Ketua Yayasan Masjid Agung Darussalam Lugito Abdul Kodir mengatakan, bahwa Masjid Darussalam dibangun pada 1825 atau 198 tahun yang lalu. Sebelumnya, masjid tersebut dibangun tanah wakaf seorang ulama era penjajahan Belanda. Yakni Pangrehing Projo atau dikenal Patih Pahal. Lalu, masjid dibangun bersama masyarakat.
‘’Rerata pedagang hilir mudik di wilayah Pasar Kota Bojonegoro, melalui transportasi utama yaitu Sungai Bengawan Solo,” jelasnya.
Menurut Lugito, keberadaan Masjid Darussalam tidak bisa lepas dari keberadaan pusat pemerintahan, pasar, dan alun-alun. Hal tersebut membuat keberadaan Masjid Darussalam semakin kokoh dan menjadi bagian dari macapat sejarah Kabupaten Bojonegoro. ‘’Pendapa, alun-alun, pasar, dan masjid, satu kesatuan sejak siar agama Islam pada zaman Wali Sanga,” tutur Lugito.
Masjid Darussalam mengalami renovasi delapan kali. Awalnya, bangunan masjid didominasi kayu jati. Lantai pertama memiliki empat tiang penyangga disebut saka guru. Empat tiang kayu jati ini selalu dipertahankan karena pertimbangan nilai sejarah tinggi dan diyakini sudah ada sejak pembangunan kali pertama.
Tiang penyangga tersebut sempat akan dirobohkan saat renovasi, tetapi kesulitan. Akhirnya tetap dipertahankan sampai saat ini. ‘’Meski sudah tidak memiliki fungsi sebagai penyangga,” ujarnya.
Luas bangunan masjid 2.422 meter persegi. Luas keseluruhan area masjid 3.562 meter persegi, mampu menampung 1.100 jemaah.
Edo salah satu jemaah mengatakan, biasa menunggu waktu berbuka di teras masjid selama puasa. ‘’Bangunan masjid yang teduh,” ujarnya. (dan/rij) Editor : M. Yusuf Purwanto