alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Thursday, August 18, 2022

Yuli Zedeng, Solois Musik Balada, Sudah Telurkan 50 Lagu

Motif Berkarya Sebagai Warisan Digital untuk Anak-Cucu

- Advertisement -

Solois Yuli Zedeng bisa dibilang musisi tak terlalu ambil pusing dalam proses berkarya. Dia mampu memproduksi lagu hingga video klip secara mandiri.

BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro

 

KENAKAN kaus oblong cokelat dengan rambut dikuncir, Yuli Zedeng keluar dari studio musik pribadinya kemarin (4/7). Berbincang santai di beranda rumahnya diiringi suara bocah-bocah asyik bermain. Yuli memamerkan materi baru untuk album musik keduanya akan diberi tajuk Minimalis.

- Advertisement -

 

Suara serak Yuli cukup jadi perhatian. Sebelumnya suara pria kelahiran 1976 itu tidak serak. “Suara serak ini sudah sejak setahun lalu, ketika mulai fokus jadi solois sekitar 2020 lalu,” ucapnya. Menurutnya, suara serak itu diakibatkan adanya pemecahan pita suaranya.

 

Awalnya, Yuli khawatir itu perlu diobati. Kenyataannya seniman di dunia tarik suara bakal ada fase bersuara serak. “Justru suara serak ini bisa menjadi karakter vokal tersendiri,” kata bapak dua anak itu. Sehingga, lelaki juga sosok guru itu sudah berdamai dengan suara seraknya tersebut.

Baca Juga :  PPDB SMP di Bojonegoro Menyisakan Jalur Zonasi

 

Yuli merupakan salah satu solois produktif di Bojonegoro. Lebih dari 50 lagu sudah ia rilis dalam kurun waktu dua tahun. Lagu-lagunya ia unggah di YouTube dalam bentuk single. Karena sekarang zamannya single, bukan lagi album. Namun teman-temannya menyarankan dijadikan sebuah album.

 

“Akhirnya saya terima saran itu, tahun lalu rilis album bertajuk Petani Jiwa berisi dua belas lagu,” kata pria asal Kelurahan Kepatihan itu.

 

Selanjutnya, sisa-sisa lagu single-nya bakal ia rangkai berdasar tema sama. Disinggung motivasinya jadi solois di usia hampir setengah abad, Yuli mengatakan ingin membuat warisan digital bagi anak-cucunya. “Tidak ada motivasi muluk-muluk ketika berkarya jadi solois,” bebernya.

 

Menurutnya era kemajuan teknologi saat ini patut dimanfaatkan sebaik mungkin. Kebetulan talenta ia punya bidang musik, jadi ingin fokus berkarya bikin lagu. Karena itu, Yuli memproduksi lagu sendiri di studio musik pribadinya. Bahkan bikin video klip sendiri.

 

Rekam jejak Yuli sebagai musisi sebenarnya sudah sejak medio 2000-an silam. Pria juga guru SMAN 2 Bojonegoro itu pernah punya band bernama Praduga Tak Bersalah. Ia dulu dan kini pun konsisten di rel aliran musik balada. Lirik-lirik lugas dengan tema dekat dengannya jadi inspirasi tiap lagunya.

Baca Juga :  Budayakan Mahasiswa Aktif Menulis dan Menerbitkan Buku

 

Yuli merasa nyaman berkarya mengangkat tema benar-benar ia alami. Proses imajinasi dan kreativitas lebih tulus serta jujur. Ia mencontohkan ada lagu secara khusus dibuat untuk temannya sedang berjuang melawan penyakit kanker serviks.

 

“Ada juga lagu saya buat untuk seorang pekerja tidak tetap di sekolah mengabdi lebih dari 30 tahun, namun tak kunjung diangkat statusnya,” katanya.

 

Tahun ini, rencananya Yuli bakal rilis album keduanya se-Jawa Timur secara mandiri tanpa sponsor. “Turnya bakal bertandang di kafe-kafe setiap Sabtu,” tegasnya.

 

Yuli ingin berkomitmen berkarya selama ia mampu. Menurutnya, karya ia lahirkan pasti berawal dari keresahan. Jadi terkadang seminggu bisa lahirkan dua lagu atau bahkan sebulan hanya sekali. (*/rij)

Solois Yuli Zedeng bisa dibilang musisi tak terlalu ambil pusing dalam proses berkarya. Dia mampu memproduksi lagu hingga video klip secara mandiri.

BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro

 

KENAKAN kaus oblong cokelat dengan rambut dikuncir, Yuli Zedeng keluar dari studio musik pribadinya kemarin (4/7). Berbincang santai di beranda rumahnya diiringi suara bocah-bocah asyik bermain. Yuli memamerkan materi baru untuk album musik keduanya akan diberi tajuk Minimalis.

- Advertisement -

 

Suara serak Yuli cukup jadi perhatian. Sebelumnya suara pria kelahiran 1976 itu tidak serak. “Suara serak ini sudah sejak setahun lalu, ketika mulai fokus jadi solois sekitar 2020 lalu,” ucapnya. Menurutnya, suara serak itu diakibatkan adanya pemecahan pita suaranya.

 

Awalnya, Yuli khawatir itu perlu diobati. Kenyataannya seniman di dunia tarik suara bakal ada fase bersuara serak. “Justru suara serak ini bisa menjadi karakter vokal tersendiri,” kata bapak dua anak itu. Sehingga, lelaki juga sosok guru itu sudah berdamai dengan suara seraknya tersebut.

Baca Juga :  DPRD Bojonegoro Akan Sidak Sekolah Penerima DAK

 

Yuli merupakan salah satu solois produktif di Bojonegoro. Lebih dari 50 lagu sudah ia rilis dalam kurun waktu dua tahun. Lagu-lagunya ia unggah di YouTube dalam bentuk single. Karena sekarang zamannya single, bukan lagi album. Namun teman-temannya menyarankan dijadikan sebuah album.

 

“Akhirnya saya terima saran itu, tahun lalu rilis album bertajuk Petani Jiwa berisi dua belas lagu,” kata pria asal Kelurahan Kepatihan itu.

 

Selanjutnya, sisa-sisa lagu single-nya bakal ia rangkai berdasar tema sama. Disinggung motivasinya jadi solois di usia hampir setengah abad, Yuli mengatakan ingin membuat warisan digital bagi anak-cucunya. “Tidak ada motivasi muluk-muluk ketika berkarya jadi solois,” bebernya.

 

Menurutnya era kemajuan teknologi saat ini patut dimanfaatkan sebaik mungkin. Kebetulan talenta ia punya bidang musik, jadi ingin fokus berkarya bikin lagu. Karena itu, Yuli memproduksi lagu sendiri di studio musik pribadinya. Bahkan bikin video klip sendiri.

 

Rekam jejak Yuli sebagai musisi sebenarnya sudah sejak medio 2000-an silam. Pria juga guru SMAN 2 Bojonegoro itu pernah punya band bernama Praduga Tak Bersalah. Ia dulu dan kini pun konsisten di rel aliran musik balada. Lirik-lirik lugas dengan tema dekat dengannya jadi inspirasi tiap lagunya.

Baca Juga :  Budayakan Mahasiswa Aktif Menulis dan Menerbitkan Buku

 

Yuli merasa nyaman berkarya mengangkat tema benar-benar ia alami. Proses imajinasi dan kreativitas lebih tulus serta jujur. Ia mencontohkan ada lagu secara khusus dibuat untuk temannya sedang berjuang melawan penyakit kanker serviks.

 

“Ada juga lagu saya buat untuk seorang pekerja tidak tetap di sekolah mengabdi lebih dari 30 tahun, namun tak kunjung diangkat statusnya,” katanya.

 

Tahun ini, rencananya Yuli bakal rilis album keduanya se-Jawa Timur secara mandiri tanpa sponsor. “Turnya bakal bertandang di kafe-kafe setiap Sabtu,” tegasnya.

 

Yuli ingin berkomitmen berkarya selama ia mampu. Menurutnya, karya ia lahirkan pasti berawal dari keresahan. Jadi terkadang seminggu bisa lahirkan dua lagu atau bahkan sebulan hanya sekali. (*/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/