ketika pandemi itu mandek,” tutur alumni pascasarjana Institut Kesenian Surakarta tersebut.

 

Selain menulis buku, dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) saat ini menciptakan empat lagu anak-anak dengan para mahasiswa ajarnya. Sedangkan, untuk aransemen dilakukan sendiri dengan berbagai alat musik.

 

Sebelum menulis buku solo, Fikri juga pernah menulis buku secara kolektif. “Saat ini masih aktif untuk aransemen lagu-lagu khususnya untuk anak-anak, karena memang bidangnya,” ujarnya. (*/rij)

Kesenian musik keroncong tidak hanya bisa didengar namun bisa diabadikan melalui tulisan. Goresan tintanya hasil dari enam tahun perjalanan obesevasi lapangan dari pegiat musik.

LUKMAN HAKIM, Radar Bojonegoro

 

PELAKU seni musik tentu sudah akrab dengan suara khas musik keroncong. Keakraban itu ingin ditampilkan berbeda oleh Mohammad Tsabiqul Fikri dalam sebuah tulisan berbentuk buku. “Yang melatarbelakangi penulisan buku saya karena ingin menjadikan musik tidak hanya bisa didengar, namun bisa dibaca,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

 

Goresan tinta dalam bukunya mengusung musik keroncong. Ada alasan tertentu, setidaknya keroncong menjadi titik berbaur dari musik-musik lain. Seperti musik timur dengan barat, terutama musik khas berasal dari daerah.

 

Selain itu ingin menunjukkan melalui tulisan, bahwa banyak ragam kearifan lokal musik di Indonesia. “Di dalamnya juga mengkaji fenomena seni keroncong dengan berbagai eksperimen,” ungkap pemuda lahir 1992 tersebut.

Baca Juga :  Sehari Lebih 100 Kilogram, Cari Migor hingga Kediri

 

Dalam bukunya, juga membingkai bahwa seni keroncong bisa diimprovisasi sesuai kondisi. Bagaimana pelaku kesenian mengubah secara spontan corak perpaduan lagu dan aransemen dibawakan kepada penonton. Tentu, berlandaskan pengalaman bermusik dari pelaku kesenian.

 

Fikri sapaan akrabnya mengaku sudah sejak lama berhasrat menuliskan musik keroncong. Keinginan sejak 2016 hingga 2022 baru bisa dibukukan. Tulisannya berdasar hasil observasi lapangan pada pegiat seni musik keroncong.

 

Sementara objek kepenulisannya mengambil dari pengalaman pribadi dalam menekuni bidang musik. “Meski segmentasinya pendidikan, tapi masih praktik memegang alat musik,” jelas dosen Pendidikan Islam Anak Usia Dini tersebut.

 

Dengan begitu, menurut Fikri, tulisan digoreskan mampu mempunyai karakteristik kuat. Berangkat dari pengalaman dan kondisi lapangan, ia mengambil sampel pegiat seni keroncong di berbagai daerah. Misalnya, pegiat di Radio Orkes Surakarta dan Orkes Kurmunadi Surabaya. Beberapa juga dari pelaku musik keroncong jalanan.

Baca Juga :  Cari Minyak Goreng ke Gresik - Surabaya

 

Dalam kepenulisan buku, dosen tinggal di Desa Beged, Kecamatan Gayam tersebut, sempat mengalami stagnasi selama pandemi.

Sebelumnya selalu observasi lapangan ketika pandemi aktivitas kesenian bermusik cenderung berkurang. “Tulisannya berangkat dari observasi lapangan, jadi ketika pandemi itu mandek,” tutur alumni pascasarjana Institut Kesenian Surakarta tersebut.

 

Selain menulis buku, dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) saat ini menciptakan empat lagu anak-anak dengan para mahasiswa ajarnya. Sedangkan, untuk aransemen dilakukan sendiri dengan berbagai alat musik.

 

Sebelum menulis buku solo, Fikri juga pernah menulis buku secara kolektif. “Saat ini masih aktif untuk aransemen lagu-lagu khususnya untuk anak-anak, karena memang bidangnya,” ujarnya. (*/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/