alexametrics
29.6 C
Bojonegoro
Sunday, May 22, 2022

Pesona Kerajinan Kayu Jati Batokan yang Turun-temurun (2-Habis)

Suvenir Menembus Luar Negeri, Jadi Perkakas Restoran

Dari gelondongan kayu jati disulap menjadi beragam suvenir rumah tangga bernilai tinggi. Itulah keajaiban tangan-tangan masyarakat Desa Batokan, Kecamatan Kasiman. Karyanya menembus dunia.

LUKMAN HAKIM, Radar Bojonegoro

 

MEMASUKI rumah-rumah di Desa Batokan, Kecamatan Kasiman, seakan berada di perpustakaan. Ada beragam rak-rak berdiri. Namun, bukan berisi buku-buku. Sebaliknya, rumah-rumah yang disulap showroom itu rak-rak berisi beragam suvenir kayu jati.

 

Beragam pernak-pernik kerajinan kayu jati. Unik-unik dan apik dengan ukiran. Tampak pekerja mengemas hasil kerajinan dengan koran-koran bekas untuk dikirim kepada pemesan. Pembeli yang datang melihat secara seksama hasil produk kayu jati.

 

Tidak hanya warga lokal, pengunjung dari luar negeri seakan sudah akrab bagi masyarakat Desa Batokan. Datang melihat beragam souvenir kayu jati. Ciamiknya suvenir itu hingga menembus pasar luar negeri. Menembus daratan Asia seperti Korea, Jepang, Australia, dan India. Juga, benua Eropa seperti Belanda, dan Afrika menembus Arab Saudi.

 

Fredi Mustofa salah satu perajin kayu jati Desa Batokan mengungkapkan, minat warga luar negeri terhadap produk olahan kayu jati warga desa cukup deras beberapa tahun lalu. Biasanya langsung datang atau melalui jasa orang kepercayaan untuk dikirim.

Baca Juga :  Rencana Perbaikan Pasar Kota Belum Jelas

 

“Biasanya langsung atau lewat suruhan orang yang di Indonesia. Nanti mereka pesan diminta kirim di gudangnya. Nanti yang mengurusi biaya ekspor mereka yang memesan,” ujar Fredi juga mantan ketua Asosiasi Perajin Kayu Jati Desa Batokan itu.

 

Rerat kerajinan diminati warga luar negeri yakni berupa mangkuk, piring, dan gelas sendok. Sedangkan, pernak-perniknya berupa vas bunga dan wadah lampu. Dimanfaatkan kebutuhan rumah tangga hingga komersil seperti restoran.

 

Menurutnya, jika yang memesan restoran jumlahnya bisa mencapai ratusan. “Selama ini dari pemesan yang ada digunakan kebutuahn rumah tangga dan restoran,” ujarnya ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro, awal April lalu.

 

Dalam memproses permintaan warga luar negeri, setiap inci ukuran diperhatikan. Jika setelah pengiriman ternyata terdapat ukuran tidak sesuai akan dilakukan pengembalian. Bahan kayu jati dengan kualitas paling bagus. Kayunya memerah dan kering menunjukkan serat dan usia pohon sudah tua.

Baca Juga :  Tangan Pernah Patah, Suka Teknik Membanting Lawan

 

“Misalkan pesannya lebih dari 0,2 sentimeter (cm) dari ukuran pesanan saja mereka akan kembalikan. Jadi kalau ada pesanan orang luar negeri ukuran begitu diperhatikan,” jelasnya.

 

Fredi pernah mengalami hal tersebut. Sehingga dirinya harus mengganti bentuk kiriman. Seketika bahan yang dikembalikan ia jual di pasar lokal. Sedangkan, untuk permintaan dalam negeri paling banyak berupa wadah minuman dan wadah tisu.

 

Kristiani salah satu pemilik toko hasil olahan kayu jati Dusun Banaran, Desa Batokan, menerangkan, produk olahan kayu jati warga desa sudah banyak menembus pasar luar daerah hingga internasional. Jumlah pesanan biasanya langsung banyak. “Tapi untuk saat ini pemesanan lebih banyak dari luar daerah dan lokalan saja,” jelasnya.

 

Jika melakukan distribusi ke luar daerah, pihaknya tidak melakukannya secara mandiri. Namun, melalui distributor lain. Sebab, secara regulasi, pihaknya belum mempunyai literasi dan pengetahuan cukup dalam perdagangan ke luar negeri atau ekspor impor.

 

“Selama ini kalau ada pesanan dari luar daerah ya melalui agen,” jelasnya. (*/rij)

Dari gelondongan kayu jati disulap menjadi beragam suvenir rumah tangga bernilai tinggi. Itulah keajaiban tangan-tangan masyarakat Desa Batokan, Kecamatan Kasiman. Karyanya menembus dunia.

LUKMAN HAKIM, Radar Bojonegoro

 

MEMASUKI rumah-rumah di Desa Batokan, Kecamatan Kasiman, seakan berada di perpustakaan. Ada beragam rak-rak berdiri. Namun, bukan berisi buku-buku. Sebaliknya, rumah-rumah yang disulap showroom itu rak-rak berisi beragam suvenir kayu jati.

 

Beragam pernak-pernik kerajinan kayu jati. Unik-unik dan apik dengan ukiran. Tampak pekerja mengemas hasil kerajinan dengan koran-koran bekas untuk dikirim kepada pemesan. Pembeli yang datang melihat secara seksama hasil produk kayu jati.

 

Tidak hanya warga lokal, pengunjung dari luar negeri seakan sudah akrab bagi masyarakat Desa Batokan. Datang melihat beragam souvenir kayu jati. Ciamiknya suvenir itu hingga menembus pasar luar negeri. Menembus daratan Asia seperti Korea, Jepang, Australia, dan India. Juga, benua Eropa seperti Belanda, dan Afrika menembus Arab Saudi.

 

Fredi Mustofa salah satu perajin kayu jati Desa Batokan mengungkapkan, minat warga luar negeri terhadap produk olahan kayu jati warga desa cukup deras beberapa tahun lalu. Biasanya langsung datang atau melalui jasa orang kepercayaan untuk dikirim.

Baca Juga :  Musim Kemarau Dijemur, Musim Hujan Disediakan Lampu

 

“Biasanya langsung atau lewat suruhan orang yang di Indonesia. Nanti mereka pesan diminta kirim di gudangnya. Nanti yang mengurusi biaya ekspor mereka yang memesan,” ujar Fredi juga mantan ketua Asosiasi Perajin Kayu Jati Desa Batokan itu.

 

Rerat kerajinan diminati warga luar negeri yakni berupa mangkuk, piring, dan gelas sendok. Sedangkan, pernak-perniknya berupa vas bunga dan wadah lampu. Dimanfaatkan kebutuhan rumah tangga hingga komersil seperti restoran.

 

Menurutnya, jika yang memesan restoran jumlahnya bisa mencapai ratusan. “Selama ini dari pemesan yang ada digunakan kebutuahn rumah tangga dan restoran,” ujarnya ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro, awal April lalu.

 

Dalam memproses permintaan warga luar negeri, setiap inci ukuran diperhatikan. Jika setelah pengiriman ternyata terdapat ukuran tidak sesuai akan dilakukan pengembalian. Bahan kayu jati dengan kualitas paling bagus. Kayunya memerah dan kering menunjukkan serat dan usia pohon sudah tua.

Baca Juga :  Tangan Pernah Patah, Suka Teknik Membanting Lawan

 

“Misalkan pesannya lebih dari 0,2 sentimeter (cm) dari ukuran pesanan saja mereka akan kembalikan. Jadi kalau ada pesanan orang luar negeri ukuran begitu diperhatikan,” jelasnya.

 

Fredi pernah mengalami hal tersebut. Sehingga dirinya harus mengganti bentuk kiriman. Seketika bahan yang dikembalikan ia jual di pasar lokal. Sedangkan, untuk permintaan dalam negeri paling banyak berupa wadah minuman dan wadah tisu.

 

Kristiani salah satu pemilik toko hasil olahan kayu jati Dusun Banaran, Desa Batokan, menerangkan, produk olahan kayu jati warga desa sudah banyak menembus pasar luar daerah hingga internasional. Jumlah pesanan biasanya langsung banyak. “Tapi untuk saat ini pemesanan lebih banyak dari luar daerah dan lokalan saja,” jelasnya.

 

Jika melakukan distribusi ke luar daerah, pihaknya tidak melakukannya secara mandiri. Namun, melalui distributor lain. Sebab, secara regulasi, pihaknya belum mempunyai literasi dan pengetahuan cukup dalam perdagangan ke luar negeri atau ekspor impor.

 

“Selama ini kalau ada pesanan dari luar daerah ya melalui agen,” jelasnya. (*/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/