BERAGAM alasan orang tua mengizinkan sang anak yang masih berusia di bawah 17 tahun atau masih duduk di bangku SMP mengendarai sepeda motor. Karena tidak bisa mengantarkan ke sekolah, jarak sekolah dengan rumah yang jauh, serta tidak adanya angkutan umum menuju sekolah.
Mirisnya, tak jarang pihak sekolah menyediakan tempat parkir motor. Terkadang tetangga sekolah yang menyediakan lahan parkir. Ironisnya lagi, tiap tahun selalu ada korban laka lantas dari usia pelajar. Per Januari-Juli 2024 pun sudah ada lima pelajar meninggal dunia di jalan raya.
Salah satu wali murid asal Kecamatan Temayang mengatakan, mayoritas siswa SMP di daerahnya menggunakan motor ke sekolah. Namun, saat ini sudah mengalami penurunan, tidak sebanyak beberapa tahun lalu.
Karena sudah banyak sekolah yang memiliki kendaraan khusus untuk mengantar dan menjemput para siswanya ke sekolah. ’’Dulu siswa SMP yang menggunakan motor 60 persen, 40 persen lainnya diantar. Sekarang kebalikannya, bahkan bisa jadi lebih sedikit,” ujar laki-laki enggan disebutkan namanya tersebut.
Dia menyampaikan, awalnya beberapa sekolah justru menyediakan parkir khusus untuk motor di siswa SMP. Karena sebelumnya motor siswa ditaruh di luar sekolah dan hilang. Namun, rerata saat ini sudah tidak ada. Karena ada pengadaan bus sekolah atau semacamnya.
’’Di Temayang rerata sudah memiliki bus sekolah. Seperti, SMPN 1 Temayang ada satu bus dan elf. Begitu pun dengan SMP Islam Temayang dan MTS Islamiyah. Tapi, setahu saya di SMP Islam Temayang masih ada tempat parkir motor di sekolah,” katanya.
’’Saya sendiri tidak setuju kalau anak-anak pakai motor, lebih setuju pakai bus karena aman dan nyaman. Namun, mengingat bus yang melintas sangat jarang, jadi sangat mendukung kebijakan pengadaan bus sekolah,” tambahnya.
Dia berharap, semua sekolah bisa memfasilitasi adanya bus. Untuk yang sudah ada, bisa ditambah agar benar-benar mencukupi kebutuhan siswa. Karena dengan adanya bus sekolah, maka kecelakaan pelajar juga dapat berkurang.
Terpisah, Iswanti juga sangat khawatir dengan fenomena siswa SMP sudah mengendarai sepeda motor. Ibu asal Kecamatan Gondang itu menilai, siswa SMP masih dalam tahap perkembangan, baik fisik maupun mental.
’’Mereka belum memiliki pengalaman berkendara yang cukup. Sehingga, risiko kecelakaan sangat tinggi. Selain itu, mereka juga sering kali tidak mematuhi peraturan lalu lintas. Sebagai orang tua, saya merasa kewajiban kita untuk menjaga keselamatan anak-anak,” tuturnya. (ewi/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana