Rabu, 08 Dec 2021
Radar Bojonegoro
Home / Boks
icon featured
Boks
Pembakuan Seni Oklik Khas Bojonegoro

Tidak Ada Gamelan, Hanya Alat Musik Perkusi Berbahan Bambu

BHAGAS DANI PURWOKO

23 November 2021, 10: 27: 56 WIB | editor : Mohammad Yusuf Purwanto

Tidak Ada Gamelan, Hanya Alat Musik Perkusi Berbahan Bambu

OKLIK: Seni oklik khas Bojonegoro sedang proses pembakuan agar punya standardisasi yang mana tidak menghilangkan nilai-nilai sejarahnya. (PPKD BOJONEGORO FOR RDR.BJN)

Share this      

Kekhasan oklik asli Bojonegoro mulai terkikis. Semakin banyak ragam tetabuhan digunakan, termasuk gamelan. Padahal, oklik itu seni khas Bojonegoro yang alat musiknya berbahan bambu.


TEMARAM lampu dan sepoi angin bantaran Bengawan Solo menambah kesyahduan menikmati pentas oklik di salah satu kafe turut Desa Mulyoagung, Kecamatan Bojonegoro Kota kemarin malam (22/11). Grup oklik Putra Angling Dharma, Mbah Mojo, dan Krida Wira membawakan beberapa tembang diiringi alat musik oklik secara apik.
Pentas tersebut bukan sekadar pertunjukan biasa. Melainkan pentas dalam rangka revisualisasi seni musik tradisional oklik. Musik bebunyian oklik tersebut ternyata perlu dibakukan agar tidak mengikis kekhasannya sebagai seni khas Bojonegoro ini.
Upaya revisualisasi seni oklik pun berawal dari keresahan para seniman terhadap kekhasan oklik itu sendiri. Karena beberapa tahun terakhir, kerap kali ada festival oklik. Juga banyak sekumpulan pemuda mengamen di pinggir jalan atau pusat keramaian dengan membawa nama oklik. Padahal, rerata oklik yang dikombinasikan instrumen gamelan bukan oklik khas Bojonegoro.
“Oklik khas Bojonegoro itu tidak ada tambahan gamelan. Semua instrumen ya oklik, alat musik perkusi berbahan bambu. Karena itu, kami miris dengan terkikisnya kekhasan oklik asli Bojonegoro,” tutur Ketua Sanggar Krida Wira, Mukarom.
Bahkan, tambah dia, seringkali tidak ada alat musik oklik saat dimainkan para grup musik menamakan diri musik oklik. Namun, hal ini tentu kurangnya pengetahuan masyarakat. Sebab, masyarakat masih menganggap oklik di manapun berada itu sama dan bisa dikombinasikan dengan alat musik lain.
“Oklik yang ditambah gamelan itu dipopulerkan masyarakat Madura. Lalu alat musik bambu diketuk itu di berbagai kabupaten punya namanya masing-masing, contohnya di Tuban itu namanya tongklek,” imbuhnya.
Proses revisualisasi seni oklik telah digarap Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Bojonegoro dan Sanggar Krida Wira sejak Agustus 2019. Namun, sempat terhenti akibat pandemi Covid-19. Mukarom mengatakan, pihaknya melakukan riset mengumpulkan literatur dan wawancara para pelaku sejarah seni oklik.
Di antaranya Darminto, pegiat seni oklik asal Desa Sobontoro, Kecamatan Balen. Pria berusia 64 tahun itu merupakan generasi penerus ketiga seni oklik. Berdasar wawancara tim PPKD, oklik di zaman dahulu dijadikan sarana mengusir pagebluk atau wabah. Juga untuk meminimalisasi terjadinya perampokan di desa, karena warga rutin keliling menabuh oklik. Karena itu, tema pementasan oklik diberi tema Tulak Kala.
“Pak Darminto salah satu narasumber masih melestarikan seni oklik asli Bojonegoro. Tapi memang hanya sebatas cerita tutur, secara literatur belum ada,” ucapnya.
Ada juga keterlibatan seniman asal Kelurahan Ledok Kulon yakni Djagat Pramudjito. Menurut Mukarom, seniman akrab disapa Mas Pram itu telaten sejak 2009 memformulasikan seni musik oklik agar memiliki harmonisasi nada. Sehingga akhirnya seni oklik masa kini memiliki tangga nada selayaknya doremifasolasido.
“Nada oklik dulunya memang monoton. Tapi setelah dipoles Mas Pram, kini oklik punya tangga nada bernama kluwung (pelangi, Red) terdiri atas bangganingjorulangu.  (mejikuhibiniu, Red), sama seperti doremifasolasido,” bebernya.
Ketua PPKD Bojonegoro Didik Wahyudi menambahkan, setelah revisualisasi seni oklik ini nantinya akan didaftarkan paten hak kekayaan intelektual (Haki) ke Direktorat Jendral Kekayaan Intelektual (DJKI). Harapannya, kekhasan seni oklik tak luntur dan tindak lanjutnya tentu mengembangkan sekaligus bikin standardisasi seni oklik di kalangan grup-grup oklik yang sudah ada.
Sebagai permulaan, di acara revisualisasi seni oklik kemarin, Sanggar Krida Wira membentuk grup oklik bernama Putra Angling Dharma. Anggota grup oklik itu gabungan, terdiri atas perwakilan anggota dari grup oklik di Bojonegoro serta anggota dari Sanggar Krida Wira sendiri. Setidaknya perwakilan anggota itu bisa menularkan ilmu dan pengetahuannya tentang seni oklik asli Bojonegoro.
“Targetnya pendaftaran paten seni oklik bisa rampung tahun ini. Tapi itu baru awal. Setelah terdaftar, kami bakal menindaklanjuti untuk senantiasa melestarikan seni oklik asli Bojonegoro,” ucap Didik.

Baca juga: Dulu Ingin Jadi Dalang, Kini Banyak Gunakan Objek Wayang

(bj/gas/rij/min/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia