alexametrics
27 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Dekat Penjara, Dulu Bikin Merinding

Sumur Ringin Dipercaya Bisa Melihat Orang Tenggelam

Sumur Ringin lokasinya dekat penjara. Dibangun masa kolonial Belanda. Dulu, ketika melintas gang bikin merinding. Kini, Sumur Ringin sudah terang, banyak penerangan.

BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro

 

TIDAK banyak Urban Legend Bojonegoro yang benar-benar ikonik dan masih hangat di ingatan masyarakat Bojonegoro kawasan perkotaan. Salah satu urban legend ialah angkernya kawasan Gang Sumur Ringin.

 

Setidaknya, anak kelahiran 1990-an sedikit banyak terpapar kisah seramnya gang tembusan Jalan Diponegoro dan Jalan dr Wahidin. Gang berada di utara Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bojonegoro, itu pun juga sepi.

 

Jawa Pos Radar Bojonegoro mendatangi lokasi tersebut akhir April lalu. Salah satu warga asli kelahiran Gang Sumur Ringin, Agung menyampaikan, bahwa alasan gang membujur timur-barat itu memiliki kesan angker tentu karena di zaman dulu minim sekali penerangan.

 

Ditambah ada sumur dinaungi pohon beringin tinggi besar. Sehingga, ketika melintas saat petang hingga malam di depan sumur rasa-rasanya merinding. “Karena sebelum melintas, biasanya orang-orang itu sudah dengar kalau Sumur Ringin itu angker,” ujarnya.

 

Pria kelahiran 1953 itu mengatakan, nama Sumur Ringin sudah ada sejak dirinya kecil. Bahkan, sejak era bapaknya lahir 1903, sudah bernama Sumur Ringin. Jadi bisa disimpulkan Sumur Ringin sudah ada sejak era kolonial Belanda.

Baca Juga :  Setor dan Tarik PDAM

 

Agung menggambarkan kondisi serta situasi Sumur Ringin di masa lampau tentu ada banyak perubahan. Dulu sisi timur Sumur Ringin belum berdiri Balai Kelurahan Kepatihan. Diperkirakan balai kelurahan dibangun era Orde Baru (orba).

 

“Sebelumnya sisi timur itu lapangan dimanfaatkan pedagang. Juga dimanfaatkan bermain anak-anak setempat,” tutur pria sekarang berdomisili di Kelurahan Sumbang itu.

 

Selain itu, lapangan dijadikan lokasi acara sedekah bumi atau manganan setahun sekali. Biasanya digelar pasca musim panen, sekitar Mei tepatnya Jumat Kliwon. Acara tahunan itu tidak ada lagi setelah dibangun balai kelurahan.

 

Keberadaan sumur tentu dimanfaatkan warga Kepatihan dan sekitarnya. Pohon menaungi sumur sebenarnya tidak selalu pohon beringin. “Dulu pohon beringin itu ambruk karena sudah tua. Sekitar 1960-an diganti pohon asam dan ambruk. Lalu diganti pohon beringin lagi,” imbuhnya.

 

Konon, Sumur Ringin itu dijadikan ahli spiritual atau metafisika sebagai medium melihat atau mencari orang yang tenggelam di Sungai Bengawan Solo. Juga ada beberapa masyarakat percaya air Sumur Ringin memiliki kesakralan. “Bahkan dulu ada orang dari Banten yang ambil air Sumur Ringin sebagai syarat ritual kepercayaan,” tuturnya.

Baca Juga :  Ruang Pamer Karya Musisi dengan Sentuhan Artistik

 

Namun, apabila bicara tata letak di sekitar Sumur Ringin tak banyak berubah. Bangunan penjara sejak Agung lahir sudah ada. Lalu, bangunan rumah berdempetan di belakang penjara juga sudah dari dulu. Begitu pula bangunan SD Kepatihan tidak berpindah.

“Tapi berganti nama. Dulu namanya SR (sekolah rakyat) latihan, ganti SD Mardi Sunu, ganti SD Diponegoro, dan terakhir namanya SD Kepatihan,” bebernya.

 

Zaman dulu, mata pencaharian penduduk Sumur Ringin sebagian besar pegawai pemerintahan. Bisa dibilang dihuni para priyayi. Sama halnya penduduk sekitar Sumur Ringin, seperti Gang Srinayan maupun Gang Jiken.

 

Agung pun mengingat, semasa masih duduk di bangku SD salah satu rumah di Sumur Ringin dijadikan kantor Comite Resort (CR) Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu, di seberang timur Gang Sumur Ringin jadi kantor Comite Seksi (CS) PKI dan kantor Comite Sub Seksi (CSS) PKI di Jalan Diponegoro turut Desa Sukorejo.

 

Adapun di masa sekarang, Sumur Ringin ketika malam sudah terang. Tidak lagi bikin merinding. Juga dibangun Taman Sumur Ringin yang rindang. (bgs/rij)

Sumur Ringin lokasinya dekat penjara. Dibangun masa kolonial Belanda. Dulu, ketika melintas gang bikin merinding. Kini, Sumur Ringin sudah terang, banyak penerangan.

BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro

 

TIDAK banyak Urban Legend Bojonegoro yang benar-benar ikonik dan masih hangat di ingatan masyarakat Bojonegoro kawasan perkotaan. Salah satu urban legend ialah angkernya kawasan Gang Sumur Ringin.

 

Setidaknya, anak kelahiran 1990-an sedikit banyak terpapar kisah seramnya gang tembusan Jalan Diponegoro dan Jalan dr Wahidin. Gang berada di utara Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bojonegoro, itu pun juga sepi.

 

Jawa Pos Radar Bojonegoro mendatangi lokasi tersebut akhir April lalu. Salah satu warga asli kelahiran Gang Sumur Ringin, Agung menyampaikan, bahwa alasan gang membujur timur-barat itu memiliki kesan angker tentu karena di zaman dulu minim sekali penerangan.

 

Ditambah ada sumur dinaungi pohon beringin tinggi besar. Sehingga, ketika melintas saat petang hingga malam di depan sumur rasa-rasanya merinding. “Karena sebelum melintas, biasanya orang-orang itu sudah dengar kalau Sumur Ringin itu angker,” ujarnya.

 

Pria kelahiran 1953 itu mengatakan, nama Sumur Ringin sudah ada sejak dirinya kecil. Bahkan, sejak era bapaknya lahir 1903, sudah bernama Sumur Ringin. Jadi bisa disimpulkan Sumur Ringin sudah ada sejak era kolonial Belanda.

Baca Juga :  Butuh Waktu Lama untuk Dapatkan Hasil Maksimal

 

Agung menggambarkan kondisi serta situasi Sumur Ringin di masa lampau tentu ada banyak perubahan. Dulu sisi timur Sumur Ringin belum berdiri Balai Kelurahan Kepatihan. Diperkirakan balai kelurahan dibangun era Orde Baru (orba).

 

“Sebelumnya sisi timur itu lapangan dimanfaatkan pedagang. Juga dimanfaatkan bermain anak-anak setempat,” tutur pria sekarang berdomisili di Kelurahan Sumbang itu.

 

Selain itu, lapangan dijadikan lokasi acara sedekah bumi atau manganan setahun sekali. Biasanya digelar pasca musim panen, sekitar Mei tepatnya Jumat Kliwon. Acara tahunan itu tidak ada lagi setelah dibangun balai kelurahan.

 

Keberadaan sumur tentu dimanfaatkan warga Kepatihan dan sekitarnya. Pohon menaungi sumur sebenarnya tidak selalu pohon beringin. “Dulu pohon beringin itu ambruk karena sudah tua. Sekitar 1960-an diganti pohon asam dan ambruk. Lalu diganti pohon beringin lagi,” imbuhnya.

 

Konon, Sumur Ringin itu dijadikan ahli spiritual atau metafisika sebagai medium melihat atau mencari orang yang tenggelam di Sungai Bengawan Solo. Juga ada beberapa masyarakat percaya air Sumur Ringin memiliki kesakralan. “Bahkan dulu ada orang dari Banten yang ambil air Sumur Ringin sebagai syarat ritual kepercayaan,” tuturnya.

Baca Juga :  Keabadian Warisan Kerajinan sejak 25 Tahun Lalu

 

Namun, apabila bicara tata letak di sekitar Sumur Ringin tak banyak berubah. Bangunan penjara sejak Agung lahir sudah ada. Lalu, bangunan rumah berdempetan di belakang penjara juga sudah dari dulu. Begitu pula bangunan SD Kepatihan tidak berpindah.

“Tapi berganti nama. Dulu namanya SR (sekolah rakyat) latihan, ganti SD Mardi Sunu, ganti SD Diponegoro, dan terakhir namanya SD Kepatihan,” bebernya.

 

Zaman dulu, mata pencaharian penduduk Sumur Ringin sebagian besar pegawai pemerintahan. Bisa dibilang dihuni para priyayi. Sama halnya penduduk sekitar Sumur Ringin, seperti Gang Srinayan maupun Gang Jiken.

 

Agung pun mengingat, semasa masih duduk di bangku SD salah satu rumah di Sumur Ringin dijadikan kantor Comite Resort (CR) Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu, di seberang timur Gang Sumur Ringin jadi kantor Comite Seksi (CS) PKI dan kantor Comite Sub Seksi (CSS) PKI di Jalan Diponegoro turut Desa Sukorejo.

 

Adapun di masa sekarang, Sumur Ringin ketika malam sudah terang. Tidak lagi bikin merinding. Juga dibangun Taman Sumur Ringin yang rindang. (bgs/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/