alexametrics
28.7 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Merekam Jejak Haji asal Bojonegoro Masa Hindia Belanda

Menuju Tanjung Perak, di Laut selama 2,5 Bulan

Era Pemerintahan Hindia-Belanda ternyata terdapat antusias warga Bojonegoro menunaikan ibadah haji. Penuh perjuangan karena harus naik kapal laut. Berangkat dari Tanjung Perak Surabaya. Lalu, menempuh perjalanan 2,5 bulan menuju Makkah. Proses haji awal sampai akhir hingga enam bulan.

 

BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro

 

“BARANG bawaan untuk haji sangat banyak. Kakek saya saat itu bawa empat koper berisi pakaian dan makanan. Karena perjalanannya di laut sekitar 2,5 bulan,” tutur Muth’im lelaki tinggal di Desa Sumuragung, Kecamatan Sumberejo itu.

 

Muth’im melihat langsung prosesi perjalanan ibadah haji dengan menaiki kapal laut. Saat itu, ia mengantarkan kakeknya menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, untuk naik kapal laut. Perjalanan ibadah haji tak sesingkat sekarang. Karena dulu perjalanan via kapal laut. Sedangkan, saat ini perjalanan via pesawat terbang.

 

Muth’im menceritakan, pernah mengantarkan kakeknya berangkat ibadah haji via kapal laut sekitar 1967 silam. Ia lumayan mengingat proses pemberangkatan dan pemulangan ibadah haji kakeknya tersebut.

 

Modal untuk ibadah haji, kakeknya menjual salah satu bidang tanahnya. Adapun berangkat dari Bojonegoro, Muth’im menemani kakeknya bersama kerabat keluarga menuju Surabaya naik truk milik Perhutani. ‘’Saat itu sewa truk,’’ ujar lelaki kelahiran Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro Kota itu.

 

Setibanya, di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Muth’im takjub ratusan orang hendak ibadah haji naik Kapal Gunung Jati. Kapal laut tersebut dioperasikan PT Arafat, perusahaan pelayanan perjalanan haji melalui laut. “Barang bawaan orang-orang (jemaah haji) sangat banyak,” ujar purnawirawan TNI itu.

 

Diperkirakan durasi di Arab Saudi sekitar 40 hari. Lalu pulang kembali ke Indonesia via kapal laut lagi dengan durasi sama yakni 2,5 bulan. Jadi diperkirakan totalnya ibadah haji dulu mencapai enam bulan.

Baca Juga :  Tanpa Beban, Tetap Harus Maksimal 

 

Muth’im juga ikut menjemput kakeknya saat tiba di Pelabuhan Tanjung Perak. Butuh waktu dua hari untuk menjemput kakeknya.

 

“Sebab, antrean menurunkan muatan sangat banyak. Jadi menunggu sampai dua hari baru bisa pulang ke Bojonegoro,” jelas.

 

Ia menambahkan, bahwa zaman dulu ada tradisi mengganti nama usai ibadah haji. “Dulu nama kakek saya Sarbini, usai ibadah haji mengganti nama menjadi Haji Muksin,” jelasnya.

 

Sementara itu, tidak banyak ditemukan literatur yang menceritakan proses pemberangkatan maupun pemulangan jemaah haji asal Bojonegoro. Salah satu rujukan Jawa Pos Radar Bojonegoro ialah situsweb delpher.nl yang memiliki arsip berupa buku, koran, dan majalah di masa kolonial.

 

Ternyata ada sebuah buku memoar perjalanan haji Bupati Bandung Raden Adipati Aria Wiranatakoesoema V. Bukunya berjudul Mijn reis naar Mekka (Perjalanan Saya ke Mekkah) terbit pada 1925. Di buku tersebut, Wiranatakoesoema V berangkat haji menggunakan kapal uap pada 23 Maret 1928.

 

Ia mengisahkan pada 2 April sudah ada satu jemaah haji meninggal dunia di kapal. “Sore itu juga dia meninggal dan mayatnya dilarung ke laut. Semua orang telah melihat bagaimana seorang jemaah haji ini kehilangan nyawanya dalam perjalanan ke tujuan besar. Banyak yang hadir ketika tubuhnya dilarung ke laut,” tulisnya.

 

Selama perjalanan, Bupati Bandung periode 1920-1931 dan 1935-1945 itu berbaur dengan seluruh penumpang kapal dari Sulawesi, Sumba, Surabaya, Padang, dan Madura. Di buku setebal 150 halaman itu, pria kelahiran 1888 itu menceritakan ragam kegiatan selama di atas kapal. Seperti salat berjemaah maupun membaca Alquran.

Baca Juga :  Seperti Tasyakuran, Ada Tumpeng tapi Berisi Buku

Pada halaman ke-23, dia menceritakan ada seorang haji tua dari Bojonegoro yang pergi ke Makkah. Bukan sekali, haji tua itu sudah kali keempat. Seorang haji tua itu bersama empat puluh jemaah asal Bojonegoro.

 

“Ia mengatakan akan mendesak bupatinya untuk segera melakukan perjalanan ibadah haji,” tulisnya.

 

Wiranatakoesoema V itu tiba di Jeddah, Arab Saudi, kurang dari satu bulan, tepatnya 13 April. Saat itu sedang puasa Ramadan, sehingga suasana di jalanan sepi tidak ada orang berjualan.

 

Pria juga merupakan Menteri Dalam Negeri Indonesia pertama itu melakukan ibadah haji tepat sebelum penaklukan Ibnu Saud atas Hijaz pada 1925. Sebab, perlu diketahui ibadah haji tidak dapat berlangsung akibat perang di Arab pada 1925. Ibadah haji dibuka kembali pada 1926.

 

Temuan catatan lainnya dari koran masa kolonial De Locomotief edisi 1 November 1939. Di koran itu dituliskan bahwa sebanyak 25 orang mendaftar ibadah haji dan 10 di antaranya merupakan jemaah haji asal Bojonegoro.

 

Hal tersebut merupakan bukti bahwa antusias warga Bojonegoro menunaikan ibadah haji cukup tinggi. Juga bukti bahwa di masa kolonial ada beberapa warga Bojonegoro memiliki modal uang cukup untuk melakukan perjalanan ibadah haji.

 

Diperkirakan perjalanan menuju Makkah via kapal laut membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua bulan. Lantaran jemaah haji Bojonegoro yang daftar pada November 1939 itu akan jalani ibadah haji pada 21 Januari 1940 yang mana merupakan Hari Raya Iduladha. (bgs/rij)

Era Pemerintahan Hindia-Belanda ternyata terdapat antusias warga Bojonegoro menunaikan ibadah haji. Penuh perjuangan karena harus naik kapal laut. Berangkat dari Tanjung Perak Surabaya. Lalu, menempuh perjalanan 2,5 bulan menuju Makkah. Proses haji awal sampai akhir hingga enam bulan.

 

BHAGAS DANI PURWOKO, Radar Bojonegoro

 

“BARANG bawaan untuk haji sangat banyak. Kakek saya saat itu bawa empat koper berisi pakaian dan makanan. Karena perjalanannya di laut sekitar 2,5 bulan,” tutur Muth’im lelaki tinggal di Desa Sumuragung, Kecamatan Sumberejo itu.

 

Muth’im melihat langsung prosesi perjalanan ibadah haji dengan menaiki kapal laut. Saat itu, ia mengantarkan kakeknya menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, untuk naik kapal laut. Perjalanan ibadah haji tak sesingkat sekarang. Karena dulu perjalanan via kapal laut. Sedangkan, saat ini perjalanan via pesawat terbang.

 

Muth’im menceritakan, pernah mengantarkan kakeknya berangkat ibadah haji via kapal laut sekitar 1967 silam. Ia lumayan mengingat proses pemberangkatan dan pemulangan ibadah haji kakeknya tersebut.

 

Modal untuk ibadah haji, kakeknya menjual salah satu bidang tanahnya. Adapun berangkat dari Bojonegoro, Muth’im menemani kakeknya bersama kerabat keluarga menuju Surabaya naik truk milik Perhutani. ‘’Saat itu sewa truk,’’ ujar lelaki kelahiran Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro Kota itu.

 

Setibanya, di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Muth’im takjub ratusan orang hendak ibadah haji naik Kapal Gunung Jati. Kapal laut tersebut dioperasikan PT Arafat, perusahaan pelayanan perjalanan haji melalui laut. “Barang bawaan orang-orang (jemaah haji) sangat banyak,” ujar purnawirawan TNI itu.

 

Diperkirakan durasi di Arab Saudi sekitar 40 hari. Lalu pulang kembali ke Indonesia via kapal laut lagi dengan durasi sama yakni 2,5 bulan. Jadi diperkirakan totalnya ibadah haji dulu mencapai enam bulan.

Baca Juga :  Produsen Keripik Bonggol Pisang, Awalnya Diremehkan, Sekarang Boming

 

Muth’im juga ikut menjemput kakeknya saat tiba di Pelabuhan Tanjung Perak. Butuh waktu dua hari untuk menjemput kakeknya.

 

“Sebab, antrean menurunkan muatan sangat banyak. Jadi menunggu sampai dua hari baru bisa pulang ke Bojonegoro,” jelas.

 

Ia menambahkan, bahwa zaman dulu ada tradisi mengganti nama usai ibadah haji. “Dulu nama kakek saya Sarbini, usai ibadah haji mengganti nama menjadi Haji Muksin,” jelasnya.

 

Sementara itu, tidak banyak ditemukan literatur yang menceritakan proses pemberangkatan maupun pemulangan jemaah haji asal Bojonegoro. Salah satu rujukan Jawa Pos Radar Bojonegoro ialah situsweb delpher.nl yang memiliki arsip berupa buku, koran, dan majalah di masa kolonial.

 

Ternyata ada sebuah buku memoar perjalanan haji Bupati Bandung Raden Adipati Aria Wiranatakoesoema V. Bukunya berjudul Mijn reis naar Mekka (Perjalanan Saya ke Mekkah) terbit pada 1925. Di buku tersebut, Wiranatakoesoema V berangkat haji menggunakan kapal uap pada 23 Maret 1928.

 

Ia mengisahkan pada 2 April sudah ada satu jemaah haji meninggal dunia di kapal. “Sore itu juga dia meninggal dan mayatnya dilarung ke laut. Semua orang telah melihat bagaimana seorang jemaah haji ini kehilangan nyawanya dalam perjalanan ke tujuan besar. Banyak yang hadir ketika tubuhnya dilarung ke laut,” tulisnya.

 

Selama perjalanan, Bupati Bandung periode 1920-1931 dan 1935-1945 itu berbaur dengan seluruh penumpang kapal dari Sulawesi, Sumba, Surabaya, Padang, dan Madura. Di buku setebal 150 halaman itu, pria kelahiran 1888 itu menceritakan ragam kegiatan selama di atas kapal. Seperti salat berjemaah maupun membaca Alquran.

Baca Juga :  Telurkan Puluhan Karya, Fokus Kembangkan Musisi Lokal

Pada halaman ke-23, dia menceritakan ada seorang haji tua dari Bojonegoro yang pergi ke Makkah. Bukan sekali, haji tua itu sudah kali keempat. Seorang haji tua itu bersama empat puluh jemaah asal Bojonegoro.

 

“Ia mengatakan akan mendesak bupatinya untuk segera melakukan perjalanan ibadah haji,” tulisnya.

 

Wiranatakoesoema V itu tiba di Jeddah, Arab Saudi, kurang dari satu bulan, tepatnya 13 April. Saat itu sedang puasa Ramadan, sehingga suasana di jalanan sepi tidak ada orang berjualan.

 

Pria juga merupakan Menteri Dalam Negeri Indonesia pertama itu melakukan ibadah haji tepat sebelum penaklukan Ibnu Saud atas Hijaz pada 1925. Sebab, perlu diketahui ibadah haji tidak dapat berlangsung akibat perang di Arab pada 1925. Ibadah haji dibuka kembali pada 1926.

 

Temuan catatan lainnya dari koran masa kolonial De Locomotief edisi 1 November 1939. Di koran itu dituliskan bahwa sebanyak 25 orang mendaftar ibadah haji dan 10 di antaranya merupakan jemaah haji asal Bojonegoro.

 

Hal tersebut merupakan bukti bahwa antusias warga Bojonegoro menunaikan ibadah haji cukup tinggi. Juga bukti bahwa di masa kolonial ada beberapa warga Bojonegoro memiliki modal uang cukup untuk melakukan perjalanan ibadah haji.

 

Diperkirakan perjalanan menuju Makkah via kapal laut membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua bulan. Lantaran jemaah haji Bojonegoro yang daftar pada November 1939 itu akan jalani ibadah haji pada 21 Januari 1940 yang mana merupakan Hari Raya Iduladha. (bgs/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Manajer Kecewa

Hujan, Awas Pohon Tumbang

Artikel Terbaru


/