Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Tumpukan Sampah Bojonegoro Meningkat 312 Ton dari Tahun Lalu

Dewi Safitri • Kamis, 18 Desember 2025 | 14:15 WIB
MENGANGKUT SAMPAH: Petugas kebersihan mengangkut sampah di Alun-Alun Bojonegoro untuk dibuang di TPA.
MENGANGKUT SAMPAH: Petugas kebersihan mengangkut sampah di Alun-Alun Bojonegoro untuk dibuang di TPA.

 

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Volume sampah terus bertambah. Berdasar satu data Bojonegoro, dalam dua tahun terakhir, tumpukan sampah di Bojonegoro selalu meningkat.

Dari 133.639,42 ton timbulan sampah di 2023. Meningkat menjadi 134.329,37 di 2024. Kembali mengalami peningkatan timbulan volume sampah menjadi sekitar 134.641,67 ton di 2025.

Artinya, sampah di Bojonegoro meningkat sekitar 312,3 ton di tahun ini.

Dari sumber data yang sama di 2025, jumlah pengurangan sampah di Bojonegoro tercatat 19,37 persen atau setara dengan 26.082,97 ton. Angka penanganan sampah 15,82 persen atau 21.297,39 ton.

Dengan jumlah sampah terkelola sekitar 47.380,36 ton atau 35,19 persen. Dan, jumlah sampah tidak terkelola mencapai 64,81 persen, setara dengan 87.261,31 ton di tahun ini.

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menyampaikan, persoalan sampah juga menjadi isu strategis yang membutuhkan perubahan perilaku dan aksi nyata di tingkat lokal.

Melalui Surat Edaran (SE) Bupati tentang Pengelolaan Sampah, seluruh elemen masyarakat diajak untuk terlibat aktif. Mulai dari pemilahan sampah di sumbernya, penguatan bank sampah, pengolahan sampah organik melalui komposting, hingga integrasi program lingkungan dalam anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes) dan kurikulum sekolah.

Program Satu Desa, Satu Bank Sampah juga terus didorong sebagai bagian dari upaya mewujudkan ekonomi sirkular dan lingkungan yang berkelanjutan.

Pria asli Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo tersebut menegaskan, tanggung jawab menjaga lingkungan tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi merupakan kewajiban seluruh masyarakat.

“Lingkungan bukan hanya urusan pemerintah. Seluruh rakyat juga punya kewajiban untuk menjaga. Kerusakan lingkungan banyak dipengaruhi oleh teknologi, kebutuhan yang terus meningkat, serta perubahan pola hidup,” ujarnya dalam kegiatan Penyerahan Penghargaan Lingkungan Hidup 2025 di Pandapa Malowopati, Selasa (16/12).

Bupati juga menyoroti bencana alam yang terjadi di beberapa daerah akhir-akhir ini. Menurutnya, kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini, tidak lepas dari perkembangan teknologi dan meningkatnya kebutuhan manusia.

Untuk itu, kesadaran lingkungan perlu didorong, salah satunya dalam lingkungan sekolah. Peran guru dinilai sangat strategis dalam hal ini. Karena tidak hanya mendidik, tetapi juga memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Harus membiasakan anak-anak sejak awal dan itu dimulai dari diri kita sendiri, tentang kebiasaan menjaga lingkungan,” lanjutnya.

Aktivis Lingkungan Bojonegoro Endang Riya menilai, timbulnya volume sampah di Bojonegoro yang semakin naik cukup memprihatinkan.

Untuk itu, perlu diinventarisir sumber-sumber sampah tersebut dari mana. Apakah sampah rumah tangga, pabrik, industri, atau dari pasar yang kemudian berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Kemudian, dilakukan identifikasi langkah apa yang harus dilakukan.

“Cukup memprihatinkan, jangan sampai Bojonegoro mengalami darurat sampah seperti di Jogja beberapa tahun lalu,” ujarnya.

Infografis volume sampah di Bojonegoro (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Infografis volume sampah di Bojonegoro (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

Menurutnya, berbagai masalah sumber memiliki penanganan tersendiri. Namun, paling sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan memilah sampah. Salah satunya, melalui penyediaan sampah berbasis 3 R (reduce, reuse, recycle).

“Meski realisasi di lapangan sedikit sulit. Karena paling berat adalah penyadaran individu  terhadap pembuangan atau pengolahan sampah itu sendiri,” tambahnya.

Dari banyaknya volume sampah, lanjut Riya sapaannya, harus diidentifikasi. Apa termasuk sampah plastik, organik, atau residu. Dari jenis sampah tersebut, dapat ditentukan penanganan untuk pengelolaannya.

“Sampah plastik dapat dimanfaatkan menjadi barang yang bernilai, seperti paving blok. Solusi untuk sampah organik, bisa dimanfaatkan sebagai pupuk atau kesediaan pakan untuk maggot. Dan, sampah residu bisa diolah atau dihancurkan di tempat pembuangan,” bebernya. (ewi/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Limbah #bupati bojonegoro #Sampah #lingkungan #pengurangan sampah #TPA #pengelolaan sampah #volume sampah #bojonegoro #Setyo Wahono #Tumpukan Sampah #bank sampah #APBDes