alexametrics
25.6 C
Bojonegoro
Tuesday, May 24, 2022

Pendapa Pengayoman, Bekas Tempat Tinggal Samin Surosentiko

Menjadi Rumah Ngudari Masalah, Berkumpulya Sedulur Sikep Berbagai Kota

Pendapa pengayoman menjadi titik kumpul persebaran Sedulur Sikep Samin di berbagai wilayah. Berdiri setahun lalu, setelah penelusuran jalur keturunan. Di situlah tempat tinggal Samin Surenstiko sebelum dibawa ke pengasingan di Sawahlunto, Padang.

LUKMAN HAKIM, Blora, Radar Bojonegoro

 

LAGU Indonesia sontak dinyanyikan bareng-bareng. Suasana malam itu semakin berkobar dan merinding karena semua Sedulur Sikep Samin yang datang begitu antusias. Memakai pakaian adat Jawa dengan kesederhanaan.

 

Itulah Malam Peringatan Satu Abad Lebih Perjuangan Samin Surosentiko, Selasa (15/3). Sesepuh Sedulur Sikep dari beberapa wilayah saling bergandeng tangan. Sekaligus sebagai tanda berakhirnya rangkaian acara malam peringatan di Pendapa Pengayoman.

 

Suara jangkrik mulai bergeming dan malam semakin larut. Jawa Pos Radar Bojonegoro berkesempatan wawancara Gunretno, tokoh pengikut ajaran Samin Surosetiko di sudut tempat tak jauh dari Pendapa Pengayoman. Ia mulai berbincang kali pertama pendirian Pendapa Pengayoman satu tahun lalu.

 

Sebelum berdirinya pendapa, tokoh Samin dari Kabupaten Pati, tersebut melakukan runtutan penelusuran dari kampung kelahiran hingga keturunan. Dan menemukan salah satu desa di Kecamatan Kedungtuban, yang tetap menjadi petani.

 

“Dari mulai Mbah Randim, kemudian Mbah Karjan, sudah saya urut. Memang tempatnya di sini yang saat ini didirikan Pendapa Pengayoman,” ungkapnya.

 

Saat dicek lokasi, satu tahun sebelum ada bangunan, awalnya lahan berupa semak belukar. Banyak pohon bambu. Ternyata lahan tersebut sudah dimiliki oleh Mbah Ngadimah, seorang nenek berusia sekitar 70 tahun, warga Desa Ploso Kediren, Kecamatan Randublatung, Blora.

Baca Juga :  Tujuh Penderita HIV-AIDS Meninggal Dunia di Blora

 

Karena tanah sudah ada kepemilikan, Gunretno dan beberapa Sedulur Sikep lainnya mempunyai keinginan membeli tanah hingga mendirikan pendapa. “Sebagai pengikut ajaran Si Mbah, kami ingin meneruskan yang dilakukan Si Mbah di tempat tinggalnya dahulu,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

 

Saat kali pertama menawarkan untuk pembelian tanah, Mbah Ngadimah tidak menghendaki untuk menjual tanahnya. Gunretno pun bergeming. Namun, keajaiban datang. Entah karena apa, menurut penjelasan Gunretno, setelah dirinya kembali ke kediaman Mbah Ngadimah lagi, justru nenek bersahaja ini mewakafkan tanah untuk didirikan pendapa.

 

“Penyerahan tanah itu tepatnya pada 15 Maret, kami sangat berterima kasih,” paparnya.

 

Ternyata 15 Maret itu cukup momentum bagi Samin Surosentiko. Gunretno membayangkan 15 Maret sebagai situasi perjuangan Samin Surosentiko dari mulai ditangkap, diadili, hingga disidang.

 

Selanjutnya dikirim ke Sawahlunto, Padang, Sumatera Barat.

Itulah yang menjadi awal berdirinya pendapa. Pada awal pemberian wakaf tersebut, Gunretno mengaku ingin ada bukti tertulis agar tidak ada permasalahan di kemudian hari. Namun, hal itu diurungkan karena saat itu Mbah Ngadimah meyakinkan Gunretno.

Baca Juga :  Merasa Bahagia ketika Ada Anak Kecil Suka Kostum Kamen Rider

 

Ora bakal onok anak turunku sing bakal njaluk, titenono pituturku (bakal tidak ada keturunan saya yang meminta, ingat ucapan saya ini),” ucap Gunretno menirukan perkataan Mbah Ngadimah.

 

Saat mendengar itu, hati Gunretno terpukul. Menurutnya jika dirinya meminta surat penyerahan secara resmi atau bukti tertulis justru tidak percaya adanya kejujuran. Ia kembali mengingat ajaran Mbah Samin Surosentiko yang memegang teguh kejujuran.

 

Welas asih dari Mbah Ngadimah pun patut dikenang. Gunretno membuatkan tembang untuk Mbah Ngadimah mengenang pemberian dan ajaran Mbah Samin di Pendapa Pengayoman. Tembang itu saat ini ditempelkan di beberapa pilar penyangga pendapa. Di pendapa sederhana itu juga terdapat foto Samin Surosentiko dipasang di atas lesung. Berjajar penumbuk atau alu. Sedangkan di atas ada lambang garuda terbuat dari ukiran kayu.

 

Pendirian pendapa, saat ini bisa digunakan untuk tempat singgah. Semua masyarakat dan tiap Senin Kliwon ada acara saling berkumpul antara Sedulur Sikep Samin tersebar di berbagai wilayah.

 

“Bojonegoro, Pati, Kudus, dan Blora. Berterima kasih kepada Mbah Ngadimah,” jelasnya.

 

Gunretno menegaskan pendapa ini digunakan untuk ngudari atau memecahkan masalah-masalah dihadapi wong cilik. Terutama permasalahan pertanian, lingkungan, dan masalah yang dihadapi Sedulur Sikep dan masyarakat luas. (*/rij)

Pendapa pengayoman menjadi titik kumpul persebaran Sedulur Sikep Samin di berbagai wilayah. Berdiri setahun lalu, setelah penelusuran jalur keturunan. Di situlah tempat tinggal Samin Surenstiko sebelum dibawa ke pengasingan di Sawahlunto, Padang.

LUKMAN HAKIM, Blora, Radar Bojonegoro

 

LAGU Indonesia sontak dinyanyikan bareng-bareng. Suasana malam itu semakin berkobar dan merinding karena semua Sedulur Sikep Samin yang datang begitu antusias. Memakai pakaian adat Jawa dengan kesederhanaan.

 

Itulah Malam Peringatan Satu Abad Lebih Perjuangan Samin Surosentiko, Selasa (15/3). Sesepuh Sedulur Sikep dari beberapa wilayah saling bergandeng tangan. Sekaligus sebagai tanda berakhirnya rangkaian acara malam peringatan di Pendapa Pengayoman.

 

Suara jangkrik mulai bergeming dan malam semakin larut. Jawa Pos Radar Bojonegoro berkesempatan wawancara Gunretno, tokoh pengikut ajaran Samin Surosetiko di sudut tempat tak jauh dari Pendapa Pengayoman. Ia mulai berbincang kali pertama pendirian Pendapa Pengayoman satu tahun lalu.

 

Sebelum berdirinya pendapa, tokoh Samin dari Kabupaten Pati, tersebut melakukan runtutan penelusuran dari kampung kelahiran hingga keturunan. Dan menemukan salah satu desa di Kecamatan Kedungtuban, yang tetap menjadi petani.

 

“Dari mulai Mbah Randim, kemudian Mbah Karjan, sudah saya urut. Memang tempatnya di sini yang saat ini didirikan Pendapa Pengayoman,” ungkapnya.

 

Saat dicek lokasi, satu tahun sebelum ada bangunan, awalnya lahan berupa semak belukar. Banyak pohon bambu. Ternyata lahan tersebut sudah dimiliki oleh Mbah Ngadimah, seorang nenek berusia sekitar 70 tahun, warga Desa Ploso Kediren, Kecamatan Randublatung, Blora.

Baca Juga :  Butuh Waktu Lama untuk Dapatkan Hasil Maksimal

 

Karena tanah sudah ada kepemilikan, Gunretno dan beberapa Sedulur Sikep lainnya mempunyai keinginan membeli tanah hingga mendirikan pendapa. “Sebagai pengikut ajaran Si Mbah, kami ingin meneruskan yang dilakukan Si Mbah di tempat tinggalnya dahulu,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

 

Saat kali pertama menawarkan untuk pembelian tanah, Mbah Ngadimah tidak menghendaki untuk menjual tanahnya. Gunretno pun bergeming. Namun, keajaiban datang. Entah karena apa, menurut penjelasan Gunretno, setelah dirinya kembali ke kediaman Mbah Ngadimah lagi, justru nenek bersahaja ini mewakafkan tanah untuk didirikan pendapa.

 

“Penyerahan tanah itu tepatnya pada 15 Maret, kami sangat berterima kasih,” paparnya.

 

Ternyata 15 Maret itu cukup momentum bagi Samin Surosentiko. Gunretno membayangkan 15 Maret sebagai situasi perjuangan Samin Surosentiko dari mulai ditangkap, diadili, hingga disidang.

 

Selanjutnya dikirim ke Sawahlunto, Padang, Sumatera Barat.

Itulah yang menjadi awal berdirinya pendapa. Pada awal pemberian wakaf tersebut, Gunretno mengaku ingin ada bukti tertulis agar tidak ada permasalahan di kemudian hari. Namun, hal itu diurungkan karena saat itu Mbah Ngadimah meyakinkan Gunretno.

Baca Juga :  Dedikasikan Buku untuk Blora, Kulik Keunikan Pernikahan Masyarakat Samin

 

Ora bakal onok anak turunku sing bakal njaluk, titenono pituturku (bakal tidak ada keturunan saya yang meminta, ingat ucapan saya ini),” ucap Gunretno menirukan perkataan Mbah Ngadimah.

 

Saat mendengar itu, hati Gunretno terpukul. Menurutnya jika dirinya meminta surat penyerahan secara resmi atau bukti tertulis justru tidak percaya adanya kejujuran. Ia kembali mengingat ajaran Mbah Samin Surosentiko yang memegang teguh kejujuran.

 

Welas asih dari Mbah Ngadimah pun patut dikenang. Gunretno membuatkan tembang untuk Mbah Ngadimah mengenang pemberian dan ajaran Mbah Samin di Pendapa Pengayoman. Tembang itu saat ini ditempelkan di beberapa pilar penyangga pendapa. Di pendapa sederhana itu juga terdapat foto Samin Surosentiko dipasang di atas lesung. Berjajar penumbuk atau alu. Sedangkan di atas ada lambang garuda terbuat dari ukiran kayu.

 

Pendirian pendapa, saat ini bisa digunakan untuk tempat singgah. Semua masyarakat dan tiap Senin Kliwon ada acara saling berkumpul antara Sedulur Sikep Samin tersebar di berbagai wilayah.

 

“Bojonegoro, Pati, Kudus, dan Blora. Berterima kasih kepada Mbah Ngadimah,” jelasnya.

 

Gunretno menegaskan pendapa ini digunakan untuk ngudari atau memecahkan masalah-masalah dihadapi wong cilik. Terutama permasalahan pertanian, lingkungan, dan masalah yang dihadapi Sedulur Sikep dan masyarakat luas. (*/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/