Rabu, 08 Dec 2021
Radar Bojonegoro
Home / Boks
icon featured
Boks
Dika Farikhah, Penulis Asal Kedungpring

Khawatir Karyanya Dibajak di Platform Novel Digital

AUDINA HUTAMA PUTRI

23 November 2021, 12: 13: 51 WIB | editor : Mohammad Yusuf Purwanto

Khawatir Karyanya Dibajak di Platform Novel Digital

KHAWATIR KARYANYA DIBAJAK: Dika Farikhah dengan buku – buku hasil penulisannya. (Istimewa)

Share this      

Dika Farikhah telah membukukan karya-karya fiksinya dalam bentuk antologi, novelet, novel cetak, dan novel digital. Dia sangat berhati-hati ketika memublikasikan novelnya di platform novel digital karena khawatir dibajak.


SEHARI-hari, Dika Farikhah menghabiskan waktunya untuk mengurusi usaha penerbitan yang dirintisnya setahun lalu. Selain itu, dia berencana merintis usaha lain.
‘’Bisnis kecil-kecilan saja. Tapi masih belum mulai. Mungkin tahun depan bisa jalan,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (22/11).
Berawal dari kecintaannya terhadap dunia menulis, Dika memutuskan untuk melanjutkan studi S1 di jurusan Sastra Indonesia pada 2010. Tiga tahun kemudian, dia tertarik membukukan cerpen karyanya dalam bentuk buku antologi bersama rekan-rekan komunitas menulis.
Dika mengingat, ada tujuh buku antologi yang memuat karyanya. Selain itu, dia berpartisipasi menulis novel yang dikerjakan bersama.
‘’Judul novelnya Me VS Mertua. Ada 12 penulis yang berpartisipasi. Sistem pengerjaannya pembagian bab. Ini lebih menantang buat saya karena harus mengikuti gaya bahasa penulis di bab sebelumnya,’’ tutur Dika.
Saat platform novel digital mulai dikenal publik, Dika juga tertarik memublikasikan karyanya. Ada dua judul novel di dua platform berbeda yang bisa dinikmati pembaca saat ini. Yakni Lintang Kemukus dan Cokelat.
Sebelum menelurkan dua novel tersebut, Dika pernah memublikasikan karyanya yang lain di platform digital itu. Namun, penulis asal Desa/Kecamatan Kedungpring ini memutuskan untuk menghapus atau takedown tulisannya.
‘’Itu terjadi saat awal-awal platform novel digitalnya booming. Waktu itu belum ada kebijakan membaca novel yang berbayar. Sehingga semua orang bisa akses secara gratis. Saya takut di platform novel digital ini karena takut dibajak. Sekarang kan banyak novel-novel bajakan format PDF yang beredar,’’ ungkapnya.
Meskipun platform novel digital memberi kemudahan akses bagi pembaca, Dika tetap bertahan ingin memublikasikan karyanya dalam bentuk novel cetak.
Perempuan 29 tahun itu tetap optimistis peminat buku fisik masih banyak. Buku fisik memiliki pangsa pasar tersendiri. Selain itu, penulis juga harus ikut berperang memasarkan buku-buku karyanya.
‘’Wajib bagi penulis turut memasarkan bukunya. Istilahnya fardhu ‘ain. Soalnya kalau mau menyerahkan karya ke penerbit indie, mau nggak mau penulis harus terlibat promosi. Kecuali kalau karyanya sudah tembus ke penerbit ternama. Tapi kata teman-teman saya yang pakai penerbit ternama, penulis tetap terlibat memasarkan bukunya,’’ papar Dika.
Dika mengajak penulis-penulis pemula tidak malu menawarkan buku karyanya ke setiap orang. Baik ke teman-teman di komunitas maupun keluarga.
Menurut Dika, nilai ekonomi atau keuntungan yang didapat penulis lebih banyak melalui penjualan buku cetak.
‘’Karena novel digital bisa diakses secara gratis dan berpotensi dibajak. Pokoknya jangan malu-malu promosi. Kalau perlu, keluarga-keluarga terdekat juga disuruh beli agar hasil karya kita diapresiasi,’’ tuturnya.
Penulis berkacamata ini selalu meluangkan waktu di atas pukul 22.00 untuk menulis. Dia merasa lebih produktif dan mendapat banyak inspirasi saat menulis. Mayoritas cerita-cerita fiksi yang diangkat Dika bergenre roman metropop yang menceritakan kehidupan para pekerja setelah menikah.
Dika sangat terobsesi oleh penulis Ika Natasya dan Almira Bastari yang mengusung genre serupa.  ‘’Saya lebih milih nulis roman metropop daripada horor atau fantasi,’’ ujarnya sambil tersenyum.
Saat ini, novel Cokelat yang sebelumnya berbentuk digital, akan dialihmediakan menjadi novel cetak. Dia menarget proses penerbitan novel tersebut rampung tahun depan. Meskipun namanya dikenal sebagai spesialis cerita roman metropop, Dika juga tertantang untuk menulis buku tentang anak-anak.
‘’Pingin buku cerita anak yang bergambar. Tentang fabel kayak gitu. Tapi harus kumpulin uang dulu untuk bayar ilustratornya buat bikin gambar-gambarnya,’’ tutur penulis bernama asli Dwi Rosa Nur Farikhah.

Baca juga: Menguji Navigasi, Melintasi Medan Berbekal Peta

(bj/din/yan/min/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia