alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Ritual Bancakan Buku untuk 20 Tahun Hari Buku Nasional

Seperti Tasyakuran, Ada Tumpeng tapi Berisi Buku

Kalau tumpeng-tumpeng biasa terbuat dari makanan, ada yang unik dalam konsep Hari Buku di Bojonegoro. Tumpeng terbuat dari buku, berbalut acara seni, gerakan ini upaya bangkitkan nyala literasi.

 

LUKMAN HAKIM, Radar Bojonegoro

 

LORONG rel bengkong menyimpan ingatan kepulan asap kereta api saat masih difungsikan dahulu. Saat ini jalur rel sudah tidak tampak, berganti jalan paving. Namun, kepulan semangat dari nyala literasi masih membara di Jalan Pondok Pinang, Bojonegoro itu. Di sebuah kedai sederhana, Bancakan Buku berlangsung, Senin (16/5) malam.

 

Seperti halnya bancakan, setiap orang datang duduk dengan khidmat mengikuti acara sampai selesai. Namun, santapannya bukan makanan, melainkan sajian buku dari berbagai macam genre. Ada juga tumpeng, terbuat dari buku disusun rapi.

 

Pembawa acara tampak rancak memandu jalannya kegiatan. Mobil dinas perpustakaan terparkir dengan pintu terbuka. Di dalamnya buku-buku tersedia. Meja masuk terdapat bazar buku. Ketua Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Bojonegoro Bangun Setyawan Nugroho mengungkapkan rencana bancakan buku itu berawal dari obrolan pegiat literasi saat itu berkumpul.

Baca Juga :  Pembangunan Pasar Banjarejo II Didok Rp 68,7 Miliar

 

“Agak mendadak acaranya, dari obrolan-obrolan warung kopi akhirnya sepakat buat acara peringatan Hari Buku,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

 

Bangun sapaan akrabnya, kali pertama membuat acara Bancakan Buku. Ia menyakini semakin banyak agenda-agenda literasi, akan berdampak perkembangan minat baca di daerah. Saat ini, pihaknya juga membuat tempat diperuntukkan kegiatan literasi di sekitar Pondok Pinang supaya bisa berkelanjutan.

 

“Saat ini sedang membuat spot baru yakni Kesatrian Literasi. Agar gerakan literasi bisa berlangsung secara sustainable,” ucapnya.

Beberapa upaya menggalakan dan menyalakan literasi daerah dikolaborasikan dinas perpustakaan dan pegiat liteasi di berbagai kecamatan. Selain itu menggandeng pemuda lintas organisasi lebih memiliki keinginan mengembangkan literasi.

 

Data FTBM tercatat ada sekira 154 taman baca di Bojonegoro.

Baca Juga :  Padi Mulai Meteng, Petani Gelisah Batang Dirusak Wereng

 

Salah satu tantangan mengemuka dari taman baca yakni bagaimana pengelolanya mampu memandirikan diri dan taman bacanya. “Jangan sampai berbicara literasi, tapi pelakunya tidak sejahtera. Gagasan ini coba kami usung melalui tempat kami namai Kestarian Literasi ini,” ucap pemuda pernah menjadi pembina pramuka tersebut.

 

Hadir dalam acara, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perspustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bojonegoro Agus Purwanto, juga ketua FTMB Jawa Timur dan puluhan pegiat literasi.

 

“Meminjam istilah dari dunia penerbangan untuk menggambarkan kondisi literasi di Bojonegoro sebagai jet lag, bahwa literasi masih sebagai ide di langit ketika menapak di bumi diterima secara mengagetkan oleh masyarakat,” jelasnya.

 

Dalam kemajuan teknologi saat ini dituntut digitalisasi literasi. Agus berharap, FTBM Bojonegoro bisa bergerak secara bersama-sama dengan pemerintah dalam membuat pemerataan literasi. “Demi memperkecil kesenjangan antar wilayah di Bojonegoro,” pungkasnya. (*/rij)

Kalau tumpeng-tumpeng biasa terbuat dari makanan, ada yang unik dalam konsep Hari Buku di Bojonegoro. Tumpeng terbuat dari buku, berbalut acara seni, gerakan ini upaya bangkitkan nyala literasi.

 

LUKMAN HAKIM, Radar Bojonegoro

 

LORONG rel bengkong menyimpan ingatan kepulan asap kereta api saat masih difungsikan dahulu. Saat ini jalur rel sudah tidak tampak, berganti jalan paving. Namun, kepulan semangat dari nyala literasi masih membara di Jalan Pondok Pinang, Bojonegoro itu. Di sebuah kedai sederhana, Bancakan Buku berlangsung, Senin (16/5) malam.

 

Seperti halnya bancakan, setiap orang datang duduk dengan khidmat mengikuti acara sampai selesai. Namun, santapannya bukan makanan, melainkan sajian buku dari berbagai macam genre. Ada juga tumpeng, terbuat dari buku disusun rapi.

 

Pembawa acara tampak rancak memandu jalannya kegiatan. Mobil dinas perpustakaan terparkir dengan pintu terbuka. Di dalamnya buku-buku tersedia. Meja masuk terdapat bazar buku. Ketua Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Bojonegoro Bangun Setyawan Nugroho mengungkapkan rencana bancakan buku itu berawal dari obrolan pegiat literasi saat itu berkumpul.

Baca Juga :  Izinnya 9 Lantai, Dibangun 12 Lantai

 

“Agak mendadak acaranya, dari obrolan-obrolan warung kopi akhirnya sepakat buat acara peringatan Hari Buku,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

 

Bangun sapaan akrabnya, kali pertama membuat acara Bancakan Buku. Ia menyakini semakin banyak agenda-agenda literasi, akan berdampak perkembangan minat baca di daerah. Saat ini, pihaknya juga membuat tempat diperuntukkan kegiatan literasi di sekitar Pondok Pinang supaya bisa berkelanjutan.

 

“Saat ini sedang membuat spot baru yakni Kesatrian Literasi. Agar gerakan literasi bisa berlangsung secara sustainable,” ucapnya.

Beberapa upaya menggalakan dan menyalakan literasi daerah dikolaborasikan dinas perpustakaan dan pegiat liteasi di berbagai kecamatan. Selain itu menggandeng pemuda lintas organisasi lebih memiliki keinginan mengembangkan literasi.

 

Data FTBM tercatat ada sekira 154 taman baca di Bojonegoro.

Baca Juga :  Gaji Paskun Terancam Tidak Naik, Ini Alasannya

 

Salah satu tantangan mengemuka dari taman baca yakni bagaimana pengelolanya mampu memandirikan diri dan taman bacanya. “Jangan sampai berbicara literasi, tapi pelakunya tidak sejahtera. Gagasan ini coba kami usung melalui tempat kami namai Kestarian Literasi ini,” ucap pemuda pernah menjadi pembina pramuka tersebut.

 

Hadir dalam acara, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perspustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bojonegoro Agus Purwanto, juga ketua FTMB Jawa Timur dan puluhan pegiat literasi.

 

“Meminjam istilah dari dunia penerbangan untuk menggambarkan kondisi literasi di Bojonegoro sebagai jet lag, bahwa literasi masih sebagai ide di langit ketika menapak di bumi diterima secara mengagetkan oleh masyarakat,” jelasnya.

 

Dalam kemajuan teknologi saat ini dituntut digitalisasi literasi. Agus berharap, FTBM Bojonegoro bisa bergerak secara bersama-sama dengan pemerintah dalam membuat pemerataan literasi. “Demi memperkecil kesenjangan antar wilayah di Bojonegoro,” pungkasnya. (*/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/