alexametrics
27.2 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Thoriq Bidar Dardiri, Pelukis Surealisme di Desa Jugo, Kecamatan Sekaran

Lukisan Bertema Laut Dibeli Turis Australia

Thoriq Bidar Dardiri tergugah menggeluti seni lukis ketika masih nyantri Tahun 2009. Ketertarikannya pada seni mencoret kanvas dikembangkan, hingga dirinya mampu meraih gelar megister di bidang seni.

M.GAMAL AYATULLAH, Radar Lamongan

 

THORIQ Bidar Dardiri terlihat serius menyalurkan bakatnya di ruangan 3 meter (m) persegi. Beragam lukisan terpajang di sana. Wartawan koran ini harus berpikir mendalam untuk mengetahui makna dari lukisan tersebut. Itu menjadi ciri khas pelukis 30 tahun tersebut yang berkiblat pada aliran surealisme.

 

Melukis surealisme membutukan imajinasi yang tinggi dan kesabaran, guna mendapatkan hasil yang maksimal. Suasana pikiran menjadikan peran utama saat melukis. Apalagi aliran surealisme ini merupakan seni lukis yang menampilkan objek alam khayal atau alam bawah sadar.

 

Pelukis asal Desa Jugo Kecamatan, Sekaran ini sudah memiliki ketertarikan pada seni menggambar sejak remaja. Awalnya, Thoriq mengikuti jejak rekannya yang mengikuti ekstrakulikuler melukis. Saat itu, dirinya masih menjadi santri di salah satu Ponpes di Ponorogo Tahun 2003.

Baca Juga :  Hari Pertama Kerja, Langsung Konsolidasi dan Sinkronisasi Internal

 

‘’Tahun 2009 keluar dari pondok, dengan memiliki bakat melukis,’’ ucap pelukis yang juga berprofesi sebagai dosen di universitas swasta di Bojonegoro tersebut.

 

Selanjutnya, Thoriq terus mengembangkan bakatnya melukis, dengan melanjutkan perkuliahan di Institut Seni Indonesia Surakarta Tahun 2011. Setelah merampungkan gelar S1, dirinya melanjutkan S2 di Institute Seni Indonesia Jogjakarta Tahun 2016.

 

‘’Saat melukis, yang menjadikan susah adalah ide. Kadang sudah mempunyai ide, tapi saat diterapkan, tak sesuai dengan apa yang diharapkan,’’ imbuhnya.

 

Lukisan surealisme berbeda dengan aliran lukisan lainnya. Sebab, melukis surealisme keluar dari orisinalitas obyek, yang harus kuat secara imajinasi. Thoriq memilih melukis saat malam hari, karena lebih tenang. Sehingga seluruh imajinasinya bisa keluar.

Baca Juga :  Main Individu Tidak Pernah Tembus Final

 

‘’Kalau sekarang banyak pesanan lukisan yang dipampang berada di ruang tamu hingga untuk hadiah atau kado,’’ katanya.

 

Thoriq biasa menyelesaikan lukisannya sekitar seminggu. Bahkan, beberapa karyanya diselesaikan hingga sebulan. Dia mematok harga tergantung tingkat kerumitan lukisan. Untuk ukuran kecil biasanya Thoriq mematok mulai harga Rp 1 juta hingga Rp 3 juta. Sedangkan, karyanya paling mahal pernah terjual hingga Rp 18 juta. Yakni lukisan surealisme bertema laut.

 

‘’Hasilnya tetap kembali keperalatan lukis dan elektronik, seperti laptop dan yang lainya,’’ ujarnya.

 

Ketika masih menempuh pendidikan S2, lukisannya ukuran 1 m x 1,3 m dibeli turis asal Australia dengan harga Rp 10 juta. Lukisan tersebut bertema laut. Secara garis besar menggambarkan aktivitas nelayan dan kerusakan laut.

 

‘’Itu memberikan kesan tersendiri bagi saya pada saat melukis hingga disukai orang lain,’’ ucapnya. (*/ind)

Thoriq Bidar Dardiri tergugah menggeluti seni lukis ketika masih nyantri Tahun 2009. Ketertarikannya pada seni mencoret kanvas dikembangkan, hingga dirinya mampu meraih gelar megister di bidang seni.

M.GAMAL AYATULLAH, Radar Lamongan

 

THORIQ Bidar Dardiri terlihat serius menyalurkan bakatnya di ruangan 3 meter (m) persegi. Beragam lukisan terpajang di sana. Wartawan koran ini harus berpikir mendalam untuk mengetahui makna dari lukisan tersebut. Itu menjadi ciri khas pelukis 30 tahun tersebut yang berkiblat pada aliran surealisme.

 

Melukis surealisme membutukan imajinasi yang tinggi dan kesabaran, guna mendapatkan hasil yang maksimal. Suasana pikiran menjadikan peran utama saat melukis. Apalagi aliran surealisme ini merupakan seni lukis yang menampilkan objek alam khayal atau alam bawah sadar.

 

Pelukis asal Desa Jugo Kecamatan, Sekaran ini sudah memiliki ketertarikan pada seni menggambar sejak remaja. Awalnya, Thoriq mengikuti jejak rekannya yang mengikuti ekstrakulikuler melukis. Saat itu, dirinya masih menjadi santri di salah satu Ponpes di Ponorogo Tahun 2003.

Baca Juga :  Kayu Jati dan Ihwal Kerajinan Rebana di Bojonegoro

 

‘’Tahun 2009 keluar dari pondok, dengan memiliki bakat melukis,’’ ucap pelukis yang juga berprofesi sebagai dosen di universitas swasta di Bojonegoro tersebut.

 

Selanjutnya, Thoriq terus mengembangkan bakatnya melukis, dengan melanjutkan perkuliahan di Institut Seni Indonesia Surakarta Tahun 2011. Setelah merampungkan gelar S1, dirinya melanjutkan S2 di Institute Seni Indonesia Jogjakarta Tahun 2016.

 

‘’Saat melukis, yang menjadikan susah adalah ide. Kadang sudah mempunyai ide, tapi saat diterapkan, tak sesuai dengan apa yang diharapkan,’’ imbuhnya.

 

Lukisan surealisme berbeda dengan aliran lukisan lainnya. Sebab, melukis surealisme keluar dari orisinalitas obyek, yang harus kuat secara imajinasi. Thoriq memilih melukis saat malam hari, karena lebih tenang. Sehingga seluruh imajinasinya bisa keluar.

Baca Juga :  Tak Berizin, Jual Miras, Dua Kafe di Lamongan Ditutup

 

‘’Kalau sekarang banyak pesanan lukisan yang dipampang berada di ruang tamu hingga untuk hadiah atau kado,’’ katanya.

 

Thoriq biasa menyelesaikan lukisannya sekitar seminggu. Bahkan, beberapa karyanya diselesaikan hingga sebulan. Dia mematok harga tergantung tingkat kerumitan lukisan. Untuk ukuran kecil biasanya Thoriq mematok mulai harga Rp 1 juta hingga Rp 3 juta. Sedangkan, karyanya paling mahal pernah terjual hingga Rp 18 juta. Yakni lukisan surealisme bertema laut.

 

‘’Hasilnya tetap kembali keperalatan lukis dan elektronik, seperti laptop dan yang lainya,’’ ujarnya.

 

Ketika masih menempuh pendidikan S2, lukisannya ukuran 1 m x 1,3 m dibeli turis asal Australia dengan harga Rp 10 juta. Lukisan tersebut bertema laut. Secara garis besar menggambarkan aktivitas nelayan dan kerusakan laut.

 

‘’Itu memberikan kesan tersendiri bagi saya pada saat melukis hingga disukai orang lain,’’ ucapnya. (*/ind)

Artikel Terkait

Most Read

Bojonegoro-Babat Macet

Muncul Potensi Polemik Stan Permanen

Artikel Terbaru


/