alexametrics
29.8 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Mengenal Komunitas Senyum Anak Nusantara (SAN) Bojonegoro

Awalnya Tidak Saling Kenal, Dipertemukan Kepedulian Anak

- Advertisement -

Rasa sosial kemanusiaan pemuda Bojonegoro tak pernah luntur. Kemauan untuk terjun sebagai relawan yang sifatnya mengabdi dikerjakan sepenuh hati. Dua bulan lalu lahir komunitas Senyum Anak Nusantara (SAN) Bojonegoro.

 

BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro

 

AWALNYA tidak saling kenal sama sekali. Lima pemuda Bojonegoro ini bertemu dalam satu gagasan wadah Senyum Anak Nusantara (SAN) Chapter Bojonegoro. Bertemu dalam satu visi kepedulian pada anak-anak.

- Advertisement -

 

SAN Bojonegoro terbentuk bukan dari sebuah inisiasi satu-dua orang. Sebaliknya, melalui proses rekrutmen nasional digelar oleh SAN Kediri. Ternyata, di Bojonegoro terpilih lima relawan. Di antaranya Maulitha Alianika Putri, Desy Rina, Rahma Elok Sofianti, Lisa Mazidatur Rofiqoh, dan Lisana Sidqi Aliyyan.

 

“Kelima relawan itu merupakan anggota perintis SAN Bojonegoro,” ujar Maulitha selaku koordinator SAN Bojonegoro.

 

Jadi antaranggota tidak saling kenal meski sesama Bojonegoro. Jadi ada proses saling mengenal satu sama lain, rerata merupakan mahasiswa strata satu (S-1). Tapi, tak perlu menunggu waktu lama, SAN Bojonegoro pun pada April lalu langsung membukan rekrutmen relawan di Bojonegoro. Akhirnya terpilih delapan relawan.

Baca Juga :  Bojonegoro Kembali Zona Merah, Tiga Kecamatan Diberlakukan Jam Malam

 

“Sehingga totalnya 13 relawan SAN Bojonegoro,” ucap dara asal Desa Kolong, Kecamatan Ngasem itu. April lalu terbentuk. Lalu, perencanaan program kerja pun segera digarap.

 

Aktivis komunitas ini tergerak jiwa sosial kemanusiaannya sebagai relawan fokus kalangan anak-anak. Mengingat anak-anak merupakan calon penerus generasi bangsa. Targetnya menyebarkan misi 3-M. Yaitu memotivasi, menginspirasi, serta mengedukasi generasi penerus bangsa. Khususnya daerah yang masih tertinggal.

 

“Sehingga SAN ini mampu mencetak generasi bangsa unggul di masa depan,” beber Litha, sapaan akrabnya.

 

Mei lalu mendonasikan uang, pakaian, dan alat tulis bagi anak-anak di Panti Asuhan Muslimat NU Nurur Rohmah turut Desa Kauman, Kecamatan Bojonegoro Kota. Sebelumnya menggalang donasi dengan tajuk Seribu Senyum Nusantara Bojonegoro pada Mei lalu.

Baca Juga :  Antisipasi Kemacetan Pasar Takjil

 

Litha menambahkan, terdekat bakal merancang program Sekolah Nusantara. Konsepnya, relawan SAN Bojonegoro menjadi pendidik di sekolah terpencil yang telah dipilih dan mendapat izin kepala sekolah. Nantinya akan ada kurikulum dari SAN pusat akan dijadikan bahan ajar para relawan saat terjun menjadi pendidik di Sekolah Nusantara.

 

Tetapi tidak setiap hari menjadi pendidik, skemanya nanti bisa sebulan dua kali atau empat kali. “Lama program Sekolah Nusantara itu maksimal enam bulan. Dilakukan evaluasi dari proses telah dijalani,” ujar mahasiswi S-1 jurusan ekonomi pembangunan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu.

 

Sebelumnya, Litha tahu SAN dari lingkaran pertemanan di kampusnya. “Setidaknya ikut SAN sebagai kegiatan positif untuk mengisi waktu luang, selain kuliah,” ucapnya. (*/rij)

Rasa sosial kemanusiaan pemuda Bojonegoro tak pernah luntur. Kemauan untuk terjun sebagai relawan yang sifatnya mengabdi dikerjakan sepenuh hati. Dua bulan lalu lahir komunitas Senyum Anak Nusantara (SAN) Bojonegoro.

 

BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro

 

AWALNYA tidak saling kenal sama sekali. Lima pemuda Bojonegoro ini bertemu dalam satu gagasan wadah Senyum Anak Nusantara (SAN) Chapter Bojonegoro. Bertemu dalam satu visi kepedulian pada anak-anak.

- Advertisement -

 

SAN Bojonegoro terbentuk bukan dari sebuah inisiasi satu-dua orang. Sebaliknya, melalui proses rekrutmen nasional digelar oleh SAN Kediri. Ternyata, di Bojonegoro terpilih lima relawan. Di antaranya Maulitha Alianika Putri, Desy Rina, Rahma Elok Sofianti, Lisa Mazidatur Rofiqoh, dan Lisana Sidqi Aliyyan.

 

“Kelima relawan itu merupakan anggota perintis SAN Bojonegoro,” ujar Maulitha selaku koordinator SAN Bojonegoro.

 

Jadi antaranggota tidak saling kenal meski sesama Bojonegoro. Jadi ada proses saling mengenal satu sama lain, rerata merupakan mahasiswa strata satu (S-1). Tapi, tak perlu menunggu waktu lama, SAN Bojonegoro pun pada April lalu langsung membukan rekrutmen relawan di Bojonegoro. Akhirnya terpilih delapan relawan.

Baca Juga :  Berawal Pemain Musik Latar Teater, Kadang Demam Panggung

 

“Sehingga totalnya 13 relawan SAN Bojonegoro,” ucap dara asal Desa Kolong, Kecamatan Ngasem itu. April lalu terbentuk. Lalu, perencanaan program kerja pun segera digarap.

 

Aktivis komunitas ini tergerak jiwa sosial kemanusiaannya sebagai relawan fokus kalangan anak-anak. Mengingat anak-anak merupakan calon penerus generasi bangsa. Targetnya menyebarkan misi 3-M. Yaitu memotivasi, menginspirasi, serta mengedukasi generasi penerus bangsa. Khususnya daerah yang masih tertinggal.

 

“Sehingga SAN ini mampu mencetak generasi bangsa unggul di masa depan,” beber Litha, sapaan akrabnya.

 

Mei lalu mendonasikan uang, pakaian, dan alat tulis bagi anak-anak di Panti Asuhan Muslimat NU Nurur Rohmah turut Desa Kauman, Kecamatan Bojonegoro Kota. Sebelumnya menggalang donasi dengan tajuk Seribu Senyum Nusantara Bojonegoro pada Mei lalu.

Baca Juga :  Dua Windu Jadi Pembalap, Rasanya Sudah Jatuh Cinta Offroad

 

Litha menambahkan, terdekat bakal merancang program Sekolah Nusantara. Konsepnya, relawan SAN Bojonegoro menjadi pendidik di sekolah terpencil yang telah dipilih dan mendapat izin kepala sekolah. Nantinya akan ada kurikulum dari SAN pusat akan dijadikan bahan ajar para relawan saat terjun menjadi pendidik di Sekolah Nusantara.

 

Tetapi tidak setiap hari menjadi pendidik, skemanya nanti bisa sebulan dua kali atau empat kali. “Lama program Sekolah Nusantara itu maksimal enam bulan. Dilakukan evaluasi dari proses telah dijalani,” ujar mahasiswi S-1 jurusan ekonomi pembangunan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu.

 

Sebelumnya, Litha tahu SAN dari lingkaran pertemanan di kampusnya. “Setidaknya ikut SAN sebagai kegiatan positif untuk mengisi waktu luang, selain kuliah,” ucapnya. (*/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Kota tanpa Perahu

Rekaman untuk Lomba Tingkat Nasional

Laga Awal Tanpa Didampingi Pelatih

Artikel Terbaru


/